Notification

×

Iklan

Pelatihan Mojo Bekali Jurnalis Fellowship GWPP–TBIG

Kamis, 18 Juni 2026 | 02:44 WIB Last Updated 2026-06-17T20:09:38Z

Abdul Malik Bekali Peserta Fellowship CSR Kuasai Teknik Mobile Journalism di Era Digital

Jakarta, Rakyatterkini.com - Sebanyak 15 peserta Journalism Fellowship on CSR yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bersama TBIG mengikuti pelatihan Mobile Journalism (Mojo) yang dibawakan oleh Digital Content and Visual Media Trainer, Abdul Malik MSN, pada Kamis (11/6/2026).

Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian Fellowship Batch III Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan kompetensi jurnalistik peserta di tengah perkembangan ekosistem media digital yang semakin pesat.

Sebagian besar peserta berasal dari media cetak dan media daring, sehingga materi Mobile Journalism menjadi hal baru yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan industri media saat ini.

Di awal sesi, Abdul Malik mengajak peserta memahami perubahan cara penyampaian informasi dengan memberikan pertanyaan sederhana mengenai efektivitas penyajian berita.

Ia menekankan bahwa jika seorang jurnalis mampu menjelaskan peristiwa dalam 1.000 kata, maka penyajian melalui visual seperti foto dan video dapat memberikan dampak yang lebih kuat bagi audiens.

Menurutnya, Mobile Journalism bukan hanya soal merekam video menggunakan ponsel, tetapi mencakup kemampuan jurnalis dalam mencari fakta, menangkap peristiwa, memilih visual yang tepat, hingga menyusunnya menjadi sebuah cerita yang utuh.

“Penonton masih bisa memaklumi gambar yang biasa saja, tetapi tidak dengan kualitas audio yang buruk, baik dari narasumber maupun suara di lokasi. Artinya, audio itu 50 persen dari sebuah video,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian format konten dengan platform yang digunakan. Untuk televisi, YouTube, dan website media, format yang umum dipakai adalah landscape.

Sementara itu, Instagram Feed dan Facebook dapat menggunakan format landscape maupun portrait, sedangkan Reels dan TikTok lebih dominan menggunakan format portrait.

Abdul Malik menjelaskan bahwa dalam produksi video berita, durasi ideal setiap potongan gambar berkisar tiga hingga delapan detik agar visual tetap dinamis dan mudah diikuti.

Pengambilan gambar juga perlu menggunakan variasi teknik seperti wide shot, medium shot, hingga close-up untuk menciptakan alur visual yang menarik.

Peserta turut diperkenalkan pada berbagai teknik sudut pengambilan gambar, mulai dari angle normal, high angle, hingga low angle.

Ia juga memberikan contoh penerapan teknik tersebut dalam siaran langsung, termasuk posisi reporter yang tepat di depan kamera sesuai kaidah visual penyiaran.

Lebih lanjut, ia menjelaskan konsep dasar Mobile Journalism dengan rumus WMC123 (Wide, Medium, Close) yang dipadukan dengan unsur cerita seperti lead atau hook, aktivitas, lokasi, wawancara, pernyataan, dan penutup.

“Elemen seperti lokasi, momen, detail, dan ekspresi sangat penting dalam membangun cerita visual yang kuat,” jelasnya.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan pelatihan tentang proses penyuntingan video menggunakan berbagai aplikasi yang mudah diakses, baik di perangkat mobile maupun komputer, seperti VN, CapCut, PowerDirector, Kinemaster, Canva, DaVinci Resolve, hingga Adobe Premiere.

Ia menegaskan bahwa kualitas video tidak semata-mata ditentukan oleh perangkat, karena kamera ponsel pun dapat menghasilkan video berkualitas mulai dari resolusi 720p, 1080p, hingga 4K, tergantung kemampuan perangkat.

Abdul Malik kemudian memaparkan tahapan dasar editing video, mulai dari pemilihan aplikasi, pengaturan rasio gambar, penambahan musik latar dan voice over, penyusunan footage sesuai alur cerita, koreksi warna, penambahan transisi, teks, efek, hingga proses render atau ekspor.

Menutup kegiatan pelatihan, sosok yang dikenal sebagai pendiri Guns Indonesia, mantan Bureau Chief Majalah Gatra, dosen Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), serta pendiri Asosiasi Konten Kreator Desa Indonesia (AKKDI) itu menegaskan bahwa kunci keberhasilan Mobile Journalism adalah praktik dan konsistensi.

“Intinya, video yang bagus adalah video yang dibuat sampai selesai,” pungkasnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update