Padang, Rakyatterkini.com – Bagi sebagian masyarakat Minangkabau, kenikmatan menyantap nasi tidak hanya ditentukan oleh lauk yang menemani. Tekstur nasi juga menjadi bagian penting dalam pengalaman menikmati makanan.
Ada jenis nasi yang dinilai lebih cocok disantap bersama rendang, gulai, maupun sambalado. Salah satunya adalah nasi badarai, yakni nasi dengan butiran yang cenderung terpisah dan tidak mudah menggumpal.
Di Sumatera Barat, nasi badarai atau nasi pera yang juga disebut poro oleh sebagian masyarakat, telah lama menjadi bagian dari kebiasaan makan. Teksturnya yang berderai dan relatif kokoh saat dikunyah membuat sejumlah varietas beras lokal seperti Anak Daro, Kuriak Kusuik, dan Cisokan tetap dikenal dan diminati.
Preferensi terhadap nasi pera tersebut kemudian kerap dikaitkan dengan pemasaran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Sumatera Barat.
Meski demikian, anggapan bahwa masyarakat Minangkabau tidak menyukai beras pulen perlu disikapi secara proporsional. Selera konsumen berbeda-beda dan keputusan membeli beras juga dipengaruhi oleh harga, kualitas, ketersediaan, serta kebiasaan makan di masing-masing keluarga.
1. Selera Nasi yang Terbentuk dari Kebiasaan
Kecenderungan memilih nasi badarai bukanlah sesuatu yang terbentuk secara tiba-tiba. Preferensi tersebut berkembang melalui kebiasaan makan yang diwariskan dalam keluarga dari generasi ke generasi.
Sejumlah kajian mengenai preferensi beras di Sumatera Barat menunjukkan tekstur nasi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan konsumen. Varietas seperti IR42 dan Cisokan, misalnya, dikenal memiliki karakter nasi pera dan telah lama dibudidayakan di daerah tersebut.
Bagi sebagian keluarga, mengganti jenis beras yang telah lama dikonsumsi bukan perkara mudah. Perbedaan tekstur dapat memengaruhi sensasi makan dan kecocokan dengan hidangan yang sudah familiar sejak masa kanak-kanak.
2. Tekstur Nasi dan Hidangan Minang
Hidangan seperti rendang, gulai, dan sambal lado memiliki cita rasa kuat dengan penggunaan rempah yang khas. Dalam sajian tersebut, tekstur nasi turut memberikan pengalaman tersendiri ketika disantap bersama lauk dan kuah.
Nasi badarai memiliki butiran yang relatif terpisah sehingga tidak cepat menggumpal ketika bercampur dengan lauk maupun kuah. Karakter inilah yang membuatnya disukai oleh konsumen yang terbiasa dengan nasi bertekstur pera.
Namun, bukan berarti nasi pulen tidak dapat dipadukan dengan masakan Minang. Selera setiap orang berbeda. Selain jenis beras, proses pengolahan dan teknik memasak juga dapat memengaruhi tekstur nasi yang dihasilkan.
3. Varietas Beras Lokal Masih Memiliki Tempat
Beras lokal seperti Anak Daro dan Cisokan memiliki sejarah panjang dalam pertanian Sumatera Barat. Kementerian Pertanian mencatat Anak Daro dikembangkan sebagai varietas yang sesuai dengan preferensi masyarakat terhadap nasi berkarakter pera atau badarai.
Sementara itu, informasi mengenai Indikasi Geografis Bareh Solok menunjukkan bahwa karakter nasi dari setiap varietas tidak selalu identik. Cisokan dapat menghasilkan nasi dengan tekstur mulai dari pulen hingga pera, sedangkan Anak Daro lebih dikenal dengan karakter pera.
Salah satu unsur yang berpengaruh terhadap tekstur nasi adalah kandungan amilosa.
Dengan demikian, sebutan Bareh Solok tidak serta-merta menunjukkan satu jenis tekstur nasi tertentu. Jenis varietas, kualitas beras, proses pengolahan, hingga teknik memasak dapat memengaruhi karakter nasi ketika sudah matang.
4. Persoalan Pemasaran Beras SPHP
Program SPHP hadir untuk membantu masyarakat mendapatkan beras dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, harga bukan satu-satunya pertimbangan ketika konsumen menentukan pilihan.
Aroma, kebersihan, kualitas, tekstur setelah dimasak, hingga kesesuaian dengan kebiasaan makan turut menjadi faktor yang diperhatikan. Karena itu, beras dengan harga lebih murah belum tentu otomatis menjadi pilihan utama apabila karakter nasinya berbeda dari yang selama ini dikonsumsi masyarakat.
Meski demikian, belum cukup dasar untuk menyatakan bahwa beras SPHP secara umum kurang diminati masyarakat Sumatera Barat semata-mata akibat persoalan tekstur. Hal tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui data penjualan, survei konsumen atau rumah tangga, serta kajian terhadap karakter beras SPHP yang benar-benar beredar di pasaran.
5. Menjaga Selera Lokal dan Masa Depan Beras Sumbar
Keragaman varietas padi di Sumatera Barat bukan hanya berkaitan dengan sektor pertanian. Di dalamnya terdapat keterkaitan antara tradisi pangan, kehidupan petani, perekonomian, hingga identitas kuliner masyarakat.
Tantangan ke depan adalah memastikan ketersediaan beras dengan harga terjangkau tanpa mengesampingkan karakter nasi yang sesuai dengan selera konsumen. Pengembangan varietas lokal, peningkatan kualitas penggilingan, serta pemetaan preferensi masyarakat dapat menjadi bagian dari langkah tersebut.
Pada akhirnya, tidak ada satu tekstur nasi yang menjadi pilihan semua orang. Sebagian konsumen menyukai nasi pulen, sementara lainnya lebih memilih nasi pera dengan butiran yang terpisah.
Di Sumatera Barat, keberadaan nasi badarai menunjukkan bahwa pilihan terhadap makanan tidak hanya berkaitan dengan rasa. Di balik sepiring nasi terdapat sejarah pertanian, kebiasaan keluarga, tradisi kuliner, dan selera yang berkembang dari generasi ke generasi.(da*)


