Padang, Rakyatterkini.com – Universitas Negeri Padang (UNP) terus mendorong peningkatan kualitas pembinaan olahraga di lingkungan sekolah melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB).
Upaya tersebut diwujudkan lewat kegiatan bertajuk “Sentuhan Sport Science Berbasis Kepelatihan Olahraga bagi Guru PJOK dalam Rangka Pembinaan Ekstrakurikuler di Sekolah” yang digelar di SDN 10 Sapiran, Kota Bukittinggi, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Ikatan Guru Olahraga Nasional (IGORNAS) Provinsi Sumatera Barat, sementara pelaksanaannya di Kota Bukittinggi didukung IGORNAS Kota Bukittinggi sebagai tuan rumah.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendorong pembinaan olahraga di sekolah yang tidak hanya mengandalkan pengalaman praktik, tetapi juga menerapkan prinsip-prinsip ilmu olahraga. Aspek yang diperkenalkan meliputi ilmu kepelatihan, perkembangan peserta didik, fisiologi dan kemampuan motorik, psikologi olahraga, identifikasi bakat, hingga upaya pencegahan cedera.
Penerapan sport science diharapkan dapat membantu guru PJOK menyusun program ekstrakurikuler secara lebih terukur, aman, fleksibel, serta menyesuaikan dengan usia dan karakteristik siswa.
Kegiatan PkM ini dikoordinasikan Dr. Roma Irawan bersama Dr. Ikhwanul Arifan, Indri Wulandari, dan Candidat (Dr.) Romi Mardela. Para anggota tersebut merupakan dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNP. Tim juga menggandeng Rinaldi, dosen FPK UNP yang memiliki kompetensi dalam psikologi anak.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh berbagai materi kepelatihan. Dr. Ronni Yenes, S.Pd., M.Pd., memberikan materi mengenai manajemen olahraga dan ilmu kepelatihan untuk pembinaan usia sekolah.
Materi tersebut mengulas bagaimana menyusun perencanaan latihan, melaksanakan program, mengorganisasi kegiatan, hingga melakukan evaluasi. Guru juga mendapatkan pemahaman mengenai pengaturan beban, intensitas, volume, jenis latihan, serta metode pembelajaran yang disesuaikan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sementara itu, Dr. Vega Soniawan menyampaikan materi tentang pencegahan cedera dalam aktivitas olahraga. Pembahasannya mencakup pengenalan risiko cedera, kesiapan fisik, pemanasan, pengaturan beban latihan, serta langkah awal ketika terjadi cedera.
Menurut materi tersebut, aspek keselamatan perlu menjadi perhatian dalam kegiatan ekstrakurikuler agar peningkatan kemampuan olahraga siswa tetap berjalan seimbang dengan perlindungan kesehatan dan kesinambungan latihan.
Materi berikutnya berupa Talent Identification atau identifikasi bakat olahraga disampaikan Candidat (Dr.) Romi Mardela, S.Pd., M.Pd. Ia menjelaskan bahwa proses menemukan potensi atlet muda perlu dilakukan secara objektif dan tidak hanya berdasarkan hasil pertandingan.
“Identifikasi potensi perlu dilakukan secara objektif dan berkelanjutan. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan memenangkan pertandingan, tetapi juga mencakup karakteristik antropometri, kemampuan biomotor, koordinasi gerak, keterampilan teknik, kapasitas fisik, respons terhadap pembelajaran, serta aspek psikologis dan motivasi,” katanya.
Dari sisi psikologis, Rinaldi, S.Psi., M.Si., memberikan materi mengenai psikologi berprestasi bagi anak di sekolah. Ia menyoroti sejumlah faktor yang perlu dikembangkan dalam proses pembinaan, seperti motivasi, rasa percaya diri, kedisiplinan, kemampuan mengendalikan emosi, konsentrasi, keberanian menghadapi tantangan, dan kerja sama.
“Guru PJOK dan pelatih ekstrakurikuler berperan menciptakan lingkungan latihan yang menantang sekaligus aman secara psikologis,” ujarnya.
Selain pembelajaran secara teori, peserta juga mengikuti praktik kepelatihan futsal. Materi praktik mencakup coaching process dan coaching method, mulai dari tahap penyusunan program, pelaksanaan latihan, observasi, pemberian umpan balik, koreksi, hingga evaluasi.
Peserta juga diarahkan memahami cara menentukan metode latihan berdasarkan sasaran yang ingin dicapai serta karakteristik siswa. Dalam praktik futsal, berbagai kemampuan seperti teknik dasar, pengambilan keputusan, pemahaman permainan, komunikasi, dan kebugaran fisik dilatih melalui simulasi yang mendekati situasi pertandingan.
Candidat (Dr.) Irfan Oktavianus, S.Pd., M.Pd., turut memberikan materi pemanasan dan latihan kondisi fisik dengan pendekatan berbasis permainan. Metode ini dapat digunakan guru PJOK untuk mengembangkan kecepatan, kelincahan, koordinasi, daya tahan, kekuatan, serta kecepatan reaksi siswa dengan suasana latihan yang lebih menarik.
Selain aspek fisik, permainan juga dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir, komunikasi, interaksi sosial, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, aktivitas latihan tetap menyenangkan sekaligus memiliki target dan indikator yang dapat diukur.
Ketua PkM, Dr. Roma Irawan, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pembinaan olahraga sekolah yang mengintegrasikan ilmu kepelatihan dengan berbagai disiplin pendukung.
“Pengembangan olahraga di sekolah membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, guru, pelatih, dan peserta didik,” ujarnya.
Melalui skema PPUB, UNP berupaya membawa hasil kajian dan perkembangan ilmu keolahragaan agar dapat diterapkan secara langsung dalam proses pembinaan di sekolah. Guru PJOK diharapkan mampu memanfaatkan prinsip sport science mulai dari penyusunan program latihan, pemilihan metode, pengaturan beban, pencegahan cedera, identifikasi bakat, pengembangan mental, hingga evaluasi.
Kerja sama UNP dengan IGORNAS Sumatera Barat dan IGORNAS Kota Bukittinggi juga diharapkan dapat memperluas jejaring pembinaan olahraga secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, guru PJOK tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pengajar pendidikan jasmani, tetapi turut berperan dalam pembinaan olahraga pada kelompok usia sekolah.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya pembinaan olahraga yang lebih ilmiah, sistematis, aman, adaptif, dan berkesinambungan. Perpaduan antara sport science dan pengalaman kepelatihan diharapkan mampu mendukung peningkatan kemampuan olahraga siswa sekaligus membangun karakter, kesehatan fisik dan psikologis, kemampuan bekerja sama, serta pengalaman belajar melalui aktivitas olahraga.
Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi UNP Berdampak dengan memanfaatkan pengetahuan dan keahlian perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam meningkatkan mutu pembinaan olahraga di satuan pendidikan Sumatera Barat.
Roma menambahkan, peserta kegiatan merupakan utusan IGORNAS dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Mereka berasal dari Kota Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, Kabupaten Agam, Pasaman, Tanah Datar, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.(da*)


