Jakarta, Rakyatterkini.com - Iran menyatakan Selat Hormuz masih akan ditutup hingga Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran. Iran juga meminta Washington mengubah kebijakan yang dinilai bermusuhan sebelum jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada perubahan sikap AS terhadap Iran.
Zolghadr menyebut terdapat enam persyaratan yang harus dipenuhi Washington. Salah satunya adalah penghentian ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Selain itu, Iran menuntut AS menghentikan secara permanen seluruh operasi militer terhadap Iran dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan. Washington juga diminta menarik kapal perang dan pesawat militer yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.
Tuntutan lainnya mencakup pemberian kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama konflik, pencabutan berbagai sanksi terhadap Iran, serta pembukaan kembali aset-aset Iran yang saat ini dibekukan.
Menurut Zolghadr, tuntutan tersebut merupakan gambaran dari keinginan masyarakat Iran. Ia merujuk pada aksi demonstrasi besar yang berlangsung selama enam hari terakhir.
"Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tidak akan mundur dari tuntutan-tuntutan ini, baik dalam situasi perang maupun perundingan," kata Zolghadr, seperti dikutip Anadolu, Minggu (9/8/2026).
Pernyataan itu muncul ketika pembahasan mengenai kelanjutan pelayaran di Selat Hormuz masih mengalami kebuntuan.
Sebelumnya, Iran dan AS mencapai nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, pelaksanaan kesepakatan terhenti pada 7 Juli setelah Iran dan AS saling menuduh telah melanggar sejumlah ketentuan. Perselisihan tersebut terutama berkaitan dengan persoalan akses dan pelayaran di Selat Hormuz.(da*)


