Padang, Rakyatterkini.com — Masyarakat Kota Padang tidak perlu khawatir apabila mendengar bunyi sirene peringatan dini bencana setiap tanggal 26. Bunyi tersebut merupakan bagian dari pemeriksaan rutin yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang.
BPBD secara berkala mengaktifkan sekaligus menguji perangkat Early Warning System (EWS) yang digunakan untuk memberikan peringatan terhadap potensi gempa bumi, tsunami, maupun banjir. Pengujian dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat tetap berfungsi ketika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Pengujian kembali dilaksanakan pada Sabtu (26/9/2026). Salah satu perangkat yang diperiksa berada di kawasan Jembatan Baringin, Kelurahan Baringin, Kecamatan Lubuk Kilangan, yakni EWS Banjir.
Berdasarkan hasil pemantauan, sirene EWS Banjir di lokasi tersebut diaktifkan pada pukul 10.00 WIB dan kembali dilakukan pengujian 10 menit kemudian. Hasil pemeriksaan menunjukkan perangkat dalam kondisi aktif dan bekerja sebagaimana mestinya.
Petugas pemantau, Muhammad Ardi Saputra, menyebut fitur voice pada perangkat EWS juga berfungsi dengan baik. Suara yang dihasilkan terdengar jelas dan cukup keras dengan jangkauan sekitar 100 hingga 300 meter.
Kondisi serupa ditemukan pada sirene EWS Banjir. Setelah diaktifkan, suara sirene terdengar jelas dengan jangkauan yang sama, yakni sekitar 100 sampai 300 meter.
Selain itu, fitur live voice 1, 2, dan 3 juga terpantau aktif. Kualitas suara dinilai jelas dan keras. Secara keseluruhan, proses pengujian EWS Banjir di kawasan tersebut berlangsung normal tanpa ditemukan gangguan.
Pemeriksaan rutin ini menjadi bagian dari langkah BPBD Kota Padang untuk memastikan perangkat peringatan dini selalu dalam keadaan siap digunakan. Dengan pemeriksaan berkala, gangguan atau kerusakan yang ditemukan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti.
Tidak hanya EWS Banjir, BPBD Kota Padang juga melakukan pengecekan terhadap perangkat peringatan dini gempa dan tsunami. Saat ini, terdapat 32 titik sirene EWS Gempa dan Tsunami yang tersebar di kawasan pesisir Kota Padang.
Sementara itu, sistem peringatan dini banjir memiliki 18 titik EWS yang ditempatkan di sejumlah lokasi sepanjang aliran sungai di Kota Padang. Seluruh perangkat tersebut menjadi bagian dari sistem mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan pengecekan secara rutin diperlukan untuk memastikan perangkat EWS siap beroperasi kapan saja.
Menurutnya, keberadaan sistem peringatan dini memiliki peran penting dalam mitigasi bencana karena Kota Padang menghadapi berbagai potensi ancaman, termasuk gempa bumi, tsunami, dan banjir.
Pengujian yang dilakukan setiap tanggal 26 sekaligus menjadi sarana untuk mengetahui kondisi perangkat secara langsung di lapangan. Apabila ditemukan kendala, perbaikan dapat segera dilakukan agar fungsi peringatan dini tetap optimal.
BPBD Kota Padang juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik ketika mendengar sirene pada tanggal tersebut. Bunyi sirene merupakan bagian dari agenda pemeriksaan rutin dan tidak menandakan sedang terjadi bencana.
Dengan 32 titik EWS Gempa dan Tsunami serta 18 titik EWS Banjir, BPBD Kota Padang terus melakukan pemeliharaan dan pengujian guna mendukung kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Sejumlah Warga Tak Mengetahui Pengujian Sirene
Meski pengujian dilakukan secara rutin, masih ada warga yang mengaku tidak mengetahui adanya aktivasi sirene EWS.
Yolla, warga Padang yang tinggal di kawasan Banda Bakali, mengaku tidak mengetahui maupun mendengar bunyi sirene tersebut. Ia juga mengatakan tidak melihat adanya aktivitas khusus atau kepanikan warga di sekitar tempat tinggalnya.
“Jangankan untuk mitigasi, bunyi sirene EWS-nya saya tidak terdengar sama saya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Adrian, warga kawasan Rimbo Kaluang yang tinggal tidak jauh dari salah satu titik EWS. Ia mengaku tidak merasa panik ketika sirene berbunyi.
Menurut Adrian, warga di sekitar tempat tinggalnya juga tetap beraktivitas seperti biasa. Tidak terlihat adanya warga yang melakukan evakuasi ataupun mencari informasi mengenai bunyi sirene tersebut.
“Dari tadi bunyinya, hanya dianggap santai saja oleh masyarakat. Tak ada yang terlihat menyelamatkan diri ataupun sekadar bertanya,” katanya.(da*)


