Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Kamis 29 September 2022 20:00 WIB


Positif Aktif Sembuh Meninggal
104.644 209 102.063 2.372
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Punya Nilai Ekonomis Tinggi Kotoran Ternak Diolah jadi Pupuk

Selasa, 05 April 2022 | 20:30 WIB Last Updated 2022-04-05T13:30:47Z

Wabup meninjau langsung pembuatan pupuk kompos di Kelompok Tani. (Farid).
 


Tanah Datar, Rakyatterkini.com - Salah satu keuntungan terbesar yang dihasilkan dari memelihara ternak, yaitu dari kotorannya yang jika diolah menjadi pupuk kompos, maka akan punya nilai ekonomis yang tinggi. 


Dan pupuk kompos dari kotoran ternak ini juga sebagai alternatif mengantisipasi kelangkaan pupuk organik bersubsidi yang dikeluhkan petani.


“Kelangkaan pupuk bersubsidi sudah menjadi keluhan bagi petani sejak lama, tidak hanya di Tanah Datar saja, namu sudah hampir menyeluruh di Indonesia, walau pemerintah sudah berupaya menambah kuota, namun itu juga belum mencukupi, kebutuhan petani akan pupuk yang terus meningkat,” ucap Wakil Bupati Richi Aprian, SH, MH.


Terkait kuota pupuk bersubsidi di Tanah Datar, menurut wabup terus menambah kuota, namun seiring dengan itu kebutuhan petani juga terus bertambah pula.


Hal itu dikatakan Wabup Richi Aprian ketika meninjau langsung pembuatan pupuk kompos di Kelompok Tani Baringin Bersatu dan juga kelompok Unit Pengelolaan Pupuk Organik (UPPO) Hidup Bersama, Nagari Pitalah, Kecamatan Batipuh, Senin (4/4/2022).


“Kita sudah melihat langsung pengomposan kotoran ternak ini oleh Keltan Baringin Bersatu, dan prosesnya cukup cepat dari kotoran yang basah cukup dengan waktu tujuh hari sudah bisa kering dan diolah menjadi kompos, serta bisa langsung ditebar ketanaman. Sehingga, dengan penggunaan pupuk non organik ini biaya juga lebih murah,” ujarnya.


Dikatakan Wabup Richi Aprian, yang juga selaku Ketua HKTI Tanah Datar itu, penggunaan pupuk kompos ini bisa juga untuk berbagai tanaman seperti tanaman vanili. Dalam kesempatan itu,  wabup juga meninjau perkebunan vanili salah seorang petani di Nagari Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuh.


Wabup juga minta Bumnag dapat mengambil peran bersama pemerintah daerah dalam upaya memasarkan pupuk kompos ini.


Sebelumnya, Wardian dari Keltan Baringin Bersatu mengatakan saat ini sudah ada teknologi yang dapat mempercepat proses pengeringan kotoran sapi, sehingga lebih cepat dalam pengolahan menjadi kompos.


“Sebelumnya saya dalam mengolah kompos ini bisa makan waktu tiga bulan, karena terkendala pengeringan, namun sekarang dengan adanya teknologi ini, cukup tujuh hari kompos ini sudah bisa ditebar ketanaman, “ujarnya.  (farid)



IKLAN



×
Berita Terbaru Update