Jakarta, Rakyatterkini.com – Olahraga tidak hanya menjadi wadah untuk berkompetisi dan meraih prestasi, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun hubungan diplomatik antarnegara. Melalui olahraga, Indonesia dapat memperluas jaringan kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya bangsa kepada masyarakat dunia.
Hal tersebut disampaikan Wakil VI Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Josef Adreanus Nae Soi, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Global Sport Governance: Peran KONI Pusat dalam Diplomasi” bersama mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Jayabaya, Jakarta.
Dalam pemaparannya, Josef menjelaskan bahwa diplomasi olahraga merupakan bagian dari praktik hubungan internasional. Aktivitas ini mencakup proses negosiasi, kolaborasi antarlembaga, hingga pertukaran wawasan dan kebudayaan antara satu negara dengan negara lainnya.
“Inti dari hubungan internasional adalah negosiasi, ini yang bicara praktisi,” ujar Josef dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (31/10/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa Global Sport Governance merupakan kerangka tata kelola olahraga dunia yang terdiri atas aturan, norma, dan institusi untuk mengatur kegiatan olahraga lintas negara. Pelaksanaannya melibatkan pemerintah, federasi olahraga internasional, serta berbagai organisasi multilateral yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan olahraga global.
Josef menyebut KONI Pusat turut mengambil bagian dalam diplomasi olahraga melalui hubungan bilateral dengan sejumlah negara. Kerja sama tersebut tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan kemampuan atlet, melainkan juga membangun hubungan baik dan mempererat persahabatan antarbangsa.
“Peran KONI adalah bilateral Sport Diplomacy,” ungkapnya.
Sebagai contoh, ia memaparkan kerja sama KONI Pusat dengan Korea Selatan yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 2018. Kesepakatan itu mencakup pertukaran atlet dan pelatih serta pelaksanaan latihan bersama.
Selain itu, KONI juga menjalin kolaborasi dengan Brunei Darussalam melalui pengiriman pelatih polo dari Indonesia. Kerja sama lainnya dilakukan bersama Timor-Leste dalam bentuk program pembelajaran cabang olahraga petanque di Nusa Tenggara Barat.
Melalui berbagai program tersebut, atlet dan pelatih dari masing-masing negara memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman, mengembangkan keterampilan, serta mempelajari sistem dan metode pembinaan olahraga yang diterapkan negara lain.
Pencak Silat sebagai Sarana Diplomasi Budaya
Salah satu pembahasan utama dalam diskusi tersebut adalah upaya KONI Pusat bersama Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PB IPSI) untuk memperjuangkan pencak silat agar dapat dipertandingkan dalam Olimpiade Los Angeles 2028.
Josef menilai pencak silat mempunyai nilai strategis dalam diplomasi budaya Indonesia. Sebagai seni bela diri yang berasal dari tradisi Nusantara, pencak silat dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan warisan budaya Indonesia di kancah internasional.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sejumlah langkah strategis, di antaranya meningkatkan kompetensi pelatih melalui sertifikasi bertaraf internasional, membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di berbagai negara, serta memperluas kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pencak silat di tingkat global.
Berbagai upaya itu diharapkan mampu memperluas perkembangan pencak silat di luar negeri, meningkatkan jumlah peminat dan pelakunya, sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Di sisi lain, perjuangan memasukkan pencak silat ke dalam Olimpiade juga memerlukan dukungan dan sinergi dengan berbagai organisasi serta pemangku kepentingan olahraga dunia.
Mahasiswa Diajak Merancang Strategi Diplomasi
Diskusi bersama mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jayabaya ini juga menjadi ruang pembelajaran mengenai keterkaitan antara olahraga, diplomasi, dan kebijakan internasional.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan tugas menyusun policy brief dengan tema “Strategi KONI agar Pencak Silat Masuk Olimpiade Los Angeles 2028: Perspektif Diplomasi HI”.
Melalui penugasan ini, mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi olahraga Indonesia dalam menembus panggung internasional. Mereka juga diajak mempelajari pengaruh organisasi olahraga dunia serta menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan sudut pandang hubungan internasional.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah perwakilan KONI Pusat, yakni Kepala Bidang Luar Negeri Gudadi Bambang Sasongko, Kepala Bidang Sport Intelligence Eman Sungkowo, Kepala Bidang Media dan Humas Tirto Prima Putra, Staf Ahli Hamka Handaru, Wakil Kepala Bidang Media dan Humas Martinez dos Santos, serta Wakil Kepala Bidang Sport Intelligence Syarif Hidayat.
Dari pihak Universitas Jayabaya, rombongan dipimpin Ketua Program Studi Hubungan Internasional Laila Indriyanti Fitria bersama dosen Nina Widyaswasti Aisha.
Pengalaman Sanksi FIFA Jadi Pelajaran
Dalam kesempatan yang sama, Josef turut mengingatkan pengalaman Indonesia ketika menghadapi sanksi dari FIFA pada periode 2015–2016. Peristiwa tersebut dinilai menjadi gambaran nyata mengenai pentingnya tata kelola organisasi dan koordinasi dalam dunia olahraga internasional.
Persoalan itu berawal dari keputusan pemerintah membekukan PSSI yang kemudian berujung pada pemberian sanksi oleh FIFA. Akibatnya, Indonesia mengalami pembatasan keikutsertaan dalam sejumlah agenda sepak bola internasional.
Sanksi tersebut akhirnya dicabut pada Mei 2016 setelah Indonesia memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan FIFA.
Josef menilai kejadian itu menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan olahraga di tingkat nasional memiliki keterkaitan dengan regulasi dan hubungan kelembagaan di tingkat internasional.
Karena itu, komunikasi dan koordinasi antara pemerintah, organisasi olahraga nasional, serta federasi internasional harus terus diperkuat agar Indonesia dapat mempertahankan eksistensinya dalam berbagai kompetisi dunia.
Ia menegaskan bahwa diplomasi olahraga, baik melalui kerja sama bilateral maupun multilateral, dapat dimanfaatkan sebagai sarana mempererat hubungan antarnegara. Selain mendukung peningkatan kualitas pembinaan dan prestasi atlet, olahraga juga memiliki peluang besar untuk mengangkat identitas serta kebudayaan Indonesia di mata dunia.(da*)


