Payakumbuh, Rakyatterkini.com – Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melalui Program Studi Kriya Seni terus mendorong pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan keterampilan seni kriya yang memanfaatkan potensi budaya lokal.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui pelatihan teknik batik cap dengan menggunakan bahan karton dan kayu bagi para anggota Sanggar Batik Minang Pitobas di Kota Payakumbuh.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Produktivitas Sanggar Batik Minang Pitobas melalui Pelatihan Teknik Cap Batik Berbasis Media Karton dan Kayu” tersebut merupakan bagian dari kontribusi akademik Program Studi Kriya Seni ISI Padangpanjang dalam meningkatkan kreativitas, inovasi, serta kemampuan pelaku usaha kriya di tengah masyarakat.
Pelatihan berlangsung sejak Juli hingga akhir September 2026. Materi yang diberikan berfokus pada pengenalan teknik batik cap sebagai salah satu metode alternatif untuk membuat proses produksi lebih efektif dan efisien.
Hal menarik dari pelatihan ini adalah penggunaan karton dan kayu dalam proses pengembangan alat cap. Karton terlebih dahulu digunakan untuk mengeksplorasi bentuk, motif, dan komposisi karena material tersebut mudah ditemukan, ringan, serta relatif mudah dibentuk.
Setelah desain motif melalui tahap percobaan, hasilnya kemudian dikembangkan menjadi alat cap berbahan kayu. Material kayu dipilih karena memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik sehingga alat dapat dimanfaatkan secara berulang dalam proses produksi.
Dalam pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga melakukan praktik secara langsung. Tahapannya meliputi perancangan dan penyederhanaan motif, pengaturan komposisi, pembuatan prototipe cap dari karton, hingga proses pembuatan serta pengujian alat cap kayu.
Peserta kemudian mempraktikkan pencapan malam pada kain. Mereka juga diarahkan untuk mengembangkan pola pengulangan motif sehingga menghasilkan susunan batik yang menarik, seimbang, dan memiliki nilai estetika.
Eksplorasi motif turut mengambil inspirasi dari berbagai unsur visual budaya Minangkabau. Hal tersebut dilakukan agar pengembangan teknik produksi tetap berkaitan erat dengan identitas budaya daerah.
Dengan pendekatan tersebut, teknik batik cap tidak sekadar dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembuatan batik, tetapi juga menjadi sarana untuk melahirkan kreasi motif baru yang tetap memiliki karakter budaya Minangkabau.
Ketua pelaksana kegiatan, Emzia Fajri, mengatakan pelatihan tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan produktivitas kerajinan batik sekaligus menghasilkan produk yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Dalam pelaksanaannya, anggota Sanggar Batik Minang Pitobas dilibatkan secara aktif mulai dari tahap eksperimen motif, pembuatan alat cap hingga penerapan teknik pencapan pada kain.
Menurutnya, metode pembelajaran berbasis praktik diharapkan dapat membuat peserta lebih mudah menguasai keterampilan yang diberikan dan langsung mengaplikasikannya dalam aktivitas produksi di sanggar.
Sementara itu, Ketua Program Studi Kriya Seni ISI Padangpanjang, Hendra, S.Sn., M.Sn, berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus untuk terus mengembangkan seni dan budaya Melayu yang hidup di tengah masyarakat.
Ia juga berharap hasil pelatihan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi mitra, khususnya dalam meningkatkan keterampilan, memperkaya pilihan motif, membuat peralatan produksi secara mandiri, serta mendorong peningkatan produktivitas batik.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat dalam mengintegrasikan ilmu seni, desain, inovasi material, serta kebutuhan pelaku kriya.
Melalui kerja sama tersebut, pengembangan batik Minangkabau diharapkan semakin kuat dan mampu meningkatkan daya saing produk sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif yang berlandaskan budaya lokal.(da*)


