Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga beras kembali mengalami kenaikan pada pekan ketiga September 2026. Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga di pasar, tetapi juga menunjukkan adanya tekanan terhadap produksi pangan akibat perubahan cuaca yang berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
Hasil pemantauan Satuan Tugas (Satgas) Saber Pangan di 13 provinsi menunjukkan harga beras medium dan premium telah melampaui harga eceran tertinggi (HET). Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi itu adalah berkurangnya produksi gabah kering panen akibat musim kemarau dan pengaruh fenomena El Nino.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras medium meningkat 0,76 persen menjadi Rp14.644 per kilogram. Sementara itu, harga beras premium naik 0,69 persen hingga mencapai Rp16.495 per kilogram.
Kenaikan harga juga dipengaruhi meningkatnya ongkos pengemasan dan distribusi. Biaya logistik tersebut turut terdampak oleh dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.
Tekanan harga pangan kemudian tercermin pada perkembangan inflasi. Inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Juli yang berada di level 2,88 persen.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada kelompok pangan bergejolak atau volatile food. Inflasi kelompok tersebut naik dari 2,52 persen menjadi 4,06 persen.
Kelompok volatile food mencakup sejumlah komoditas pangan yang harganya relatif mudah berubah karena dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, kondisi musim, serta distribusi. Dengan demikian, perubahan cuaca dapat berdampak langsung terhadap hasil produksi dan selanjutnya memengaruhi harga pangan serta inflasi.
Potensi gangguan pasokan juga masih perlu diwaspadai. BPS memperkirakan produksi beras nasional pada periode Agustus-Oktober 2026 mengalami penurunan 0,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau sekitar 0,1 juta ton.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan sekitar 75,1 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah selama September. Fenomena El Nino juga diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, meskipun kekuatannya diprediksi melemah.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah pada September kembali menyalurkan bantuan pangan beras tahap kedua. Bantuan tersebut diberikan kepada lebih dari 33,2 juta keluarga penerima manfaat yang berada pada kelompok desil 1 hingga 4.
Tekanan akibat kondisi iklim juga berpotensi memengaruhi komoditas pangan lainnya. Bawang merah dan cabai merah termasuk komoditas yang dinilai cukup rentan terhadap dampak El Nino.
Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, juga berpotensi merasakan pengaruh kondisi iklim pada 2027. Hal itu berkaitan dengan adanya jeda waktu sekitar 12 hingga 18 bulan antara terjadinya gangguan iklim dan dampaknya terhadap produksi.
Di pasar global, tekanan harga pangan turut terlihat dari indeks harga pangan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Indeks tersebut naik dari 130,8 pada Juli menjadi 133,3 pada Agustus 2026.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pangan tidak selalu ditandai dengan kelangkaan komoditas. Kenaikan harga yang berlangsung secara bertahap juga dapat memberikan dampak terhadap pengeluaran masyarakat dan pada akhirnya mengurangi daya beli rumah tangga.(da*)


