Notification

×

Iklan

Agrowisata Indosiar Jadi Tempat Belajar Ekosistem Siswa

Rabu, 04 November 2026 | 09:45 WIB Last Updated 2026-11-04T02:45:00Z


Siswa-siswi saat melakukan kunjungan 

Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Pembelajaran mengenai ekosistem tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Alam juga dapat menjadi sarana pendidikan yang menarik bagi siswa untuk memahami hubungan antara makhluk hidup dan lingkungan sekitarnya.

Pengalaman belajar secara langsung itu dirasakan siswa kelas V SD IT Syaira Ilmi saat mengunjungi Agrowisata Indosiar di kawasan Panorama Baru, Kota Bukittinggi, Senin (2/11/2026). 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Belajar di Alam (BDA) yang digagas sekolah untuk memberikan pengalaman belajar dengan mengamati objek secara langsung.

Di kawasan agrowisata tersebut, para siswa berkesempatan mengenal berbagai jenis tanaman, mulai dari salak, durian, kakao hingga tumbuhan lainnya. Mereka juga dapat mempelajari keterkaitan antara berbagai unsur yang membentuk sebuah ekosistem.

Guru pendamping, Cici, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut disesuaikan dengan materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) kelas V, khususnya pembahasan mengenai ekosistem yang mencakup komponen biotik dan abiotik.

Ia menyebutkan, program BDA memberikan keleluasaan bagi setiap kelas untuk menentukan lokasi pembelajaran berdasarkan tema yang sedang dipelajari.

"Di sekolah kami ada program Belajar di Alam atau BDA. Setiap kelas memilih lokasi sesuai dengan tema pembelajaran. Untuk kelas V, materinya tentang ekosistem dalam pelajaran IPAS, yang membahas unsur biotik dan abiotik," ungkapnya.

Menurut Cici, kegiatan belajar di luar sekolah membuat siswa lebih mudah memahami materi karena dapat melihat dan mengamati langsung objek yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui buku pelajaran.

Kunjungan ke Agrowisata Indosiar bukan kali pertama dilakukan pihak sekolah. Sebelum kegiatan berlangsung, guru pendamping terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengelola agar seluruh rangkaian pembelajaran dapat dipersiapkan dengan baik. Termasuk menyediakan buah salak yang nantinya dapat dibawa pulang oleh para siswa.

Di balik fungsinya sebagai tempat pembelajaran dan wisata edukasi, Agrowisata Indosiar ternyata memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pertanian. Kebun yang berlokasi di Kelurahan Puhun Pintu Kabun, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, tersebut dirintis oleh pasangan suami istri, Bapak Indo dan Ibu Siar. Nama Indosiar sendiri diambil dari perpaduan nama keduanya.

Perjalanan usaha pertanian keluarga ini bermula dari budidaya jeruk manis. Bapak Indo mulai aktif mengembangkan tanaman tersebut melalui kelompok tani yang dibentuk pada 1980 atas arahan Departemen Pertanian.

Usaha itu mulai menunjukkan hasil pada 1993 dan bahkan berhasil meraih prestasi di tingkat Kota Bukittinggi. Namun, perjalanan budidaya jeruk tidak selalu berjalan mulus. Serangan penyakit tanaman yang dikenal dengan istilah SPPD mengakibatkan produktivitas jeruk mengalami penurunan.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah kemudian mendorong petani untuk beralih mengembangkan tanaman salak dengan membagikan bibit kepada masyarakat.

Bapak Indo menjadi salah satu petani yang menerima bantuan bibit tersebut. Pada tahap awal, ia menanam sekitar 300 rumpun salak. Seiring berjalannya waktu, jumlah tanaman terus bertambah hingga diperkirakan mencapai 500 rumpun.

Budidaya salak mulai memperlihatkan hasil pada 2011, atau sekitar lima tahun setelah penanaman pertama dilakukan pada 2006.

Pada mulanya, kebun tersebut hanya difokuskan sebagai lahan usaha pertanian. Namun, keberadaan tanaman salak yang tumbuh bergerombol di sekitar pangkal batang mulai menarik perhatian masyarakat. Banyak pengunjung berdatangan untuk melihat langsung keunikan tanaman tersebut.

Melihat tingginya minat masyarakat, muncul inisiatif untuk mengembangkan kebun salak menjadi destinasi wisata. Sekitar 2016 hingga 2017, kawasan itu mulai diarahkan menjadi agrowisata yang terbuka bagi pengunjung.

Pengembangan kawasan tersebut juga mendapat dorongan dari gagasan pemanfaatan kebun sebagai sarana pendidikan. Dalam sebuah kegiatan KB Nasional, Bapak Indo menyampaikan ide agar kebun yang dikelolanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran masyarakat.

Gagasan tersebut kemudian mendapat dukungan melalui bantuan dana sekitar Rp384 juta dari program KB Nasional. Dana itu digunakan untuk membangun akses jalan yang menghubungkan jalan raya dengan kawasan kebun sehingga lebih mudah dijangkau pengunjung.

Kini, Agrowisata Indosiar tidak hanya menjadi tempat pengembangan usaha pertanian, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata edukasi yang memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengenal dunia pertanian dan memahami ekosistem secara langsung.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update