Padang, Rakyatterkini.com – Dugaan aksi perakitan bom yang melibatkan seorang pelajar di Kota Padang menjadi perhatian masyarakat. Kasus yang disebut-sebut berkaitan dengan pengalaman bullying tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang dapat mendorong seorang remaja mengambil langkah ekstrem sebagai bentuk pelampiasan.
Fenomena kekerasan ekstrem yang melibatkan pelajar sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah peristiwa serupa dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan perilaku individu. Faktor lingkungan sosial, kondisi psikologis, pola hubungan keluarga, serta paparan informasi di dunia digital juga dapat berpengaruh.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas sekaligus Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi, Vitania Yulia, mengatakan dugaan tindakan tersebut perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, jika benar yang bersangkutan pernah menjadi korban bullying, tekanan yang dialami kemungkinan telah berlangsung dalam waktu cukup panjang dan dapat memengaruhi kondisi psikologisnya.
Vitania menjelaskan, tekanan mental yang terus menumpuk tanpa diimbangi kemampuan mengelola emosi secara sehat dapat membuat seseorang mencari cara yang keliru untuk melampiaskan perasaan. Rasa marah, takut, kecewa, dan tertekan yang dipendam dalam waktu lama berpotensi berkembang menjadi perilaku agresif apabila tidak mendapat perhatian atau pendampingan yang tepat.
Meski demikian, ia menekankan bahwa persoalan tersebut tidak semestinya hanya diarahkan kepada individu. Menurut Vitania, keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan kondisi yang dapat mencegah terjadinya tindakan ekstrem.
Korban perundungan, lanjutnya, tidak selalu memiliki keberanian atau kesempatan untuk menceritakan apa yang dialaminya. Ada yang memilih menutup diri karena takut, merasa tidak akan dipercaya, atau khawatir mendapatkan tekanan dan intimidasi yang lebih berat dari pelaku.
“Banyak korban merasa tidak memiliki ruang yang aman untuk mengungkapkan pengalaman mereka. Sebagian memilih diam karena takut atau merasa berada dalam posisi yang lebih lemah. Jika tekanan tersebut terus dipendam, bukan tidak mungkin muncul pelampiasan yang justru salah,” ujarnya.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan teknologi dan semakin mudahnya masyarakat memperoleh berbagai informasi melalui internet. Berdasarkan informasi yang beredar, pelajar yang diduga terlibat dalam kasus tersebut disebut mempelajari teknik perakitan bom secara mandiri dan mendapatkan inspirasi dari peristiwa sejenis.
Vitania menilai sistem rekomendasi pada platform digital dapat membuat rasa ingin tahu seseorang berkembang semakin jauh. Ketika seorang remaja berulang kali mencari topik tertentu, algoritma media sosial dapat menyajikan konten yang memiliki tema serupa. Kondisi itu berpotensi memperbesar paparan terhadap informasi yang sebenarnya berbahaya.
Menurutnya, rasa penasaran yang tidak diiringi kemampuan memilah informasi dapat membawa pelajar pada konten yang berisiko. Paparan berulang juga dapat membuat seseorang menganggap informasi atau tindakan berbahaya sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan sebagai jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya.
Risiko tersebut dinilai semakin besar ketika interaksi antara anak dan orang tua semakin terbatas karena penggunaan perangkat digital yang tinggi. Vitania mengatakan sebagian anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan mencari jawaban melalui internet daripada membicarakan persoalan yang dihadapi bersama keluarga.
“Tidak sedikit anak yang akhirnya lebih percaya pada informasi yang mereka temukan sendiri dibandingkan berdiskusi dengan keluarga. Kehadiran AI dan chatbot juga membuat sebagian anak memilih teknologi sebagai tempat untuk mencurahkan pikiran,” katanya.
Di sisi lain, Dosen sekaligus Ketua Pusat Riset Psikologi Siber Universitas Negeri Padang (UNP), Mardianto, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa bullying menjadi satu-satunya faktor yang melatarbelakangi kasus tersebut.
Menurutnya, diperlukan kajian yang lebih menyeluruh untuk mengetahui rangkaian faktor yang memengaruhi perilaku pelajar tersebut. Penelusuran terhadap kondisi psikologis, lingkungan sosial, pola komunikasi keluarga, pengalaman pribadi, serta paparan informasi digital menjadi penting agar persoalan dapat dipahami secara objektif.(da*)


