Notification

×

Iklan

Sejarah Kereta Api di Sumatera Barat, Ini Dua Lintasan Pertama di Ranah Minang

Jumat, 10 Mei 2024 | 09:17 WIB Last Updated 2024-05-10T02:17:02Z

Stasiun Duku Padang Pariaman.

RAKYATTERKINI.com -  Rel kereta api di Sumatera Barat merupakan warisan sejarah zaman penjajahan tempo doeloe. Pembangunan rel kereta ini mengandung cerita tentang kerja keras nenek moyang yang dipaksa oleh pemerintahan penjajahan Belanda.

Tujuan awal dari pembangunan jaringan kereta api di Sumatera Barat adalah untuk menghubungkan Kota Padang dengan tambang-tambang batu bara di Ombilin. 

Kereta api memiliki sejarah Panjang. Khusus Sumatera Barat, jalur kereta api dimulai pada zaman penjajahan Belanda dengan pembangunan jalur Pulau Air ke Padang Panjang yang diresmikan pada 6 Juli 1887. 

Jalur kereta api itu diteruskan ke Bukittinggi sepanjang 90 kilometer dan dioperasikan mulai November 1891.

Hingga kini, banyak ruas kereta api di Sumbar yang tak lagi aktif. Jalur yang dibangun sejak zaman Belanda itu akan diaktifkan lagi. Ada sejumlah ruas yang jadi prioritas.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyatakan, reaktivasi jalur kereta api di sejumlah wilayah telah masuk dalam agenda pemerintah provinsi.

“Jalur Padang-Padang Pariaman-Kayu Tanam yang sudah ada, termasuk Padang,” ujar Mahyeldi di Padang, beberapa hari lalu.

Mahyeldi menuturkan, selain jalur tersebut, reaktivasi juga akan dilakukan pada jalur Padang Panjang-Sawahlunto, Padang Panjang-Bukittinggi dan Bukittinggi-Payakumbuh.

Koordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan terus dilakukan.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Dirjen Perkeretaapian. Kita sedang mencari lokomotif yang sesuai dengan jalur rel di Sumbar. Kemungkinan lokomotifnya ada di Swiss,” ungkap Mahyeldi.

Di Padang, kereta api difokuskan sebagai angkutan publik. “Hal ini (reaktivasi) sudah kita tuangkan dalam RPJ 2025 Sumatera Barat,” kata Mahyeldi.

Reaktivasi jalur kereta api di lintas Padang-Bukittinggi tidak hanya akan meningkatkan sektor transportasi, tetapi juga membangkitkan kembali nostalgia masa lampau dan membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. (*)



IKLAN



×
Berita Terbaru Update