Padang, Rakyatterkini.com – Dimulainya proyek rekonstruksi kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim di Kota Padang membawa dampak langsung bagi para pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan di area tersebut. Sejumlah pedagang mulai membongkar lapak mereka dan memindahkan peralatan dagang seiring penutupan kawasan oleh pemerintah.
Sejak Rabu (17/6), proses pengosongan area sudah dilakukan bersamaan dengan dimulainya pembangunan dan penataan ulang kompleks olahraga terbesar di Sumatera Barat itu. Selama proyek berlangsung, akses masyarakat ke kawasan GOR ditutup sementara.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang karena belum semua mendapatkan kepastian terkait lokasi relokasi untuk tetap berjualan. Anto, salah satu pedagang mie ayam di area parkir depan stadion, mengatakan bahwa sosialisasi sebenarnya sudah pernah dilakukan, namun informasi detail mengenai tempat relokasi baru diterima sebagian pedagang dalam beberapa hari terakhir.
Akibatnya, banyak pedagang memilih menunggu kejelasan resmi sebelum membongkar lapak mereka. Hal ini membuat proses pemindahan baru terlihat ramai dilakukan pada hari pertama pengosongan kawasan.
Sebagian pedagang telah diarahkan untuk menempati lokasi sementara di sekitar area Lapangan Panjat Tebing dan depan Kolam Renang Teratai. Namun, masih ada pedagang lain yang belum mendapatkan informasi lengkap terkait penempatan tersebut.
Pedagang lainnya, Linda, yang sudah lebih dari 20 tahun berjualan di kawasan GOR Haji Agus Salim, mengaku mulai merapikan tempat usahanya. Ia menyebutkan bahwa pedagang mendapat informasi mengenai ukuran lapak sementara yang disediakan, yakni sekitar 3 x 6 meter.
Meski demikian, Linda menuturkan bahwa ia belum mengetahui secara pasti besaran biaya operasional yang akan dikenakan di lokasi baru. Informasi awal yang diterima hanya menyebutkan kemungkinan adanya biaya kebersihan, air, dan keamanan.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan kepastian yang lebih jelas agar para pedagang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi usaha selama masa pembangunan berlangsung.
Selain soal relokasi, para pedagang juga mengkhawatirkan potensi penurunan pendapatan akibat perpindahan lokasi. Linda mengungkapkan bahwa saat masih berjualan di kawasan GOR, pendapatan hariannya bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jumlah pengunjung.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ijas, pedagang kuliner lainnya di kawasan tersebut. Menurutnya, ketersediaan lokasi relokasi yang layak sangat penting agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan dan memiliki sumber penghasilan.
Ia menilai pembangunan infrastruktur olahraga merupakan langkah positif untuk meningkatkan fasilitas publik. Namun, di sisi lain pemerintah juga diharapkan memperhatikan keberlangsungan usaha para pedagang yang selama ini turut menghidupkan aktivitas ekonomi di kawasan GOR.
Ijas juga mengingatkan bahwa tanpa tempat relokasi yang memadai, para pedagang berpotensi kehilangan mata pencaharian, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kondisi ekonomi keluarga mereka.
Di sisi lain, sebagian pedagang tetap menyatakan dukungan terhadap proyek renovasi GOR Haji Agus Salim. Mereka berharap hasil akhir pembangunan dapat menghadirkan kawasan olahraga yang lebih tertata, nyaman, serta mampu menarik lebih banyak pengunjung.
Berdasarkan informasi yang beredar, puluhan pedagang pujasera akan direlokasi sementara selama proses pembangunan yang diperkirakan berlangsung sekitar satu tahun. Para pedagang berharap pemerintah segera memberikan kepastian skema relokasi agar kegiatan usaha tetap dapat berjalan dan tidak mengganggu sumber penghidupan mereka.(da*)


