Jakarta, Rakyatterkini.com — Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) menyatakan dukungannya kepada maestro penyair Indonesia, Taufiq Ismail, untuk diusulkan sebagai calon penerima Nobel Sastra Dunia.
Deklarasi tersebut disampaikan Ketua TISI, Octavianus Masheka, bersama para peserta dan tamu undangan dalam kegiatan sastra yang dirangkai dengan peluncuran antologi puisi berjudul Merdeka Katamu. Buku tersebut memuat karya dari 81 penyair yang mengangkat berbagai perspektif tentang Indonesia.
Kegiatan berlangsung di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, lantai 4 Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (6/9/2026). Acara digelar mulai pukul 13.30 hingga 17.30 WIB dan dipandu Swary Utami Dewi sebagai pembawa acara.
Sejumlah tokoh sastra turut hadir dan membacakan puisi, di antaranya Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri dan Jose Rizal Manua. Kegiatan ini juga diikuti sejumlah penyair, sastrawan, budayawan, seniman, akademisi, serta mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Acara yang masih menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut digagas dan dilaksanakan TISI. Selain deklarasi, kegiatan juga diisi diskusi sastra dengan narasumber Octavianus Masheka, Esha Tegar Putra, dan Helvy Tiana Rosa. Diskusi dipandu oleh Ewith Bahar.
Sebelum rangkaian kegiatan dimulai, peserta terlebih dahulu mendengarkan sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono.
Dalam kesempatan itu, Octavianus mengajak seluruh peserta untuk menyatakan dukungan terhadap Taufiq Ismail sebagai tokoh sastra Indonesia yang dinilai layak diperhitungkan dalam ajang Nobel Sastra.
Menurut Octavianus, dukungan tersebut merupakan bentuk apresiasi komunitas sastra terhadap kiprah panjang Taufiq Ismail dalam dunia perpuisian Indonesia.
Ia menilai karya-karya Taufiq Ismail selama puluhan tahun konsisten mengangkat persoalan sosial dan berbagai dinamika kehidupan bangsa. Tema-tema tentang Indonesia, menurutnya, telah menjadi bagian penting dalam perjalanan kepenyairan Taufiq sejak 1966 hingga saat ini.
Atas dasar itu, TISI memandang Taufiq Ismail memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sastra Indonesia dan berharap pencalonannya sebagai penerima Nobel Sastra Dunia dapat terealisasi.
Selain deklarasi dan diskusi, kegiatan tersebut juga dimeriahkan parade pembacaan puisi. Sejumlah nama yang tampil antara lain Nissa Renganis, Helvy Tiana Rosa, Fatin Hamama, Boyke Sulaiman, Imam Ma'arif, Nana, dan Rissa Churia.(da*)


