Notification

×

Iklan

Jembatan Bukik Batabuah Diperlebar, Progres Capai 55 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 16:46 WIB Last Updated 2026-10-27T09:46:00Z

Jembatan Bukik Batabuah Agam Ditargetkan Rampung 13 Desember

Agam, Rakyatterkini.com – Pembangunan kembali Jembatan Bukik Batabuah di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus dikebut dengan mengutamakan aspek keselamatan dan mitigasi bencana. Jembatan permanen tersebut dirancang memiliki lebar delapan meter, terdiri atas badan jalan enam meter serta bahu jalan masing-masing satu meter di kedua sisi.

Selain memperlebar jembatan, pekerjaan juga mencakup penataan alur sungai untuk meningkatkan kapasitas aliran air. Dasar sungai dikeruk hingga lebih dalam, sehingga jarak vertikal antara dasar sungai dan lantai jembatan mencapai enam meter.

Direktur CV Midya Karya, Delfa Oktra, Selasa (13/10/2026), mengatakan perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko luapan air yang mengancam permukiman di sekitar sungai. Sebelumnya, jarak luapan air terhadap lantai rumah warga hanya sekitar dua meter, sedangkan setelah penataan, ambang keamanan diperkirakan meningkat menjadi sekitar lima meter.

Delfa menjelaskan, hingga pertengahan Oktober 2026, progres fisik pembangunan jembatan telah mencapai sekitar 55 persen. Pekerjaan yang dimulai pada 5 Agustus 2026 itu ditargetkan selesai pada 13 Desember 2026.

Pelaksanaan proyek melibatkan 12 pekerja dengan dukungan dua unit ekskavator merek Caterpillar dan Komatsu. Alat berat tersebut digunakan untuk mengeruk serta memperlebar aliran sungai di sekitar lokasi pembangunan.

Jembatan Bukik Batabuah memiliki peran penting dalam menunjang konektivitas masyarakat. Infrastruktur ini menghubungkan lima nagari di Kabupaten Agam, yakni Bukik Batabuah, Lasi, Canduang, Sungai Pua, dan Kubang Putiah.

Jalur tersebut juga menjadi salah satu akses alternatif yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau melalui rute Padang–Pekanbaru. Keberadaannya turut membantu mengurangi kepadatan kendaraan ketika jalur utama di kawasan Tanjung Alam maupun Baso mengalami kemacetan.

Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, menerangkan bahwa pembangunan jembatan permanen ini dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan mitigasi bencana. Menurutnya, infrastruktur yang dibangun pada 2026 tersebut merupakan pengganti fasilitas darurat yang sebelumnya digunakan setelah bencana melanda kawasan itu.

“Pada awal kejadian bencana, akses masyarakat hanya ditunjang jembatan darurat dari kayu, kemudian diganti dengan Jembatan Bailey. Sekarang, kita membangun jembatan beton permanen dengan lebar delapan meter dan ruang bebas vertikal enam meter dari dasar sungai,” kata Firdaus, Selasa (13/10/2026).

Ia menambahkan, penanganan tidak hanya dilakukan terhadap struktur jembatan, tetapi juga pada sungai yang melintasi kawasan Bukik Batabuah. Lebar aliran sungai yang sebelumnya sekitar empat meter diperbesar menjadi 10 meter agar mampu menampung aliran air dengan lebih baik.

Firdaus menyebutkan, salah satu faktor yang menyebabkan jembatan sebelumnya rusak akibat galodo pada 2024 adalah kondisi sungai yang sempit dan dangkal. Keberadaan tiang penyangga di tengah aliran juga berpotensi menghambat material yang terbawa banjir.

Karena itu, jembatan baru dibangun tanpa pilar di bagian tengah sungai. Desain tersebut diharapkan membuat aliran air dan material banjir dapat melewati bawah jembatan tanpa mudah tersangkut pada struktur penyangga.

Menurut Firdaus, pembangunan ini sangat penting mengingat Bukik Batabuah merupakan kawasan yang membutuhkan jalur evakuasi dan infrastruktur tangguh terhadap bencana, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar Gunung Marapi yang masih aktif.

“Jalur mitigasi bencana di Bukik Batabuah sangat penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan ratusan warga yang bermukim di sekitar kawasan kawah aktif Gunung Marapi,” ujarnya.

Pembangunan Jembatan Bukik Batabuah dibiayai melalui skema Dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan untuk Kabupaten Agam. Nilai kontrak proyek tersebut mencapai Rp3.537.044.588 atau sekitar Rp3,5 miliar.

Dana tersebut merupakan alokasi bantuan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan dan pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana.

Proyek ini dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Agam melalui Paket III Tambahan TKD untuk pembangunan Jembatan Bukik Batabuah (J.106). Pekerjaan tersebut tercatat dalam kontrak Nomor 2.2.34/JBT.TKD-P.III/DPUTR-AG/VII.2026.

Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada CV Midya Karya, sementara pengawasan teknis dilakukan oleh konsultan pengawas CV Bina Citra Consultant.

Firdaus berharap pembangunan jembatan beserta penataan sungai dan pelebaran jalan tersebut dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Ia juga berharap infrastruktur yang dibangun dengan pendekatan mitigasi bencana itu mampu meningkatkan keamanan akses transportasi sekaligus mendukung keselamatan warga dalam jangka panjang.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update