Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah terus mengambil berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan sepanjang Ramadan hingga menjelang Lebaran 2026.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, intervensi dilakukan sejak awal Februari agar masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa tanpa khawatir terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok.
Sepanjang Februari 2026, Bapanas menggelar 1.586 kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 291 kabupaten/kota yang tersebar di 33 provinsi, meningkat 116,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Melalui GPM, masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan pokok dengan harga lebih terjangkau, mulai dari beras, minyak goreng, hingga cabai dan komoditas strategis lainnya.
Selain pasar murah, pemerintah juga memperkuat distribusi pangan antarwilayah melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Bapanas menyebut, hampir 10 ton cabai rawit telah dimobilisasi ke Jakarta dan Nusa Tenggara Barat untuk meredam fluktuasi harga. Sebanyak 4,3 ton cabai di antaranya didatangkan dari Sulawesi Selatan dengan biaya distribusi ditanggung pemerintah.
Langkah cepat ini merespons kenaikan harga cabai yang sempat terjadi di beberapa daerah. Sementara untuk beras, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus berjalan.
Hingga akhir Februari 2026, penyaluran SPHP beras tahun 2025 oleh Perum Bulog telah mencapai 1,025 juta ton, dengan realisasi Februari saja sebesar 136 ribu ton.
Tahun ini, target SPHP beras ditetapkan 828 ribu ton, sementara SPHP jagung pakan disiapkan 242 ribu ton guna menjaga stabilitas harga sektor perunggasan, termasuk harga daging ayam dan telur.
Menjelang Idulfitri 2026, pemerintah juga memperkuat perlindungan daya beli melalui penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat.
Di sisi pengawasan, rantai pasok pangan terus dipantau ketat. Satgas Sapu Bersih Pelanggaran Pangan telah memantau 28.270 titik di seluruh Indonesia, mulai dari produsen, agen, distributor, grosir, hingga ritel.
Berbagai upaya ini berkontribusi menahan inflasi selama Ramadan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulan Ramadan 2026 tercatat 0,68 persen, lebih rendah dibanding Ramadan 2022 dan 2025.
Komponen volatile food pada Februari 2026 tercatat 2,50 persen (m-to-m) dengan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum, sementara inflasi pangan tahunan berada di 4,64 persen, masih sesuai sasaran pemerintah sebesar 3–5 persen.(da*)


