Padang Pariaman, Rakyatterkini.com – Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis (JKA) kembali mengusulkan perubahan nama sejumlah fasilitas penting di daerah yang dipimpinnya. Dalam sekitar dua tahun masa kepemimpinannya sejak dilantik Presiden RI Prabowo Subianto pada Februari 2025, sejumlah bangunan dan infrastruktur telah diusulkan menggunakan nama tokoh yang dinilai memiliki jasa bagi daerah.
Usulan terbaru menyangkut Bandara Internasional Minangkabau (BIM). JKA menginginkan bandara utama Sumatera Barat tersebut berganti nama menjadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin. Proposal perubahan nama itu telah disampaikan kepada Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
JKA mengatakan, gagasan tersebut mengacu pada penamaan sejumlah bandara besar di Indonesia yang menggunakan nama tokoh bersejarah, baik dari kalangan pejuang kemerdekaan maupun tokoh agama.
Beberapa di antaranya adalah Bandara Hasanuddin di Makassar, Hang Nadim di Batam, I Gusti Ngurah Rai di Bali, Sultan Iskandar Muda di Aceh, serta Sultan Syarif Kasim II di Riau.
“Kami sudah mengajukannya kepada Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Udara. Karena kita menimbang, bandara-bandara pada umumnya di Indonesia adalah nama pejuang, baik pejuang kemerdekaan maupun pejuang agama,” ujar JKA, Senin (21/9), seusai meresmikan perubahan nama RSUD Padang Pariaman menjadi RSUD Muslim Kasim.
Ia menilai Syekh Burhanuddin merupakan tokoh yang layak diabadikan sebagai nama bandara karena kiprahnya dalam penyebaran Islam di Minangkabau. Pengaruh ulama tersebut, kata JKA, juga tidak hanya terbatas di Sumatera Barat.
“Bagaimana kiprah ulama besar Syekh Burhanuddin, tentu kita semua sudah tahu. Untuk itu kami sedang melakukan lobi-lobi, mudah-mudahan Bandara Internasional Minangkabau bisa juga kita ubah menjadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin,” tuturnya.
Meski demikian, perubahan nama BIM bukan perkara mudah. Bandara tersebut telah lama dikenal sebagai salah satu identitas transportasi utama Sumatera Barat. Proses pergantian nama juga membutuhkan persetujuan dari sejumlah pihak dan kementerian terkait.
Selain aspek administratif, perubahan nama bandara dapat berdampak pada berbagai kebutuhan teknis, seperti pembaruan dokumen penerbangan, sistem informasi, penanda fasilitas, hingga sejumlah perangkat yang berkaitan dengan operasional dan navigasi penerbangan.
Sebelumnya, Pemkab Padang Pariaman telah mengubah nama RSUD Parit Malintang menjadi RSUD Muslim Kasim. Nama tersebut diambil dari mantan Bupati Padang Pariaman dua periode, 2000–2010, sekaligus mantan Wakil Gubernur Sumatera Barat, almarhum H. Muslim Kasim.
Perubahan nama rumah sakit itu diresmikan langsung oleh Bupati JKA bersama Wakil Bupati Rahmat Hidayat pada Senin (21/9).
Langkah serupa juga dilakukan terhadap fasilitas keagamaan di kawasan Ibu Kota Kabupaten (IKK) Parit Malintang. Pada 2025, Masjid Raya IKK resmi menggunakan nama Masjid Raya IKK Ali Mukhni.
Penamaan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap Ali Mukhni yang pernah menjabat Bupati Padang Pariaman periode 2010–2021. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendorong pembangunan kawasan pusat pemerintahan IKK Parit Malintang.
Tidak berhenti di sana, JKA juga pernah menyampaikan gagasan terkait perubahan nama Jalan Tol Padang–Sicincin. Menurutnya, nama jalan tol tersebut belum sepenuhnya mencerminkan Kabupaten Padang Pariaman yang menjadi wilayah lintasan utama dari ruas jalan bebas hambatan tersebut.
JKA menyebut gagasan penyesuaian nama itu turut mempertimbangkan aspirasi tokoh masyarakat dan niniak mamak di Kabupaten Padang Pariaman.(da*)


