Sawahlunto, Rakyatterkini.com – Pemerintah Kota Sawahlunto mulai mendorong perubahan pola penanganan bencana dengan memperkuat kesiapsiagaan sejak tingkat desa dan kelurahan.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi ancaman tanah longsor yang cukup tinggi di Sawahlunto. Dengan sekitar 70 persen wilayahnya berupa kawasan berbukit dan lembah, sejumlah daerah memiliki tingkat kerawanan bencana yang perlu mendapat perhatian khusus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sawahlunto, Bet Mukhardi, S.Sos, mengatakan konsep Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) tidak sebatas pembentukan kelembagaan.
“Destana bukan sekadar label. Wilayah tangguh harus mampu mengenali ancaman di sekitarnya, menekan tingkat kerentanan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta beradaptasi dan segera bangkit ketika bencana terjadi,” ujar Bet Mukhardi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026).
Berdasarkan pemetaan BPBD Sawahlunto, terdapat sedikitnya 10 kelurahan yang masuk dalam kawasan dengan potensi longsor tinggi. Wilayah tersebut meliputi Aur Mulyo, Kubang Sirakuk Selatan, Kubang Sirakuk Utara, Pasar, Air Dingin, Saringan, Lubang Panjang, Durian I dan Durian II.
Kondisi geografis yang didominasi lereng curam menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko. Ancaman tersebut semakin besar ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Peristiwa longsor yang menyebabkan badan jalan di kawasan Polak Datar, Kubang Tangah, terdampak pada Selasa (29/9), menjadi salah satu contoh nyata pentingnya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan.
Dalam Forum Lurah se-Kota Sawahlunto, para lurah sepakat bahwa upaya mitigasi perlu diperkuat dari tingkat kelurahan. Lurah diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi administrasi, tetapi juga memahami kondisi kerawanan bencana di wilayah masing-masing.
Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sawahlunto menargetkan pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana di seluruh wilayah kota. Salah satu langkah yang disiapkan adalah membentuk Kelompok Siaga Bencana (KSB) di setiap kelurahan.
KSB nantinya berperan sebagai garda terdepan ketika terjadi bencana. Para relawan akan dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, hingga mekanisme peringatan dini yang berlaku di wilayah mereka.
Meski demikian, Forum Lurah mengingatkan bahwa keberadaan KSB harus didukung fasilitas yang memadai. Selain pelatihan, diperlukan ketersediaan logistik serta anggaran operasional yang jelas agar kelompok tersebut dapat menjalankan tugas secara berkelanjutan.
“Kalau KSB sudah terbentuk, memiliki pelatihan dan didukung logistik, ketika longsor terjadi masyarakat tidak mudah panik. Mereka sudah mengetahui langkah yang harus dilakukan dalam lima menit pertama sebelum Tim Reaksi Cepat BPBD tiba,” kata Bet Mukhardi, yang akrab disapa Da Bet.
Pembentukan Destana dan KSB diharapkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Sawahlunto dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana, sekaligus memperkuat ketahanan Kota Sawahlunto sebagai kota warisan.(benny)


