Jakarta, Rakyatterkini.com – Paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia karena memicu berkembangnya bakteri patogen di saluran pernapasan. Kondisi ini tidak hanya mengancam perokok aktif, tetapi juga orang yang berada di sekitarnya sebagai perokok pasif.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan penyakit tropik dan infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM, menjelaskan bahwa perokok memiliki kolonisasi bakteri tertentu di area hidung dan tenggorokan.
Menurut Joyce, ketika daya tahan tubuh mengalami penurunan, bakteri yang sebelumnya berada di saluran pernapasan bagian atas dapat berpindah menuju saluran napas bawah. Perpindahan tersebut berpotensi memicu infeksi paru atau pneumonia.
Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan kondisi tersebut adalah Streptococcus pneumoniae. Jika bakteri masuk hingga ke jaringan paru, dapat terjadi peradangan pada alveoli atau kantung udara paru-paru.
Peradangan itu dapat menyebabkan cairan bahkan nanah menumpuk di paru-paru. Akibatnya, penderita dapat mengalami kesulitan bernapas dan pada kondisi tertentu membutuhkan penanganan di rumah sakit.
Joyce juga mengingatkan bahwa kebiasaan terpapar asap rokok dalam waktu lama dapat memberikan dampak yang lebih serius terhadap kesehatan paru. Kerusakan jaringan paru akibat paparan bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko berkembangnya penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Karena itu, ia meminta masyarakat yang masih merokok untuk menghindari aktivitas tersebut di dalam rumah maupun ruangan tertutup. Asap rokok yang berada di dalam ruangan dapat memberikan dampak buruk, terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia.
“Kalau Anda seorang perokok, tolong jangan merokok di rumah. Kasihan anak dan istri. Mereka yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif saluran napasnya juga menjadi rentan mengalami infeksi,” ujarnya dalam diskusi kesehatan yang digelar Pfizer Indonesia di Jakarta, Kamis.
Selain asap rokok, Joyce menyebut penularan berbagai kuman dan virus penyebab penyakit pernapasan dapat berlangsung melalui udara. Paparan asap rokok di ruang tertutup juga dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan sehingga seseorang lebih mudah terinfeksi.
Untuk menjaga kesehatan pernapasan keluarga, Joyce mendorong perokok untuk mulai menghentikan kebiasaan tersebut. Bagi masyarakat secara umum, ia juga menyarankan sejumlah langkah pencegahan, seperti mencuci tangan sebelum menyentuh anak, mengenakan masker ketika mengalami batuk atau pilek, serta melengkapi vaksinasi untuk anak maupun orang dewasa.
Menurut Joyce, berhenti merokok merupakan langkah yang paling baik untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat asap rokok.
“Menghentikan kebiasaan merokok tentu langkah yang jauh lebih baik. Jika belum bisa, setidaknya jangan pernah memaparkan asapnya kepada orang lain di sekitar kita,” katanya.(da*)


