Notification

×

Iklan

Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp19.000

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:26 WIB Last Updated 2026-10-28T19:27:18Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com– Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah tidak akan melemah hingga menyentuh Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Keyakinan tersebut didasarkan pada kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih cukup stabil, meskipun rupiah tengah menghadapi tekanan.

Airlangga menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di Jakarta, Rabu. Ia menilai kondisi makroekonomi nasional masih menjadi faktor pendukung bagi ketahanan rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

“Kita lihat saja, tetapi kita lebih optimistis rupiah tidak menembus Rp19.000 per dolar AS. Kita optimistis dengan kondisi makroekonomi,” ujar Airlangga.

Di pasar valuta asing, rupiah mengakhiri perdagangan Rabu dengan pelemahan sebesar 28 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp18.184 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.156 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada sore hari tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS.

BI menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dan sejumlah mata uang di kawasan Asia masih dibayangi ketidakpastian terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah. Situasi geopolitik tersebut turut memicu tekanan di pasar keuangan internasional.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik membuat harga minyak dunia bertahan pada level tinggi, yakni di atas 115 dolar AS per barel. Kondisi ini juga meningkatkan risiko terhadap fiskal ke depan.

Selain itu, peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat turut menjadi perhatian pelaku pasar. Erwin menyebut ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat di AS mengalami peningkatan.

Menurut dia, meningkatnya sikap investor yang cenderung menghindari aset berisiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS. Situasi tersebut juga memicu perpindahan modal keluar dari negara-negara berkembang dan berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di samping itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri menjelang akhir bulan ikut memengaruhi pergerakan mata uang nasional.

Meski menghadapi sejumlah tekanan, Erwin menilai pelemahan rupiah secara umum masih bergerak sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara lain di kawasan.

Secara bulanan, rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 1,15 persen. Adapun cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 berada di angka 146,3 miliar dolar AS.

Untuk meredam tekanan dan mempertahankan stabilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan. Upaya tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi spot.

Selain intervensi di pasar valuta asing, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas pasar keuangan.

Erwin menegaskan bahwa BI terus menjalin koordinasi dan komunikasi dengan perusahaan, pelaku pasar, serta berbagai pihak terkait guna merespons perkembangan ekonomi dan keuangan.

Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kelancaran mekanisme pasar sekaligus memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil dan bergerak sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update