Notification

×

Iklan

Prabowo Paparkan Strategi Indonesia Hadapi Geopolitik Global

Kamis, 05 Maret 2026 | 18:44 WIB Last Updated 2026-03-05T11:44:00Z

Mantan Menlu RI, Hassan Wirajuda.

Jakarta, Rakyatterkini.com — Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, menilai Presiden RI Prabowo Subianto tengah memetakan strategi navigasi Indonesia di tengah kompleksitas geopolitik global, menyusul konflik dan serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Hassan usai menghadiri pertemuan Presiden dengan mantan presiden dan wakil presiden, tokoh diplomatik, serta ketua umum partai politik di Istana Merdeka, Selasa (3/3/2026).

“Presiden menggambarkan bahwa kita harus menavigasi tantangan yang kini tidak hanya ada dua, tapi beberapa sekaligus, dan itu jelas bukan hal yang mudah,” ujar Hassan.

Hassan menjelaskan, dalam pertemuan tersebut Prabowo memberikan briefing terkait perkembangan dunia, khususnya konflik terbaru di Timur Tengah.

“Presiden memberikan update mengenai berbagai peristiwa global, termasuk yang menjadi perhatian kita, yakni serangan terbaru Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” tambahnya.

Selain itu, pertemuan juga membahas dampak konflik tersebut bagi Indonesia dan tatanan dunia secara luas.

“Diskusi kami mencakup implikasi konflik ini terhadap kita. Saat tatanan dunia sudah tak lagi efektif, negara yang menjadi korban serangan militer sulit mencari perlindungan, karena PBB tak lagi berperan maksimal, dan aturan internasional lebih banyak ‘on paper’ tanpa kekuatan memaksa, terutama jika melibatkan negara besar,” jelas Hassan.

Ia menegaskan, dilema ini tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga banyak negara lain.

“Persoalan ini menjadi dilema global. Karena itu, Presiden menilai penting untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi pemerintah kepada kami yang diundang malam ini,” katanya.

Selain aspek keamanan, pemerintah juga menyoroti dampak ekonomi dari konflik, terutama terkait energi.

“Kami menghitung potensi efek perang terhadap ekonomi dunia, khususnya pasokan minyak dan gas, serta dampaknya bagi Indonesia,” tambah Hassan.

Presiden juga membahas kemungkinan durasi konflik. “Dulu Presiden AS Trump memperkirakan beberapa hari, sekarang sudah bicara berminggu-minggu,” kata Hassan.

Diskusi juga menyinggung peran Board of Peace (BoP) dalam konteks situasi terkini, termasuk kemungkinan pengaruh perang di Iran terhadap posisi dan mandat BoP.

Hassan menekankan, Presiden membuka ruang dialog dan meminta masukan dari semua peserta pertemuan.

“Kami mencoba memberikan pemikiran dan saran masing-masing,” ujarnya.

Hassan mengingatkan, konflik di kawasan Teluk bukan hal baru. “Dalam 30 tahun terakhir, kawasan ini sudah mengalami tiga perang besar,” katanya, merinci perang era Presiden Bush Senior saat Irak menyerbu Kuwait, invasi Irak 2003 oleh Bush Junior, hingga konflik terbaru.

“Tragis memang, kawasan ini menjadi pusat konflik besar yang berdampak luas karena banyak cadangan minyak dan gas berada di sini. Kita harus mempertimbangkan dampaknya bagi Indonesia,” tutup Hassan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update