Notification

×

Iklan

Banjir Nepal Picu Kerusakan Rp45 Triliun

Jumat, 04 September 2026 | 23:45 WIB Last Updated 2026-09-04T16:45:00Z

Situasi salah satu wilayah di Nepal usai diterjang banjir bandang 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Banjir besar yang menerjang Nepal pekan lalu menimbulkan kerusakan parah pada sektor properti, perumahan, dan infrastruktur. Nilai kerugian sementara diperkirakan mencapai sedikitnya 387,5 miliar rupee Nepal atau sekitar 2,56 miliar dolar AS. Jika dikonversikan dengan kurs Rp17.651 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp45,18 triliun.

Kepala Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, Dharma Raj Upreti, mengatakan angka tersebut merupakan estimasi awal berdasarkan pendataan yang dilakukan bersama sejumlah lembaga pemerintah. Pernyataan itu disampaikannya kepada Reuters pada Jumat (4/9/2026).

Selain menghitung nilai kerusakan, pemerintah Nepal juga memperkirakan membutuhkan dana sekitar 52,6 juta dolar AS atau kurang lebih Rp928 miliar untuk menjalankan tahap awal pemulihan selama empat bulan.

Anggaran tersebut akan difokuskan untuk memperbaiki infrastruktur penting, termasuk jalan, membangun tempat tinggal sementara bagi warga terdampak, menyediakan kebutuhan air bersih, serta mengembalikan jaringan listrik yang mengalami gangguan.

Upreti menjelaskan bahwa angka kebutuhan tersebut masih bersifat sementara. Pemerintah bersama berbagai instansi terkait akan melakukan pendataan dan evaluasi lebih mendalam guna mengetahui secara pasti tingkat kerusakan serta kebutuhan pemulihan di masing-masing wilayah.

Sebelumnya, Upreti menyebut sekitar 20.000 rumah perlu dibangun kembali akibat bencana tersebut. Dari jumlah itu, sedikitnya 7.500 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan total.

Banjir bandang terjadi setelah runtuhnya gletser pada 26 Agustus 2026. Material berupa es, bebatuan, dan lumpur kemudian terbawa arus deras hingga menerjang Sungai Trishuli yang berada di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok.

Dampak bencana meluas ke sejumlah permukiman, kota, dan desa. Lebih dari 1.250 orang dilaporkan meninggal dunia, sedangkan sekitar 4.200 orang lainnya masih belum ditemukan. Ribuan warga juga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Saat ini, pemerintah Nepal masih memprioritaskan operasi tanggap darurat sembari mulai menyusun program rehabilitasi dan rekonstruksi. Kerusakan yang cukup luas membuat proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu dan anggaran besar.

Pembangunan kembali nantinya tidak hanya mencakup rumah warga, tetapi juga jalan dan sarana transportasi, fasilitas pelayanan dasar, jaringan listrik, serta sistem penyediaan air bersih di kawasan yang terdampak.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update