Notification

×

Iklan

Rupiah Menguat ke Rp17.992 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:33 WIB Last Updated 2026-10-20T15:33:00Z

Nilai tukar rupiah menguat 54 poin 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Rupiah naik 54 poin atau sebesar 0,30 persen ke posisi Rp17.992 per dolar AS, sekaligus kembali berada di bawah level Rp18.000.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik.

Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait pencabutan sejumlah sanksi dan tarif utama terhadap Rusia. Kebijakan yang diumumkan pada Jumat malam itu mencakup bea masuk atas barang-barang Rusia serta sanksi terhadap pihak yang membeli minyak dan gas dari negara tersebut.

Meski demikian, Trump pada Sabtu menyampaikan bahwa keputusan final belum ditetapkan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyebutkan bahwa pemerintah masih membutuhkan waktu untuk menelaah perkembangan situasi tersebut.

“Namun, pada hari Sabtu, Trump menyatakan bahwa ia belum mengambil keputusan akhir terkait masalah ini, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan bahwa para pejabat memerlukan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi situasi tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Faktor geopolitik lainnya datang dari kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi di Yaman yang memiliki hubungan dengan Iran pada Senin mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah sasaran energi, bandara, dan fasilitas militer di Arab Saudi.

Beberapa lokasi yang disebut menjadi target serangan antara lain fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta bandara di Abha.

Namun, otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung atas klaim tersebut. Reuters juga menyatakan belum dapat memverifikasi informasi itu secara independen.

Perkembangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan dan keberlangsungan pasokan energi global. Risiko gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah turut menopang harga minyak yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Di sisi lain, pernyataan terbaru sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan adanya peluang untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut. Kendati demikian, belum ada sinyal tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober mendatang.

Ketua The Fed Kevin Warsh, ketika berbicara di Bangkok pada Jumat, juga tetap mempertahankan sikapnya untuk tidak memberikan arahan kebijakan secara spesifik kepada pasar.

Sepanjang pekan ini, tidak dijadwalkan adanya pidato pejabat The Fed karena bank sentral AS tersebut memasuki masa tenang atau blackout period menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober.

Realisasi Investasi Indonesia Jadi Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, perkembangan investasi nasional menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar. Realisasi investasi Indonesia selama Januari hingga September 2026 tercatat mencapai Rp1.539,2 triliun, setara 75,4 persen dari target tahunan.

Investasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2.194.496 orang. Khusus pada triwulan III 2026, realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun.

Berdasarkan sumber penanam modal, investasi selama sembilan bulan pertama tahun ini terdiri atas penanaman modal asing (PMA) senilai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.

Jika dihitung sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026, total realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai Rp3.923,2 triliun.

Nilai investasi kumulatif tersebut telah menyerap 5.485.944 tenaga kerja. Berdasarkan wilayah, investasi di Pulau Jawa tercatat sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen, sedangkan wilayah luar Jawa mencapai Rp2.031 triliun atau 51,8 persen.

Dari sisi sumber modal, PMDN berkontribusi sebesar Rp1.998,7 triliun atau 50,9 persen. Adapun PMA mencapai Rp1.924,5 triliun atau 49,1 persen.

Pemerintah sendiri telah menetapkan target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun untuk periode 2024–2029. Target tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

Mencermati berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak dinamis pada perdagangan berikutnya. Rupiah diproyeksikan berpotensi melemah dengan kisaran pergerakan Rp17.900 hingga Rp18.040 per dolar AS.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update