![]() |
| Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah foto bersama. |
Sawahlunto, Rakyatterkini.com – Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah mengingatkan pentingnya langkah antisipasi terhadap potensi bencana di wilayah Kota Sawahlunto. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri sosialisasi kebencanaan yang diikuti lebih dari 100 peserta, Rabu (23/9/2026).
Menurut Jeffry, upaya menghadapi bencana tidak boleh hanya dilakukan setelah kejadian berlangsung. Seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat perlu memperkuat mitigasi serta mengurangi potensi risiko sejak dini.
Sosialisasi tersebut diikuti unsur pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, serta jajaran yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam melakukan mitigasi bencana di wilayah masing-masing.
Pada kesempatan itu, BPBD Kota Sawahlunto memaparkan hasil survei dan pemetaan mengenai sejumlah titik yang memiliki potensi risiko bencana. Dari pemetaan tersebut, terdapat empat faktor yang dinilai dapat memperbesar ancaman banjir dan tanah longsor.
Faktor pertama adalah berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan pohon yang berfungsi menahan tanah di kawasan lereng. Selanjutnya, terdapat riol atau saluran drainase jalan yang belum tersedia maupun tidak berfungsi dengan baik.
Faktor ketiga berkaitan dengan kapasitas riol yang belum mampu menampung limpasan air hujan secara optimal sehingga berpotensi menyebabkan air meluber ke badan jalan. Sementara itu, faktor lainnya adalah masih terdapat rumah warga yang belum dilengkapi talang air.
Jeffry meminta hasil survei dan pemetaan tersebut segera ditindaklanjuti dalam bentuk langkah konkret, bukan hanya menjadi dokumen.
"Saya minta BPBD bersama perangkat daerah terkait segera menindaklanjuti sesuai kewenangannya. Pemerintah desa dan kelurahan juga harus melakukan langkah mitigasi terhadap empat faktor tersebut. Jangan menunggu bencana terjadi, tetapi lakukan pengurangan risiko sejak sekarang," ujar Jeffry.
Selain itu, Jeffry menyoroti keberadaan tujuh Desa Tangguh Bencana (Destana) yang telah berjalan di Sawahlunto. Ia berharap Destana dapat terus berperan sebagai ujung tombak dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
Dengan memperkuat koordinasi antara BPBD, perangkat daerah, pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, serta kelompok siaga bencana, hasil pemetaan diharapkan dapat diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan. Dengan demikian, upaya mitigasi tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata. (benny)


