Padang, Rakyatterkini.com — Politeknik Negeri Padang (PNP) menggelar Wisuda ke-72 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) PNP, Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 1.695 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi tersebut.
Wisuda turut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan RI Prof. Yassierli, sejumlah rektor, direktur, ketua dan pimpinan perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kota Padang. Hadir pula Ketua dan anggota Senat Akademik PNP serta Dewan Pengawas PNP.
Direktur PNP Revalin Herdianto mengatakan, pelaksanaan wisuda tahun ini mencatat sejumlah perkembangan, salah satunya terkait lulusan yang telah memasuki dunia kerja sebelum prosesi wisuda.
Dari total 1.695 wisudawan, sebanyak 193 orang diketahui sudah bekerja. Mereka antara lain terserap di PT Liugong Machinery Manufacturing Indonesia sebanyak 39 orang, lingkungan Kemendikdasmen Sumatera Barat 18 orang, PT Team Metal Indonesia (TMI) 10 orang, serta PT Rakindo Utama 10 orang.
Selain itu, enam lulusan PNP telah bekerja di Hungaria dan satu orang di Republik Ceko.
Meski demikian, Revalin menyebut capaian tersebut masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, sebagai perguruan tinggi vokasi, PNP memiliki tanggung jawab untuk memastikan lulusan semakin siap memasuki dunia kerja.
“Bagi sebuah politeknik, angka ini belum cukup menggembirakan. Masih ada pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan untuk memenuhi harapan orang tua maupun mandat yang diberikan kepada PNP,” ujarnya.
Di hadapan para lulusan, Revalin menegaskan bahwa wisuda bukanlah titik akhir pendidikan. Sebaliknya, momentum tersebut menjadi awal bagi alumni untuk mengabdikan kompetensi yang dimiliki kepada masyarakat, dunia kerja, dan bangsa.
Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti belajar karena perkembangan dunia kerja berlangsung sangat cepat. Ijazah, katanya, seharusnya tidak sekadar dipandang sebagai modal untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi menjadi bukti kompetensi untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Revalin berpesan agar alumni senantiasa menjaga integritas, kompetensi, kedisiplinan, kerja keras, serta nama baik almamater di mana pun mereka berada.
“Di mana pun kalian bekerja, di Padang, Jakarta, Karawang, China, Taiwan, Jepang, atau di belahan dunia lainnya, jadilah orang yang ketika namanya disebut, orang akan berkata: dia lulusan Politeknik Negeri Padang. Kemudian orang itu menambahkan: orang yang kompeten, berintegritas, dan dapat dipercaya,” tuturnya.
Menurut Revalin, pesan tersebut mencerminkan karakter alumni yang ingin dibentuk PNP. Perguruan tinggi vokasi itu tidak hanya ingin menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga tenaga profesional yang mampu memberikan kontribusi konkret.
“‘Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan. Hari ini adalah awal dari pengabdian,” katanya.
Sejak berdiri pada 1987, PNP telah menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Sumatera Barat, Kota Padang, hingga Indonesia. Sampai pelaksanaan Wisuda ke-72, PNP tercatat telah menghasilkan 34.050 alumni yang bekerja di berbagai instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta nasional maupun perusahaan internasional.
Revalin mengatakan keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata dilihat dari jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan. Hal yang tidak kalah penting adalah perjalanan lulusan setelah meninggalkan kampus, termasuk bidang pekerjaan dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.
Ia juga memaparkan hasil tracer study terhadap lulusan tahun 2025. Dari 1.552 lulusan, sebanyak 1.011 orang memberikan respons. Dari jumlah tersebut, 677 orang atau sekitar 67 persen telah bekerja, 27 persen menjalankan usaha, dan 3,4 persen melanjutkan pendidikan.
Sementara itu, sekitar 27 persen lainnya masih dalam proses mencari pekerjaan. Rata-rata waktu tunggu bagi alumni yang bekerja maupun berwirausaha tercatat sekitar 2,88 bulan.
“Bagi PNP, satu orang alumni yang belum mendapatkan pekerjaan adalah satu orang yang harus terus kita dampingi,” tegasnya.
PNP, lanjut Revalin, tidak lagi menerapkan pola pendidikan sebatas mahasiswa masuk, belajar, lulus, lalu selesai. Kampus kini berupaya membangun ekosistem yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.
Ekosistem tersebut meliputi pembelajaran, penguatan kompetensi, pengalaman industri, sertifikasi, jejaring internasional, hingga tahapan setelah lulus, baik bekerja, berwirausaha maupun melanjutkan pendidikan.
Untuk mendukung hal itu, PNP terus memperkuat sistem penjaminan mutu, kerja sama dengan industri, penyusunan kurikulum bersama mitra, program magang, pembelajaran berbasis proyek, keterlibatan dosen praktisi, serta sertifikasi kompetensi.
Dalam rangka memperluas peluang bagi mahasiswa dan alumni, PNP juga memperkuat kemitraan internasional dengan perguruan tinggi dan industri di China, Taiwan, Jepang, Malaysia, serta sejumlah negara lainnya.
Salah satu program yang dikembangkan adalah skema 2+1 bersama LiuGong Machinery dan Liuzhou Polytechnic University di China. Melalui program ini, mahasiswa menjalani pendidikan selama dua tahun di China, kemudian memperoleh kesempatan magang dan peluang untuk terikat kerja dengan industri.
Pada Batch 3 tahun 2026, sebanyak 128 mahasiswa PNP mengikuti seleksi program tersebut. Sementara dari batch sebelumnya, sebanyak 23 mahasiswa PNP berhasil lolos program 2+1 LiuGong.
Setelah menyelesaikan pendidikan di China, peserta program diarahkan untuk mendapat peluang rekrutmen di LiuGong Machinery Manufacturing Indonesia.
PNP juga mengembangkan skema 2+2 joint degree bersama mitra pendidikan di Guangdong, China. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman akademik internasional sekaligus memahami lingkungan industri global.
Kerja sama tersebut turut dikembangkan bersama Pemerintah Kota Padang sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia daerah.
“Skema kerja sama ini menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan tinggi vokasi dapat berkontribusi langsung terhadap agenda pembangunan sumber daya manusia daerah,” ujarnya.
Untuk Taiwan, sejumlah mahasiswa PNP yang melanjutkan studi disebut telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja di negara tersebut. Sementara untuk Jepang, pada 2026 sebanyak 36 alumni dipersiapkan bekerja sebagai engineer di bidang konstruksi melalui kerja sama dengan B2B Success Jepang.
Dengan berbagai program tersebut, mahasiswa PNP kini memiliki kesempatan yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti program magang maupun bekerja di luar negeri.
Di sisi lain, PNP juga menyiapkan lulusan menghadapi perubahan kebutuhan kompetensi akibat perkembangan teknologi. Kemajuan kecerdasan buatan, otomasi, robotika, big data, digital twin hingga komputasi berperforma tinggi dinilai telah mengubah tuntutan dunia kerja.
PNP telah memiliki infrastruktur komputasi NVIDIA DGX H100 yang dilengkapi delapan GPU H100, memori GPU berkapasitas 640 GB dan kemampuan komputasi hingga 32 petaflops.
Perangkat tersebut telah dimanfaatkan untuk pelaksanaan AI Bootcamp serta pengembangan kemampuan kecerdasan buatan bagi dosen dan mahasiswa.
Namun, Revalin menegaskan bahwa fasilitas tersebut tidak hanya ditujukan sebagai perangkat komputasi yang berada di laboratorium. PNP tengah menyiapkan pengembangan AI Talent Factory sebagai pusat pelatihan dan pengembangan talenta di bidang AI.
Pengembangan tersebut akan diperkuat melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam ekosistem Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) dengan dukungan Google Indonesia.
Ke depan, PNP menargetkan lulusannya tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi mampu berkembang sebagai AI collaborator, AI innovator, AI creator hingga AI entrepreneur.
Dengan kemampuan tersebut, lulusan Teknik Mesin misalnya, diharapkan tidak hanya mampu mengoperasikan mesin, tetapi juga menggunakan AI untuk kebutuhan predictive maintenance.
Lulusan Teknik Elektro dapat diarahkan untuk mengembangkan smart energy system. Sementara lulusan Teknik Sipil dapat memanfaatkan AI, computer vision, remote sensing dan digital twin dalam pembangunan infrastruktur.
Adapun lulusan Teknologi Informasi didorong mengembangkan aplikasi maupun model AI, sedangkan lulusan bidang bisnis dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan model-model bisnis baru.
“Inilah pendidikan vokasi masa depan,” kata Revalin.
Salah seorang wisudawan, Muhammad Wifak Mendoza, mengungkapkan rasa syukurnya setelah berhasil mengikuti Wisuda ke-72 PNP. Ia menyebut pencapaiannya tidak terlepas dari dukungan kedua orang tua dan para dosen selama menjalani pendidikan.
“Bagi saya dan 1.694 wisudawan lainnya, hari ini menjadi momentum untuk melangkah ke fase baru yang penuh tantangan. Pesan yang disampaikan Direktur PNP tentunya menjadi motivasi bagi saya untuk melangkah ke dunia kerja,” ujar Wifak didampingi orang tuanya, Ricky Mendoza, setelah prosesi wisuda.(da*)


