Notification

×

Iklan

Tokoh Masyarakat Diminta Jadi Penyejuk Nagari

Selasa, 08 September 2026 | 12:04 WIB Last Updated 2026-09-08T05:04:22Z


Tanah Datar, Rakyatterkini.com — Tokoh masyarakat memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan adat. Karena menjadi salah satu panutan warga, setiap ucapan yang disampaikan memiliki dampak yang besar terhadap cara masyarakat memahami sebuah persoalan.

Terlebih di tengah perkembangan media digital. Pernyataan seorang tokoh tidak lagi hanya didengar dalam pertemuan adat atau lingkungan nagari, tetapi dapat tersebar luas melalui media sosial dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut membuat tokoh masyarakat perlu mengedepankan sikap bijak. Perannya idealnya menjadi sumber edukasi, pemberi informasi yang menenangkan, sekaligus penjaga persatuan, bukan menyampaikan narasi yang belum terverifikasi hingga berpotensi menimbulkan perpecahan.

Polemik terkait rencana pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi menjadi salah satu contoh pentingnya ketelitian dalam menyampaikan informasi kepada publik. Persoalan ini muncul setelah Angku Basrizal menyampaikan pandangannya melalui sebuah kanal YouTube.

Dalam tayangan tersebut, Angku Basrizal mengkritik ketidakhadiran Anak Nagari yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, S.Psi, dalam sejumlah pertemuan yang membahas persoalan strategis tersebut.

Pernyataan yang menyebut Ahmad Fadly seolah tidak memiliki kepedulian kemudian berkembang di tengah masyarakat. Namun, persoalan itu selanjutnya mendapat penjelasan langsung dari pihak Wakil Bupati.

Klarifikasi Ahmad Fadly

Ahmad Fadly menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah mendapatkan undangan resmi untuk mengikuti rapat yang dimaksud. Hal itu berlaku baik ketika dirinya ditempatkan dalam kapasitas sebagai pejabat pemerintah daerah maupun sebagai Anak Nagari Panyalaian.

Ia bahkan membuka ruang bagi masyarakat untuk melakukan pengecekan kepada sejumlah unsur terkait, seperti Ketua KAN, Wali Nagari, maupun BPRN Nagari Panyalaian.

Menurut penjelasan tersebut, tidak hadir karena memang tidak memperoleh undangan tentu memiliki makna yang berbeda dengan sengaja tidak hadir karena tidak peduli.

Perbedaan inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Setiap persoalan idealnya terlebih dahulu dikonfirmasi agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru.

Prinsip tabayyun atau memastikan kebenaran informasi menjadi penting, terutama bagi tokoh yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Informasi yang disampaikan tanpa verifikasi dapat berdampak terhadap nama baik seseorang sekaligus mengganggu hubungan sosial di tengah nagari.

Tokoh Masyarakat Harus Menjadi Pemersatu

Persoalan Tol Sicincin–Bukittinggi setidaknya memberikan gambaran mengenai beberapa prinsip yang perlu dijaga tokoh masyarakat.

Pertama, mengedepankan fakta dan data. Tokoh masyarakat semestinya memberikan informasi berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kesimpulan yang dibangun dari asumsi kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Kedua, menjaga persatuan masyarakat. Kritik tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi. Namun, penyampaiannya hendaknya tidak membangun kesan bahwa seorang pejabat daerah berseberangan dengan masyarakat atau nagarinya sendiri. Narasi semacam itu justru berisiko menciptakan polarisasi.

Ketiga, memahami posisi adat dan pemerintahan. Dalam persoalan pembangunan, terdapat mekanisme adat sekaligus jalur pemerintahan yang harus dihormati.

Ahmad Fadly dinilai telah menunjukkan sikap tersebut. Sebagai bagian dari masyarakat nagari, ia tetap menghargai keputusan Niniak Mamak serta Datuak/Panghulu kaum yang tanahnya terdampak pembangunan.

Pada saat bersamaan, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Bupati Tanah Datar, ia menyatakan dukungan terhadap program strategis pemerintah selama pembangunan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satu bentuknya terlihat dari kehadirannya dalam rapat koordinasi di Padang Panjang pada 5 Juni 2026.

Masyarakat Perlu Lebih Kritis

Sikap Ahmad Fadly yang tetap mengapresiasi perhatian Angku Basrizal, namun menyayangkan adanya informasi yang dinilai tidak sesuai fakta, dapat dilihat sebagai bentuk kedewasaan dalam menghadapi polemik.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting. Warga nagari, khususnya pengguna media sosial, perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Popularitas seorang tokoh maupun besarnya sebuah kanal media sosial tidak otomatis membuat setiap informasi yang disampaikan menjadi benar. Masyarakat tetap perlu melihat fakta, mencari sumber pembanding, dan melakukan konfirmasi.

Pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi merupakan persoalan strategis yang membutuhkan pembahasan secara rasional, terbuka, dan berdasarkan data. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk mencari solusi, bukan alasan untuk memperuncing perpecahan.

Tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga suasana tetap kondusif serta merawat hubungan antarwarga. Di ranah Minang, peran tersebut semestinya kembali pada hakikatnya: menjadi pemimpin yang menunjukkan jalan dan memberikan pencerahan, bukan membuat keadaan yang semula jernih menjadi keruh.(Farid)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update