Jakarta, Rakyatterkini.com - Gempa bumi kuat bermagnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada 8 Juni lalu tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu fenomena geologi yang jarang terjadi, yaitu terangkatnya dasar laut hingga sekitar 2 meter.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina NDRRMC melaporkan hingga Selasa (16/6/2026), jumlah korban meninggal dunia mencapai 68 orang, sementara 33 orang masih dinyatakan hilang akibat gempa yang juga memicu tsunami kecil dengan ketinggian gelombang hampir 1 meter.
Selain itu, sekitar 338.000 kepala keluarga atau sekitar 1,38 juta penduduk di berbagai wilayah Mindanao terdampak bencana tersebut, dengan 1.339 orang mengalami luka-luka.
Sementara itu, lembaga vulkanologi dan seismologi Filipina PHIVOLCS menjelaskan gempa tersebut dipicu oleh aktivitas pergeseran di Palung Cotabato Cotabato Trench yang berada di perairan selatan Mindanao.
Pergerakan tektonik itu menyebabkan sebagian garis pantai di Provinsi Sarangani Sarangani dan Davao Occidental Davao Occidental terangkat ke atas. Akibatnya, dasar laut yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kini terlihat di daratan. Terumbu karang serta ekosistem laut yang sebelumnya terendam pun ikut terangkat dan terpapar udara terbuka.
Dalam pernyataannya, PHIVOLCS menyebutkan “pergeseran di Palung Cotabato mendorong naik sebagian wilayah pesisir Sarangani dan Davao Occidental sehingga dasar laut yang sebelumnya tertutup air kini muncul ke permukaan.”
Fenomena yang dikenal sebagai pengangkatan garis pantai tersebut pertama kali dilaporkan oleh warga setempat dua hari setelah gempa terjadi. Dampaknya cukup besar, bahkan di beberapa titik garis pantai dilaporkan bertambah hingga sekitar 200 meter ke arah laut.
Palung Cotabato sendiri berjarak sekitar 50 kilometer dari pesisir selatan Mindanao dan dikenal sebagai salah satu zona dengan aktivitas seismik tinggi di Filipina. Pada Januari lalu, wilayah ini juga sempat mencatat ribuan gempa kecil dalam periode singkat.
Selain itu, Departemen Lingkungan Hidup Filipina melaporkan terumbu karang yang kini terangkat ke permukaan terancam mati karena kehilangan habitat alaminya.
Dokumentasi foto menunjukkan hamparan karang yang sebelumnya berada di bawah laut kini terbuka di daratan, disertai bangkai ikan dan organisme laut lainnya.
Warga sekitar awalnya mencium bau menyengat yang berasal dari pembusukan biota laut yang terpapar udara, yang kemudian membuat mereka menyadari adanya perubahan besar pada dasar laut.
Dalam pernyataannya, lembaga tersebut juga menegaskan ekosistem seperti terumbu karang dan padang lamun yang terpapar berpotensi mengalami kematian massal, termasuk berbagai organisme seperti ikan karang, belut, kerang, hingga hewan bercangkang lainnya.(da*)


