Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Woow...Rombongan City Tour Forsesdasi Terkesima di Lubang Jepang

Kamis, 22 Desember 2022 | 10:32 WIB Last Updated 2022-12-22T03:32:58Z

Rombongan city tour Forsesdasi mendengarkan penjelasan pemandu wisata.

Bukittinggi, Rakyatterkini.com - Usai melakukan Rakernas, rombongan Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) melakukan city tour ke Padang Panjang dan Bukittinggi.

Sekretaris Daerah Sumatera Barat, Hansastri, mengatakan kunjungan kedua daerah ini bertujuan untuk memperkenalkan daerah pariwisata yang diminati oleh para wisatawan berkunjung ke Sumbar.

Seperti Rumah Gadang PDIKM di Padang Panjang yang merupakan objek wisata budaya Minangkabau, sebagai pusat dokumentasi dan informasi kebudayaan Minangkabau, dan sebuah museum mengenai informasi seputar kebudayaan Minangkabau sekaligus sebagai objek wisata budaya.

Rombongan yang dipimpin Sekda Sumbar menuju Bukittinggi untuk mengunjungi Istana Bung Hatta, Jam Gadang, Ngarai Sianok dan Lubang Jepang.

"Kalau ke Sumbar belum lengkap berkunjung ke Bukittinggi," sebut Sekda Hansastri.

Sesampai di Bukittinggi, rombongan city tour Forsesdasi disambut Asisten Administrasi Umum Setda Kota Bukittinggi Syafnir di Istana Bung Hatta, dan langsung mengajak mengelilingi Jam Gadang.

Syafnir menjelaskan kepada rombongan, Jam Gadang telah dijadikan sebagai objek wisata yang merupakan peninggalan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
 
Jam Gadang mulai dibangun pada 1926-1927 atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) 

Untuk Jamnya adalah hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmina. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto dari Koto Gadang, sementara pelaksana pembangunan adalah Haji Moran dengan mandornya St. Gigi Ameh yang merupakan putra Minangkabau, jelas Syafnir.

Setelah puas berkunjung Jam Gadang, rombongan melanjutkan ke Lobang Jepang. Di situ rombongan dipandu oleh salah seorang yang mengerti akan sejarah Lobang Jepang bernama Man yang akrab dipanggil Inyiak.

Sebelum masuk Lobang Jepang ini Man Inyiak menjelaskan bagaimana sejarah adanya Lobang Jepang tersebut. Panjang Lobang Jepang mencapai 6 kilometer dan lebarnya sekitar 2 meter. Terowongan ini bisa tembus ke beberapa lokasi, seperti Jam Gadang dan Benteng Fort De Kock.

Dibangun sejak Maret 1942, terowongan ini selesai dikerjakan pada Maret 1944. Kedalamannya sendiri mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah dengan memiliki 21 lorong yang tahan letusan bom seberat 500 kilogram.

Pembangunan Lobang Jepang dilakukan secara paksa yang disebut "Romusha" dengan mendatangkan pekerja dari berbagai daerah, seperti Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Lorong-lorong itu ada yang digunakan sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, ruang pelarian, ruang penyergapan, hingga penjara, bahkan lorong sebagai dapur. Kononnya merupakan tempat memutilasi tahanan yang tewas untuk memudahkan saat dibuang ke lubang air di bawah jurang Ngarai Sianok.

"Untuk keperluan wisata, Lobang Jepang dibuka hanya 1,5 kilometer, membutuhkan waktu 20 menit untuk menyusurinya," sebutnya.

Terlihat sekali rombongan Forsesdasi begitu terkesima mendengarkan penjelasan, bahkan rombongan tersebut tidak sabar ingin melihat semua lorong yang ada di Lobang Jepang itu.

Setiap lorong dikunjungi dan dijelaskan oleh pemandu wisata, sehingga para rombongan sangat puas dan berfoto bersama di pintu keluar.

Sekda Morolawali Utara, Musda Guntur mengatakan Lobang Jepang ini layak dikenang. Lobang Jepang wisata bersejarah yang paling menakjub sebagai pengingat sejarah. 

"Keren.. kita masuk sudah ada yang menjelaskan. Ini bisa menjadi pelajaran dari kenangan kelam dimasa penjajahan Jepang sebelum berkibarnya Sang Saka Merah Putih sebagai simbol negara Indonesia," ungkap Musda.

"Lobang Jepang luar biasa, bagaimana cara membuatnya sungguh tidak masuk diakal, tapi ada di Bukittinggi," ucapnya.

Musda juga menyampaikan pembangunan Lobang Jepang bisa menjadi renungan bagaimana pengorbanan masyarakat Indonesia yang ada di Bukittinggi. 

"Ini bisa menjadi contoh bagi kita semua, bagaimana pengorbanan dan perjuangan untuk pemersatu bangsa Indonesia," terangnya.

Selain itu, Musda juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah menerima selama berkunjung di Sumbar, baik itu di Padang dan Bukittinggi. 

"Masyarakat Sumbar terkenal ramah, apalagi di Bukittinggi kota yang sejuk yang sangat kuat memegang teguh agama Islam dan Adat Budaya Minangkabau. Termasuk suka berpantun itu yang terpenting," tuturnya sambil tersenyum lebar.

Lain lagi dengan Sekda Maluku Tenggara, Ahmad Yani Rahawarin, mengatakan sangat puas dengan kunjungan ke Bukittinggi ini. 

"Kita bisa mempelajari bagaimana program-program Pemko Bukittinggi dalam menjalankan pemerintahan yang memiliki  banyak potensi sumber daya, wisata alam dan kuliner," tukas Ahmad Yani.

Mengoptimalkan potensi wisata menjadi pendapatan daerah dan bagaimana upaya mengelolanya. Banyak hal bisa replikasi nanti di Maluku Tenggara.

"Bukittinggi sangat terkenal di dunia dengan Jam Gadang dan Lobang Jepang. Bahkan ada pepatah tidak lengkap berkunjung ke Sumbar kalau tidak ke Bukittinggi, ini sangat menarik sekali," imbuhnya. (nov)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update