![]() |
| Kepala Dinas Perhubungan Kota Sawahlunto, Eva Riamsyah. |
Sawahlunto, Rakyatterkini.com - Di banyak kota, lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang padam kerap dianggap sebagai kerusakan kecil yang bisa menunggu. Namun tidak di Kota Sawahlunto.
Di kota tambang yang kini bertransformasi menjadi kota wisata warisan dunia itu, satu lampu yang padam dimaknai sebagai berkurangnya rasa aman, terganggunya mobilitas warga di malam hari, hingga pudarnya citra sebagai kota wisata yang estetik dan hidup.
Pemahaman inilah yang melahirkan sebuah inovasi pelayanan publik bernama "Sawahlunto Terang" dari Dinas Perhubungan Kota Sawahlunto.
Di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Perhubungan Eva Riamsyah, inovasi ini mengubah paradigma pengelolaan PJU. Jika selama ini PJU identik dengan urusan teknis kelistrikan, kini didefinisikan ulang sebagai pelayanan keselamatan yang harus responsif, terukur, dan berorientasi pada nyawa.
Melalui Sawahlunto Terang, alur pelayanan tidak lagi bersifat menunggu, melainkan sistematis dan proaktif. Setiap laporan masyarakat yang masuk melalui kanal resmi, langsung ditindaklanjuti dengan survei lapangan, pemetaan tingkat urgensi, penentuan skala prioritas, hingga eksekusi perbaikan.
"Melalui Sawahlunto Terang, alur pelayanan dibuat sistematis dan terukur: setiap laporan masyarakat yang masuk, langsung direspon dengan survei lapangan, penentuan skala prioritas, hingga eksekusi perbaikan di lapangan. Tidak ada laporan yang mengendap," ujar Eva Riamsyah, Kamis (29/10/2026).
Semangat pelayanan cepat tersebut diamini oleh Kepala Bidang Prasarana dan Keselamatan Dinas Perhubungan Kota Sawahlunto, Suhendratno.
Menurut dia, filosofi utama dari inovasi ini adalah kecepatan dan keberpihakan pada warga.
"Inovasi ini adalah komitmen kami bahwa setiap laporan warga adalah perintah untuk bergerak. Dari gelap menjadi terang, dari laporan menjadi aksi, itu semangat yang diusung Tim PJU Dishub Sawahlunto," tegas Suhendratno.
Inovasi Sawahlunto Terang tidak berhenti pada respons perbaikan lampu yang padam. Lebih dari itu, Dinas Perhubungan saat ini juga melakukan survei lapangan secara masif sebagai basis perencanaan pemasangan jaringan baru PJU di sejumlah titik yang selama ini belum terjangkau.
Langkah ini dinilai krusial. Survei tersebut dilakukan untuk memastikan setiap tiang dan lampu baru yang akan dipasang benar-benar tepat sasaran, sesuai kebutuhan riil masyarakat, dan mendukung keselamatan serta kelancaran aktivitas warga, terutama di kawasan permukiman, akses wisata, dan jalur rawan.
Ini merupakan perencanaan jangka panjang untuk memastikan Sawahlunto semakin terang dan nyaman di masa depan.
Kecepatan dan keseriusan inovasi Sawahlunto Terang diuji secara nyata di lapangan. Salah satu contoh paling konkret adalah penanganan penerangan di Terowongan Jalan Lintas Sumatera, Muaro Kalaban.
Kawasan terowongan yang merupakan jalur nasional dan dikenal rawan kecelakaan tersebut, beberapa waktu terakhir dikeluhkan warga karena minim penerangan. Kondisi gelap gulita di malam hari meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara.
Menindaklanjuti keluhan warga dan rentetan kejadian kecelakaan, Dinas Perhubungan Sawahlunto tidak tinggal diam.
Dishub bergerak dalam dua jalur sekaligus. Secara administratif, berkoordinasi intensif dan menyampaikan surat resmi kepada pihak berwenang terkait status jalan nasional tersebut. Secara taktis, personel Tim PJU diturunkan langsung ke lapangan untuk melakukan pemasangan lampu penerangan jalan di area terowongan.
Hasilnya kini terlihat. Terowongan yang sebelumnya gelap dan rawan kini jauh lebih terang. Visibilitas pengguna jalan di malam hari meningkat signifikan, dan risiko kecelakaan dapat diminimalisir.
Apa yang dilakukan Dishub melalui Sawahlunto Terang sejatinya melampaui urusan teknis kelistrikan. Bagi Sawahlunto yang memosisikan diri sebagai Kota Wisata yang Estetik, Futuristik, Hidup dan Menghidupi, cahaya adalah investasi.
Jalan yang terang memiliki tiga makna investasi sekaligus:
Pertama, investasi keselamatan. Penerangan yang baik menekan angka kecelakaan lalu lintas dan mencegah tindak kriminalitas di malam hari.
Kedua, investasi ekonomi. Aktivitas warga dan wisatawan di malam hari menjadi lebih nyaman dan lebih lama, sehingga roda ekonomi, terutama pelaku UMKM malam, dapat terus berputar.
Ketiga, investasi kepercayaan. Ketika pemerintah hadir dengan cepat hanya atas satu laporan lampu padam, kepercayaan publik terbangun. Masyarakat merasa didengar, dilayani, dan dilindungi.
Dari satu lampu yang padam, Dinas Perhubungan Kota Sawahlunto membuktikan bahwa pelayanan publik yang cepat dan responsif mampu menerangi kembali bukan hanya jalanan, tetapi juga rasa aman warga. (Adv/Benny)




