Padang, Rakyatterkini.com – Perselisihan antara manajemen Semen Padang FC dan kelompok suporter Spartacks akhirnya berakhir. Manajemen PT Kabau Sirah Semen Padang secara resmi mencabut sanksi penutupan tribun yang sebelumnya diberlakukan terhadap kelompok suporter tersebut.
Informasi pencabutan sanksi itu diumumkan melalui akun Instagram resmi Semen Padang FC yang turut melibatkan penasihat klub, Andre Rosiade. Keputusan ini diambil setelah manajemen menerima dan mempertimbangkan permohonan maaf serta niat baik Spartacks yang disampaikan melalui surat resmi.
Dengan dicabutnya hukuman tersebut, para suporter kini kembali diperbolehkan menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion dan memberikan dukungan kepada tim berjuluk Kabau Sirah.
Kesepakatan untuk berdamai ini mengakhiri polemik yang sempat mencuat pada pertengahan Oktober 2026. Sebelumnya, manajemen Semen Padang FC menerbitkan surat bernomor 489/KRE/KSSP/10.2026 pada 21 Oktober 2026. Dokumen yang ditandatangani General Manager Denny Shulton itu memuat keputusan penutupan tribun akibat tindakan sejumlah oknum suporter setelah pertandingan melawan PSMS Medan pada 17 Oktober 2026.
Persoalan bermula ketika para pemain Semen Padang FC mendatangi tribun Spartacks seusai pertandingan untuk mengapresiasi dukungan yang diberikan suporter. Namun, kedatangan pemain tersebut justru direspons dengan sikap membelakangi lapangan dan meninggalkan tribun oleh sejumlah suporter.
Situasi semakin memanas ketika rombongan pemain dan ofisial hendak meninggalkan stadion. Berdasarkan catatan manajemen, terdapat sejumlah oknum suporter yang melakukan tindakan agresif dengan memukul badan dan kaca jendela bus tim. Perbuatan tersebut dinilai dapat mengancam keselamatan pemain maupun ofisial yang berada di dalam bus.
Atas kejadian itu, manajemen menyampaikan kekecewaan sekaligus mengingatkan suporter agar menyampaikan kritik dengan cara yang lebih bijaksana.
Dalam salah satu poin surat pemberitahuan penutupan tribun, manajemen menegaskan bahwa kritik terhadap tim harus disampaikan secara tertib dan santun tanpa mengganggu keselamatan siapa pun.
Manajemen juga mengingatkan bahwa pemain dan ofisial merupakan bagian dari keluarga besar Semen Padang FC sehingga sudah semestinya mendapatkan penghormatan serta perlindungan.
Keputusan penutupan tribun sebelumnya sempat mendapat tanggapan keras dari Spartacks. Melalui akun Instagram Spartacks Jakarta, kelompok suporter tersebut menyatakan tetap menghargai perjuangan para pemain, tetapi menyampaikan keberatan terhadap sikap manajemen klub.
Dalam pernyataan yang diunggah saat itu, Spartacks membantah memiliki niat untuk menyakiti pemain maupun ofisial. Mereka juga melontarkan kritik kepada jajaran manajemen dan meminta pihak yang dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya agar mempertimbangkan pengunduran diri.
Kini, ketegangan antara kedua pihak mulai mencair setelah manajemen menerima permohonan maaf dari Spartacks. Pencabutan sanksi ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk membangun kembali hubungan antara klub dan suporter.
Manajemen Semen Padang FC juga berharap hubungan harmonis tersebut dapat dipertahankan demi mendukung perjalanan tim ke depan serta perkembangan sepak bola Sumatera Barat.
Pesan persatuan turut disampaikan melalui unggahan resmi klub dengan kalimat, "United we stand, stronger than ever. Saatnya rapatkan barisan dan berjuang bersama demi kejayaan Kabau Sirah!"
Sementara itu, tokoh publik Miko Kamal turut memberikan tanggapan pada kolom komentar unggahan tersebut. Ia menyampaikan pesan singkat dalam bahasa Minangkabau, yakni "jan sombong, jan takabua", yang mengingatkan semua pihak agar tidak bersikap angkuh dan tetap rendah hati.
Pencabutan sanksi ini menjadi momentum bagi manajemen, pemain, dan suporter untuk kembali bersatu. Dukungan serta kritik yang membangun diharapkan dapat menjadi kekuatan bagi Semen Padang FC dalam meraih prestasi.(da*)


