Notification

×

Iklan

Nil Maizar Dipecat, Ini Evaluasi Permainan Semen Padang FC

Kamis, 22 Oktober 2026 | 17:25 WIB Last Updated 2026-10-22T10:25:00Z

Semen Padang FC

Padang, Rakyatterkini.com – Keputusan Semen Padang FC mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Nil Maizar menjadi sorotan di kalangan pencinta sepak bola nasional, terutama pendukung Kabau Sirah di Sumatera Barat. Keputusan tersebut diambil setelah tim berjuluk Kabau Sirah itu kalah tipis dari PSPS Pekanbaru pada pekan keempat Liga 2.

Jika dilihat dari hasil pertandingan, pergantian pelatih tersebut terkesan terburu-buru. Sebab, dalam empat pertandingan awal, Semen Padang FC telah mengantongi dua kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan.

Namun, jurnalis olahraga senior Sumatera Barat, Rakhmatul Akbar, menilai keputusan manajemen bukan semata-mata dipicu oleh hasil pertandingan terakhir. Dalam siniar Buka Kata, ia menjelaskan bahwa evaluasi terhadap kinerja Nil Maizar telah berlangsung sejak masa persiapan tim.

Menurut Rakhmatul, Semen Padang FC sudah menjalani lima pertandingan pramusim dan empat laga resmi. Akan tetapi, perkembangan permainan tim dinilai belum menunjukkan perubahan berarti.

"Pergantian pelatih setelah empat pertandingan tentu bukan keputusan mudah, apalagi tim baru sekali kalah. Namun, penilaian tidak bisa hanya didasarkan pada tiga atau empat laga. Ada lima pertandingan pramusim dan empat pertandingan resmi yang sudah dijalani, tetapi permainan tim masih terlihat sama. Kekalahan dari PSPS Pekanbaru akhirnya menjadi pemicu bagi manajemen untuk mengambil keputusan," kata Rakhmatul.

Ia menilai manajemen perlu bertindak cepat agar persoalan permainan tidak berlarut-larut dan mengganggu target tim mengumpulkan poin demi meraih tiket promosi. Dengan kompetisi yang berlangsung hingga 27 pertandingan, menunda evaluasi sampai tim mengalami serangkaian kekalahan berpotensi membuat posisi Semen Padang FC semakin sulit di klasemen.

Skuad Bertabur Bintang Belum Tampil Maksimal

Pada musim ini, Semen Padang FC dinilai memiliki komposisi pemain yang mumpuni dan kerap disebut sebagai tim Galacticos di kasta kedua sepak bola Indonesia. Meski diperkuat sejumlah pemain berpengalaman, kekuatan individu tersebut belum sepenuhnya menyatu menjadi permainan kolektif yang efektif.

Rakhmatul menyoroti strategi serangan Kabau Sirah yang dianggap terlalu mengandalkan kedua sisi sayap. Minimnya variasi serangan melalui lini tengah membuat pola permainan mereka mudah dibaca oleh tim lawan.

Ia menilai situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi pelatih dalam memaksimalkan potensi pemain yang tersedia. Lawan dapat memperkuat penjagaan di sektor tengah sekaligus membiarkan pemain Semen Padang menghabiskan tenaga saat membangun serangan dari sisi lapangan.

"Persoalannya adalah bagaimana mengolah skuad mahal yang dipenuhi pemain berkualitas. Para pemain bintang itu belum menunjukkan kemampuan terbaiknya di lapangan. Di sinilah kualitas pelatih diuji. Lawan bisa membaca pola permainan Nil Maizar dengan mudah, cukup memperkuat lini tengah dan membiarkan pemain Semen Padang terus bergerak di sisi kanan dan kiri sampai kehabisan tenaga sekitar menit ke-70," ujar pria yang akrab disapa Camaik tersebut.

Statistik Kemenangan atas Persiraja Jadi Catatan

Evaluasi terhadap empat pertandingan pertama memperlihatkan sejumlah persoalan dalam efektivitas serangan Semen Padang FC. Rakhmatul mencontohkan laga pembuka melawan Persiraja Banda Aceh yang berakhir dengan kemenangan 1-0 bagi Kabau Sirah melalui gol Risman Ariyanto Maring.

Menurut analisisnya, gol tersebut tidak terlepas dari situasi ketika perhatian dua pemain bertahan Persiraja tertuju pada pergerakan Ilija Spasojevic.

Meski berhasil meraih tiga poin, statistik pertandingan menunjukkan Persiraja mampu menciptakan lebih banyak peluang berbahaya.

Semen Padang FC mencatat penguasaan bola sebesar 55 persen, sedangkan Persiraja menguasai 45 persen. Namun, Persiraja mampu melepaskan 17 tembakan, jauh lebih banyak dibandingkan tujuh percobaan yang dilakukan Kabau Sirah.

Dari total tembakan tersebut, Persiraja menghasilkan tujuh tembakan tepat sasaran. Sementara itu, Semen Padang FC hanya membukukan satu tembakan yang mengarah ke gawang dan berbuah gol.

Rakhmatul menilai data tersebut menunjukkan bahwa penguasaan bola yang lebih tinggi belum tentu mencerminkan efektivitas serangan.

Menurutnya, Persiraja justru mampu membangun alur serangan yang lebih baik hingga menciptakan ancaman nyata di depan gawang. Sebaliknya, Semen Padang FC belum optimal dalam mengubah penguasaan bola menjadi peluang berkualitas.

Stamina Pemain Menurun pada Babak Kedua

Dalam pertandingan kedua melawan PSIS Semarang dan laga ketiga menghadapi PSGC Ciamis, terdapat peningkatan pada jumlah percobaan tembakan dan keberanian pemain menguasai bola di sektor tengah. Namun, masalah mendasar kembali terlihat ketika Semen Padang FC berhadapan dengan PSPS Pekanbaru.

Rakhmatul menjelaskan bahwa PSPS mampu memanfaatkan kelemahan tersebut dengan memperkuat sektor tengah melalui penempatan enam pemain. Strategi itu membuat Semen Padang kesulitan mengembangkan serangan, sementara lawan menunggu hingga stamina pemain Kabau Sirah menurun pada babak kedua.

Kondisi fisik yang terkuras akibat pola serangan melalui kedua sayap turut memengaruhi konsentrasi pertahanan pada 20 menit terakhir pertandingan.

Ia juga menyinggung gol penyama kedudukan PSIS Semarang yang tercipta pada menit ke-80 serta gol kemenangan PSPS Pekanbaru setelah menit ke-70. Dalam pertandingan melawan PSPS, kesalahan umpan Safrudin Tahar dimanfaatkan lawan untuk melancarkan serangan balik cepat yang melibatkan tiga pemain.

Situasi tersebut, menurut Rakhmatul, memperlihatkan pentingnya strategi alternatif dan pengelolaan stamina pemain selama pertandingan.

Rotasi Penyerang dan Strategi Alternatif Perlu Diperhatikan

Selain mengevaluasi pola serangan, Rakhmatul turut menyoroti pengaturan menit bermain penyerang senior Ilija Spasojevic. Ia menilai memainkan Spasojevic sejak awal pertandingan tidak selalu menjadi pilihan paling efektif, mengingat kondisi fisik sang pemain mulai menurun ketika laga memasuki menit ke-65.

Sebagai alternatif, ia menyarankan agar Irvan Mofu diberi kesempatan bermain sejak menit awal untuk menekan pertahanan lawan. Spasojevic kemudian dapat dimasukkan pada babak kedua ketika pemain belakang lawan mulai kehilangan stamina.

"Mengapa tidak menggunakan pola sebaliknya? Irvan Mofu bisa bermain selama 60 menit pertama untuk menguras tenaga bek lawan. Setelah stamina pertahanan lawan menurun, barulah Spasojevic dimainkan. Ia merupakan penyerang yang memiliki naluri penyelesaian akhir dan mampu memanfaatkan peluang dalam situasi yang seimbang," jelas Camaik.

Rakhmatul juga menilai keterlambatan pergantian pemain dan belum terlihatnya strategi alternatif menjadi kelemahan Semen Padang FC saat menghadapi PSPS Pekanbaru.

Ketika PSPS memasukkan tiga pemain segar untuk memanfaatkan penurunan kondisi fisik lawan, respons dari bangku cadangan Kabau Sirah dinilai tidak cukup cepat dalam menyesuaikan perubahan situasi pertandingan.

Untuk menghadapi sisa kompetisi, termasuk jadwal tandang yang padat, Semen Padang FC dinilai membutuhkan pelatih yang mampu berkomunikasi dengan baik, membaca perubahan permainan secara langsung, serta memanfaatkan data statistik dan pemantauan kondisi fisik pemain sebagai dasar pengambilan keputusan.

Manajemen Diminta Belajar dari Era Kejayaan

Di luar persoalan teknis di lapangan, Rakhmatul mengingatkan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengelolaan klub. Menurutnya, manajemen perlu lebih selektif ketika merekrut pemain maupun pelatih, termasuk mempertimbangkan durasi kontrak dan risiko finansial apabila kerja sama harus dihentikan lebih awal.

Ia menyinggung pencoretan gelandang asing Lazar Zlicic yang masa bermainnya terbilang singkat sebagai salah satu hal yang patut menjadi bahan evaluasi.

Rakhmatul juga menyarankan manajemen untuk mempelajari kembali proses pembentukan tim Semen Padang FC pada masa kejayaan Liga Super Indonesia musim 2010/2011.

Pada periode tersebut, kekuatan tim dibangun secara bertahap selama tiga hingga empat tahun sejak masih berkompetisi di Divisi Utama. Proses itu ditopang kesinambungan pengelolaan klub oleh sejumlah tokoh, di antaranya Toto Sudibyo, Daconi Khotob, almarhum Asdian, dan Win Bernadino.

Menurutnya, keberhasilan membangun tim tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya pemain bintang. Konsistensi manajemen, strategi pemasaran, serta pembinaan pemain muda juga menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing klub.

Rakhmatul berharap Semen Padang FC dapat menyusun rencana pembangunan tim untuk dua hingga tiga tahun ke depan dengan sistem pengelolaan yang lebih terarah.

"Jika manajemen bersedia bersabar, bangunlah target tersebut untuk dua sampai tiga tahun ke depan melalui tata kelola yang baik, pemasaran yang kuat, dan pembinaan usia dini yang terintegrasi. Dengan membentuk kerangka serta karakter tim secara bertahap, Semen Padang FC akan memiliki fondasi yang lebih kokoh ketika kembali promosi ke Liga 1," tutup Rakhmatul Akbar.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update