Notification

×

Iklan

Kemenkes Imbau Warga Tak Timbun Oseltamivir

Rabu, 30 September 2026 | 14:27 WIB Last Updated 2026-09-30T07:27:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying dengan membeli atau menimbun obat antivirus Oseltamivir menyusul meningkatnya perhatian publik terhadap influenza A.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia mengatakan, mayoritas kasus influenza yang tidak disertai tanda bahaya dapat ditangani secara mandiri. Penanganan tersebut antara lain dengan mencukupi waktu istirahat dan menjaga asupan cairan guna menghindari dehidrasi.

Lucia menegaskan bahwa Oseltamivir tidak diperlukan oleh setiap orang yang mengalami influenza. Pemberian obat antivirus tersebut harus berdasarkan hasil pemeriksaan serta pertimbangan tenaga medis.

“Tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau Oseltamivir,” kata Lucia dalam keterangan pers, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, Oseltamivir bukan obat yang dikonsumsi secara massal ataupun digunakan sebagai langkah pencegahan tanpa adanya penilaian medis. Penggunaannya terutama dipertimbangkan untuk pasien influenza yang telah terkonfirmasi dan mengalami kondisi berat hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.

Obat antivirus tersebut juga menjadi prioritas bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta atau masuk dalam kelompok rentan mengalami komplikasi. Kelompok tersebut mencakup anak berusia kurang dari dua tahun, lansia berusia lebih dari 65 tahun, serta ibu hamil.

Kemenkes turut mengingatkan agar antibiotik tidak digunakan untuk mengatasi influenza jika tidak ditemukan indikasi adanya infeksi sekunder. Penanganan influenza pada dasarnya disesuaikan dengan gejala dan kondisi masing-masing pasien.

Terkait kekhawatiran mengenai ketersediaan Oseltamivir di fasilitas pelayanan kesehatan, Kemenkes memastikan pemerintah terus melakukan langkah untuk memenuhi kebutuhan obat bagi pasien yang memang memerlukannya.

Lucia mengatakan pemerintah telah mempercepat proses importasi sekaligus distribusi Oseltamivir ke fasilitas kesehatan. Penyaluran dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan rumah sakit berdasarkan jumlah kasus serta pasien yang membutuhkan terapi.

“Distribusi telah dilakukan ke sekitar 196 rumah sakit dan akan terus dilanjutkan berdasarkan kebutuhan yang disampaikan kepada Kemenkes,” ujarnya.

Selain mempercepat distribusi, Kemenkes juga menyusun perencanaan pengadaan Oseltamivir berdasarkan data surveilans. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan kebutuhan obat di berbagai daerah.

Pengadaan dilakukan melalui sejumlah sumber, termasuk produksi dalam negeri dan impor menggunakan jalur khusus. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi kebutuhan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi domestik.

Lucia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membeli maupun menyimpan Oseltamivir tanpa resep dokter. Penggunaan obat milik orang lain, menggandakan dosis, serta menghentikan atau meneruskan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan juga tidak dianjurkan.

Penggunaan Oseltamivir tanpa indikasi medis, terlebih dalam waktu panjang, dapat meningkatkan risiko munculnya virus influenza yang memiliki sensitivitas lebih rendah terhadap obat antivirus atau mengalami resistensi.

Untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai influenza, masyarakat diminta merujuk pada sumber resmi seperti Kemenkes, dinas kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas.

Kemenkes juga mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang menyebut influenza A selalu menyebabkan penyakit berat atau setiap orang yang mengalami demam harus mengonsumsi antivirus.

Lucia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu membeli obat dalam jumlah berlebihan. Hal yang lebih penting adalah memahami gejala, mengenali tanda-tanda bahaya, dan segera memperoleh pertolongan medis ketika diperlukan.

Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dianjurkan apabila gejala yang dialami tergolong berat, kondisi kesehatan semakin memburuk, atau keluhan muncul pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

Kemenkes menegaskan pemberian Oseltamivir akan diprioritaskan kepada pasien yang membutuhkan berdasarkan hasil penilaian tenaga kesehatan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update