Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI terus memperkuat pengawasan di berbagai jalur masuk yang rawan dimanfaatkan jaringan penyelundup untuk memasukkan narkotika ke Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui peningkatan koordinasi antarlembaga serta kerja sama dengan mitra internasional guna menekan peredaran gelap narkotika.
Pelaksana Tugas Deputi Pemberantasan BNN RI, Brigadir Jenderal Polisi Adri Irniadi, mengungkapkan bahwa jalur laut menjadi salah satu perhatian utama dalam upaya pencegahan penyelundupan narkotika. Pasalnya, jaringan sindikat internasional masih kerap menggunakan jalur perairan untuk membawa barang terlarang tersebut ke wilayah Indonesia.
Adri menyebut Selat Malaka sebagai salah satu kawasan yang sering dimanfaatkan penyelundup narkotika, terutama oleh jaringan yang berasal dari kawasan Segitiga Emas atau Golden Triangle di Asia Tenggara.
Menurutnya, letak geografis Selat Malaka yang strategis, tingginya permintaan pasar, serta besarnya keuntungan dari perdagangan narkotika di Indonesia menjadi sejumlah faktor yang membuat kawasan tersebut rentan terhadap aktivitas penyelundupan.
Di samping memperketat pengawasan terhadap narkotika yang masuk dari luar negeri, BNN juga meningkatkan upaya deteksi terhadap kemungkinan adanya produksi narkotika di dalam negeri. Salah satu yang menjadi perhatian ialah pengolahan sabu dalam bentuk cair menjadi sabu kristal atau crystal methamphetamine.
Dalam pengungkapan kasus terbaru, BNN berhasil membongkar laboratorium narkotika ilegal atau clandestine laboratory di Aceh. Dari operasi tersebut, petugas menyita sekitar 1,2 ton bahan baku sabu cair (liquid methamphetamine) yang diduga telah dipersiapkan untuk menjalani proses pengolahan lebih lanjut.
Adri menjelaskan, keberhasilan pengungkapan laboratorium tersebut tidak terlepas dari proses penyelidikan yang mendalam, disertai pertukaran informasi intelijen dengan instansi terkait dan mitra penegak hukum dari luar negeri.
Ia menegaskan bahwa pemberantasan narkotika membutuhkan penanganan yang komprehensif. Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan di pintu masuk dan wilayah perbatasan, tetapi juga harus diiringi dengan upaya mendeteksi serta mencegah munculnya tempat produksi narkotika ilegal di dalam negeri.
Karena itu, BNN terus mendorong penguatan sinergi dengan berbagai instansi pemerintah dan lembaga penegak hukum internasional. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penyelundupan sekaligus menekan peredaran gelap narkotika.
Adri berharap, peningkatan pengawasan dan kerja sama lintas negara dapat mempersempit ruang gerak sindikat narkotika serta memperkuat perlindungan terhadap masyarakat, khususnya generasi muda, dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.(da*)


