Notification

×

Iklan

Sumbar Andalkan Dua Inovasi Unggulan di IGA 2026

Rabu, 04 November 2026 | 11:00 WIB Last Updated 2026-11-04T05:22:51Z

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah memaparkan dua inovasi unggulan 

Padang, Rakyatterkini.com – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mempresentasikan dua inovasi andalan daerah dalam tahapan penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). 

Presentasi tersebut berlangsung secara daring dari Istana Gubernuran, Padang, Selasa (3/11/2026).

Dua inovasi yang menjadi unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar itu yakni Lameh Kesa dan Udah Gagah. Lameh Kesa merupakan terobosan pengolahan nira kelapa sawit menjadi gula merah untuk meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan. 

Sementara Udah Gagah adalah program deteksi dini kekambuhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) guna mencegah pemasungan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jiwa.

Dalam pemaparannya, Mahyeldi menegaskan bahwa keberlanjutan inovasi menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah. 

Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Sumbar terus memperkuat landasan regulasi, meningkatkan komitmen pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam pengembangan inovasi.

Menurutnya, kontribusi masyarakat, perguruan tinggi, media massa, hingga komunitas perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan daerah agar inovasi yang dihasilkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang.

“Untuk menjamin keberlanjutan inovasi daerah, kami melakukan integrasi pengembangan inovasi dari berbagai unsur masyarakat, memperkuat komitmen kepala organisasi perangkat daerah, serta menyiapkan regulasi yang lebih kuat,” ujar Mahyeldi.

Terkait inovasi Lameh Kesa, Mahyeldi menjelaskan bahwa program ini menghadirkan cara baru dalam memanfaatkan tanaman kelapa sawit. Jika selama ini sawit lebih banyak dikenal sebagai bahan baku minyak, melalui inovasi tersebut niranya dapat diolah menjadi gula merah yang memiliki nilai ekonomi.

Program ini diharapkan mampu membuka sumber penghasilan tambahan bagi petani, menciptakan kesempatan kerja, serta meningkatkan nilai jual potensi perkebunan daerah.

Pengembangan Lameh Kesa salah satunya dilakukan di Kecamatan Sungai Aur, Kabupaten Pasaman Barat. Mahyeldi menyampaikan, pengolahan nira sawit dari lahan seluas satu hektare berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp34 juta jika dipasarkan dalam bentuk gula cair. 

Nilainya bahkan dapat meningkat hingga Rp72 juta apabila diproses menjadi gula merah cetak.

Selain memberikan peluang ekonomi, inovasi tersebut juga menjadi alternatif pendapatan bagi petani ketika kebun sawit memasuki masa peremajaan atau replanting. Dengan demikian, petani tetap memiliki sumber penghasilan selama tanaman sawit yang baru belum menghasilkan.

Dari sisi lingkungan, pengolahan nira sawit melalui Lameh Kesa turut membantu mengurangi kebiasaan membakar bagian tanaman sawit yang dapat menimbulkan asap. 

Inovasi ini juga telah diterapkan di sejumlah daerah lain, termasuk Kota Padang Panjang, sebagai upaya memperluas hilirisasi produk berbasis potensi lokal.

Sementara itu, inovasi Udah Gagah berfokus pada upaya mengenali tanda-tanda kekambuhan ODGJ sejak dini. Pelaksanaannya melibatkan keluarga dan tenaga kesehatan melalui pendampingan serta pemantauan kondisi pasien secara berkelanjutan.

Melalui deteksi lebih awal, pasien diharapkan bisa memperoleh penanganan medis dengan cepat sehingga risiko kekambuhan dapat diminimalkan. Program ini sekaligus menjadi langkah pencegahan terhadap pemasungan yang bertentangan dengan hak serta martabat penyandang gangguan jiwa.

“Melalui Udah Gagah, kita ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat. Keluarga juga memperoleh pendampingan sehingga risiko kekambuhan dan praktik pemasungan dapat ditekan,” ungkap Mahyeldi.

Hingga saat ini, program Udah Gagah telah menjangkau sekitar 2.000 penerima manfaat. Pelaksanaannya juga mulai diadopsi oleh sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di daerah lain, di antaranya Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Mahyeldi menyebutkan, kedua inovasi tersebut merupakan wujud keseriusan Pemprov Sumbar dalam menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Lameh Kesa diarahkan untuk mendorong pengembangan produk turunan perkebunan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat berbasis potensi daerah. Adapun Udah Gagah menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa serta memastikan hak-hak ODGJ tetap terlindungi.

“Kami berharap inovasi-inovasi ini terus dikembangkan dan memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi Sumatera Barat, tetapi juga menjadi kontribusi bagi Indonesia,” pungkasnya.

Dalam kegiatan presentasi di hadapan tim penilai Kemendagri tersebut, Mahyeldi didampingi Kepala Balitbang beserta jajaran, Kepala Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin, serta perwakilan jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.(da)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update