Sijunjung, Rakyatterkini.com - Di sejumlah nagari di Kabupaten Sijunjung, yakni Sumpur Kudus, Sisawah, dan Pematang Panjang, belalang sawah bukan dianggap sebagai hama yang harus diberantas. Sebaliknya, serangga ini justru menjadi bahan pangan khas yang diolah turun-temurun, salah satunya menjadi rendang belalang atau randang belalang.
Setiap musim panen tiba, area persawahan di Sumpur Kudus akan ramai oleh warga yang datang pada malam hari. Mereka membawa obor bambu dan wadah sederhana, bukan untuk menjaga ladang dari pencuri, melainkan untuk berburu belalang yang hinggap di batang padi.
Di banyak daerah, belalang sawah (Oxya chinensis) identik sebagai hama tanaman padi. Namun, di Sijunjung, pandangan tersebut berbeda. Hewan ini justru memiliki nilai kuliner dan diolah menjadi hidangan tradisional yang digemari masyarakat setempat.
Rendang belalang, kuliner unik Minangkabau
Belalang yang sudah dikumpulkan kemudian dimasak menjadi rendang. Hasil akhirnya memiliki cita rasa gurih dengan tekstur renyah, bahkan disebut mirip dengan udang ketika digigit. Kuatnya rempah khas Minangkabau membuat hidangan ini semakin kaya rasa dan aroma.
Rendang belalang menjadi salah satu bentuk kekayaan kuliner lokal yang belum banyak dikenal luas. Dalam budaya Minangkabau sendiri, rendang bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol ketekunan, kesabaran, dan proses memasak yang penuh makna karena dimasak lama hingga bumbu meresap sempurna.
Proses berburu hingga memasak
Pembuatan rendang belalang dimulai dari proses penangkapan yang biasanya dilakukan pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB, saat belalang sedang istirahat di batang padi. Waktu ini dipilih karena belalang termasuk hewan diurnal yang lebih aktif di siang hari.
Warga biasanya berburu secara berkelompok sambil membawa obor bambu serta wadah penampung. Namun, tidak semua belalang digunakan. Masyarakat setempat sudah mengenal jenis-jenis tertentu yang dianggap aman dan cocok untuk dikonsumsi berdasarkan pengalaman turun-temurun.
Setelah terkumpul, belalang dibersihkan lalu disangrai terlebih dahulu hingga bau amisnya hilang. Setelah itu, bagian kaki dan sayap dibuang.
Bumbu yang digunakan, yang dalam bahasa Minang disebut “langkok-langkok”, terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan serai yang dihaluskan. Santan kemudian dimasak dalam kuali di atas tungku kayu hingga mendidih, lalu bumbu dimasukkan.
Setelah kuah mulai mengental, barulah belalang dimasukkan dan dimasak bersama hingga meresap. Proses ini bisa memakan waktu lebih dari dua jam hingga menghasilkan rendang berwarna cokelat kehitaman dengan tekstur kering dan aroma khas.
Penggunaan tungku kayu dipercaya membuat panas lebih stabil, sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih kuat, gurih, pedas, sedikit manis, serta tekstur renyah saat disantap.
Kearifan lokal dan pemanfaatan alam
Rendang belalang bukan hanya sekadar kuliner, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Belalang yang dianggap hama di tempat lain justru menjadi sumber protein alternatif yang bergizi.
Secara nutrisi, belalang memiliki kandungan protein yang tinggi serta lemak yang rendah. Selain mudah diperoleh saat musim tertentu, bahan ini juga relatif murah dan mudah diolah.
Tradisi berburu dan memasak secara bersama-sama juga memperkuat hubungan sosial antarwarga. Aktivitas ini menjadi bagian dari kehidupan komunal yang mempererat kebersamaan di nagari.
Identitas kuliner daerah
Rendang belalang banyak ditemukan di beberapa wilayah di Sijunjung, terutama di Sumpur Kudus dan Sisawah. Sementara itu, Pematang Panjang menjadi salah satu nagari yang masih aktif memproduksi dan menjual kuliner ini.
Dalam perkembangannya, rendang belalang mulai dikenal sebagai oleh-oleh khas daerah Minangkabau. Wisatawan yang datang ke Sijunjung sering menjadikannya buah tangan karena keunikannya yang sulit ditemukan di daerah lain.
Di tengah tren global yang mulai melirik serangga sebagai sumber pangan berkelanjutan, masyarakat Sijunjung sebenarnya telah lebih dulu mempraktikkannya secara tradisional, jauh sebelum konsep tersebut populer di dunia akademik.
Tantangan pelestarian
Meski memiliki nilai budaya tinggi, rendang belalang menghadapi tantangan dalam hal regenerasi. Generasi muda tidak semuanya mewarisi keterampilan memasak tradisional ini, terutama karena prosesnya yang panjang dan membutuhkan kesabaran.
Selain itu, bahan baku yang bersifat musiman juga menjadi kendala. Belalang hanya melimpah saat musim panen, sehingga produksi rendang ini tidak bisa dilakukan sepanjang tahun. Hingga kini, belum ada budidaya belalang secara terencana untuk menjaga ketersediaannya.
Pengetahuan mengenai resep dan teknik memasaknya pun masih banyak tersimpan secara lisan dalam keluarga, terutama para ibu-ibu yang sudah lama mengolahnya. Jika tidak segera didokumentasikan, ada risiko tradisi ini akan memudar.
Meski demikian, upaya pelestarian mulai terlihat melalui promosi wisata kuliner daerah, di mana rendang belalang dijadikan salah satu daya tarik khas Sijunjung.
Warisan rasa yang hidup
Rendang belalang menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak selalu bergantung pada bahan mahal atau teknologi modern. Justru dari kesederhanaan dan kedekatan dengan alam, lahir sebuah tradisi makanan yang unik dan bernilai budaya tinggi.
Filosofi Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” tercermin jelas dalam kuliner ini, di mana masyarakat belajar dari alam dan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.
Selama tradisi berburu belalang dan memasak dengan tungku kayu masih dijaga oleh masyarakat Sijunjung, rendang belalang akan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya, bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi warisan yang terus dimasak dari generasi ke generasi.(da*)


