Notification

×

Iklan

LPJK Dorong Penguatan Kerja Sama Konstruksi Indonesia-China

Jumat, 25 September 2026 | 23:21 WIB Last Updated 2026-09-25T16:21:00Z

Insannul Kamil Dorong Penguatan Kemitraan Konstruksi Indonesia-China-ASEAN

Jakarta, Rakyatterkini.com – Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Indonesia, Insannul Kamil, mendorong peningkatan kualitas kerja sama Indonesia dan China dalam industri konstruksi. Menurutnya, kemitraan tersebut perlu diperkuat melalui investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), transfer teknologi, hingga pengembangan rantai pasok dalam negeri.

Gagasan tersebut disampaikan Insannul ketika menjadi pembicara utama dalam The 4th ASEAN-China Forum on Building Industry yang digelar di Guangzhou, China, pada 22-23 September 2026.

Forum yang merupakan agenda resmi Pemerintah Tiongkok itu diselenggarakan China Construction News Agency di bawah Ministry of Housing and Urban-Rural Development (MOHURD). Pertemuan tahun ini mengangkat tema “Exploring New Opportunities, Building New Cities Together”.

Dalam kesempatan tersebut, Insannul yang juga merupakan dosen senior Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand) menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai ekosistem pembangunan yang luas dan memiliki prospek jangka panjang.

Potensi itu, kata dia, ditopang oleh besarnya pasar, perkembangan industri, kebutuhan pembangunan infrastruktur, ketersediaan sumber daya, kapasitas nasional, serta posisi strategis Indonesia sebagai bagian dari kawasan ASEAN.

Insannul menjelaskan, hubungan ekonomi dan investasi antara Indonesia dengan China kini telah berkembang ke berbagai bidang. Kerja sama tersebut mencakup sektor industri, infrastruktur, energi, teknologi, logistik, hingga konstruksi.

Karena itu, ia menilai peningkatan jumlah proyek saja tidak cukup. Kemitraan ke depan perlu diarahkan agar investasi China turut memberikan dampak terhadap perusahaan nasional, tenaga ahli Indonesia, pelaku rantai pasok lokal, serta peningkatan kemampuan pekerja konstruksi.

“Investasi tidak hanya untuk menghasilkan aset, tetapi juga meninggalkan kemampuan. Proyek tidak hanya selesai, tetapi menciptakan pembelajaran yang semakin baik,” kata Insannul.

Ia juga menekankan bahwa setiap proyek kerja sama perlu memperhatikan aspek transfer teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, mutu pekerjaan, keselamatan, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Dalam ekosistem tersebut, LPJK dinilai mempunyai posisi penting sebagai enabler bagi pengembangan industri dan jasa konstruksi nasional. Lembaga tersebut dapat berperan dalam mempertemukan investasi dan keahlian internasional dengan kemampuan serta kebutuhan industri konstruksi di Indonesia.

Di sisi lain, Insannul menilai industri konstruksi harus semakin cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Sejumlah teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), machine learning, digital twin, building information modeling (BIM), serta komputasi awan diperkirakan akan semakin banyak digunakan dalam proses transformasi sektor konstruksi.

Selain memimpin LPJK, Insannul juga tercatat sebagai Ketua Umum Badan Keahlian Mesin (BKM) Persatuan Insinyur Indonesia dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia bidang Pengembangan SDM Profesi Teknik dan Industri.

Menurutnya, peningkatan kapasitas nasional menjadi faktor penting agar pelaku usaha Indonesia tidak sekadar menjadi penerima manfaat proyek investasi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kelas bisnisnya.

Insannul turut mendorong agar kemitraan konstruksi Indonesia-China tidak hanya berorientasi pada kerja sama dua negara. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat diperluas menjadi kerja sama konstruksi yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan ASEAN.

Rangkaian The 4th ASEAN-China Forum on Building Industry juga diawali dengan kunjungan teknis ke Guangdong-Hong Kong-Macao Construction Robot Exhibition. Dalam kunjungan tersebut, para peserta berkesempatan menyaksikan langsung pemanfaatan teknologi robotik untuk mendukung penerapan konsep konstruksi pintar (smart construction).

Forum ini menjadi wadah bagi negara-negara ASEAN dan China untuk bertukar pengalaman serta pengetahuan mengenai perkembangan teknologi konstruksi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan industri menghadapi perubahan teknologi sekaligus memperluas peluang kerja sama pembangunan perkotaan di kawasan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update