Notification

×

Iklan

Tabola-bale: Bukan Sekadar Lagu dari Istana di HUT ke-80 RI

Selasa, 19 Agustus 2025 | 09:19 WIB Last Updated 2025-08-19T02:19:21Z

Riswan Idris.

RAKYATTERKINI.COM — Ada yang berbeda dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Istana Negara. Di sela rangkaian upacara penuh simbol, mengalun sebuah tembang sederhana: Tabola-bale.

Bagi sebagian orang, itu hanya sekadar lagu daerah. Namun di usia ke-80 bangsa ini, Tabola-bale sejatinya hadir bukan sebagai hiburan seremonial. Ia adalah pesan yang menggigit, mengingatkan kita untuk pulang. Pulang ke akar, pulang ke jati diri, pulang ke rakyat.

Lagu ini juga menggambarkan semangat kebersamaan, semangat persaudaraan dalam masyarakat yang majemuk, serta nilai-nilai kebijaksanaan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman. 

Lebih dari Irama, Sebuah Tamparan

Kita terbiasa menjadikan kesenian lokal sebagai pelengkap acara kenegaraan. Namun Tabola-bale bukan sekadar pengisi jeda upacara. Ia hadir sebagai tamparan halus kepada bangsa yang kerap tersesat di jalan pembangunan.

Liriknya sederhana, tapi maknanya dalam: pulanglah. Pertanyaan menggantung di udara Istana: kepada siapa bangsa ini mesti pulang?

Jawabannya jelas—kepada rakyat kecil yang kerap ditinggalkan. Kepada desa-desa yang hanya jadi panggung pencitraan menjelang pemilu. Kepada sejarah yang mulai kita lupakan, digantikan ambisi proyek mercusuar.

Pulang ke Rakyat, Bukan ke Oligarki

Di usia 80, seharusnya Indonesia sudah matang. Namun apa yang kita saksikan? Politik kerap digerakkan oleh oligarki, kebijakan lebih berpihak pada pemilik modal, dan korupsi tetap merajalela di ruang-ruang kekuasaan.

Maka Tabola-bale adalah kritik: pulanglah ke rakyat, jangan pulang ke meja perundingan bisnis segelintir elit. Pulanglah ke sawah, ke laut, ke pasar tradisional, bukan hanya ke hotel berbintang.

Sebab rumah bangsa ini bukan di gedung pencakar langit, melainkan di pelataran sederhana tempat rakyat menaruh harapan.

Usia 80: Merayakan atau Merenung?

Bangsa-bangsa lain menjadikan usia 80 sebagai tonggak kemajuan. Indonesia malah masih disibukkan dengan perdebatan identitas, perebutan kekuasaan, bahkan politik dinasti yang mengekalkan wajah lama dalam tubuh baru.

Maka, apakah HUT ke-80 ini benar-benar perayaan? Atau justru seharusnya jadi momen renungan?

Tabole-bale memberi jawabannya: berhentilah berlari tanpa arah. Pulang dulu, benahi rumah, baru bermimpi menjadi bangsa besar.

Jangan Sekadar Lagu Seremonial

Bahaya terbesar dari pesan Tabola-bale adalah ketika ia hanya diperlakukan sebagai lagu seremonial. Dinyanyikan dengan indah, difoto, diunggah, lalu dilupakan.

Padahal, pulang yang dimaksud adalah revolusi moral: kembali ke gotong royong, kembali ke solidaritas, kembali ke keberpihakan pada mereka yang lemah. Pulang berarti menolak korupsi, menolak kekuasaan absolut, menolak politik uang yang merusak demokrasi.

Jika pesan itu hanya berhenti di panggung Istana, maka Tabola-bale tak lebih dari gincu merah di bibir upacara—indah, tapi semu.

Pulanglah, Sebelum Terlambat

Di usia 80, bangsa ini diingatkan lewat lantunan sederhana: Tabola-bale. Jangan sampai pesan itu hanya bergaung di tembok Istana, tapi hilang di jalanan rakyat.

Pulanglah, wahai para elite. Pulang ke rakyatmu, sebelum rakyat benar-benar kehilangan kesabaran dan memutuskan menutup pintu rumah untukmu.

Karena rumah bernama Indonesia ini bukan panggung pencitraan, melainkan tempat di mana keadilan dan kesejahteraan seharusnya tinggal.

Dan Tabola-bale telah mengingatkan: jangan sampai rumah ini roboh karena penghuninya lupa pulang.

*Penulis : Riswan Idris, Wartawan Rakyatterkini.com


IKLAN



×
Berita Terbaru Update