Notification

×

Iklan

Rupiah Menguat ke Rp17.708 per Dolar AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 21:17 WIB Last Updated 2026-06-15T13:43:33Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com– Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan, Senin (15/6/2026). Mata uang Garuda tercatat naik 151 poin atau sekitar 0,85 persen hingga berada di level Rp17.708 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen global, termasuk kabar kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran terkait upaya mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam risetnya, Ibrahim mengutip pernyataan bahwa AS dan Iran disebut akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang dengan mediasi Pakistan. Selain itu, Presiden AS Donald Trump menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa biaya, sekaligus mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.

Sementara itu, media semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa rancangan kesepakatan mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengawasan Iran. Konflik sebelumnya telah mengganggu pasokan energi global, dengan jutaan barel minyak dan gas tidak dapat dikirim karena penutupan jalur strategis tersebut yang berlangsung lebih dari tiga bulan.

Pelaku pasar juga masih mencermati kecepatan pemulihan produksi dan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah pascakerusakan akibat konflik, termasuk potensi kembalinya lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut kesepakatan yang lebih luas akan dibahas selama masa gencatan senjata 60 hari.

Dari Eropa, kelompok E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi terhadap Iran jika ada kemajuan terkait program nuklir.

Di sisi lain, pasar keuangan pekan ini juga menanti keputusan kebijakan sejumlah bank sentral dunia, terutama Federal Reserve AS yang kini dipimpin Ketua baru Kevin Warsh. Beberapa bank sentral seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah lebih dulu menaikkan suku bunga masing-masing 75 dan 25 basis poin sepanjang tahun ini.

Jika konflik global mereda lebih cepat, hal tersebut diperkirakan dapat menahan langkah pengetatan kebijakan moneter dari bank sentral lain seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE), dan The Fed.

Dari dalam negeri, penurunan harga minyak mentah dunia di bawah 80 dolar AS per barel dinilai menjadi sentimen positif karena dapat membantu menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini juga diharapkan mampu meredakan tekanan ekonomi domestik.

Selain itu, pasar turut mencermati efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penyesuaian target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang disebut turun hingga 50 persen.

Dengan kondisi global yang mulai stabil, masyarakat juga disebut mulai melepas kepemilikan dolar AS dan menukarkannya ke rupiah, sejalan dengan imbauan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang meminta masyarakat segera mengonversi valuta asing.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas rupiah yang sebelumnya sempat melemah hingga menyentuh rekor terendah sekitar Rp18.200 per dolar AS. Pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga penguatan mata uang nasional.

Sementara itu, Bank Indonesia pada 9 Juni 2026 telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, sehingga total kenaikan sejak Mei mencapai 75 basis poin. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan menekan arus keluar modal asing.

Ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat dengan kisaran perdagangan di level Rp17.650 hingga Rp18.700 per dolar AS.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update