Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Tak lengkap rasanya membicarakan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, tanpa menyinggung kekayaan kulinernya. Di tengah ramainya kota wisata ini, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan rasa sekaligus sejarah panjang bernilai tinggi.
Tempat itu adalah Martabak Kaka, sebuah kedai legendaris yang telah berusia lebih dari satu abad. Bukan hanya dikenal karena kelezatan hidangannya, kedai ini juga menyimpan kisah penting yang berkaitan dengan perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Awal Mula dari Perjalanan Seorang Pemuda India
Sejarah Martabak Kaka berawal dari sosok Kaka Musa, pendirinya. Pada awal abad ke-20, ia meninggalkan Gujarat, India, saat masih berusia sekitar 15 tahun untuk menghindari perjodohan yang diatur keluarganya. Perjalanan panjang membawanya hingga ke Aceh, sebelum akhirnya menetap di Bukittinggi dan mendirikan usaha pada tahun 1923.
Di masa awal, usaha ini berbentuk rumah makan kecil yang menyajikan berbagai hidangan khas India. Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari martabak telur dengan isian ayam dan bebek, nasi briyani, hingga kari kambing. Racikan rempah khas Kaka Musa perlahan menarik perhatian masyarakat dan menjadikan tempat ini salah satu kuliner yang digemari pada zamannya.
Jejak Perjuangan di Balik Dapur Martabak
Memasuki era 1930-an hingga menjelang kemerdekaan, lokasi kedai yang strategis—tak jauh dari markas tentara Belanda yang kini menjadi Hotel Grand Rocky—membuat Martabak Kaka memiliki peran yang lebih dari sekadar tempat makan.
Menurut generasi ketiga keluarga, Muhammad Yusral, kedai ini memiliki peran ganda pada masa itu. Di siang hari, tempat ini kerap menjadi lokasi makan para tentara Belanda, sementara pada malam hari berubah menjadi ruang berkumpul para pejuang kemerdekaan.
Karena latar belakang pendirinya sebagai keturunan India, Kaka Musa tidak dicurigai oleh pihak kolonial. Kondisi ini justru dimanfaatkan untuk membantu perjuangan secara diam-diam.
Ia kerap memberikan informasi mengenai pergerakan patroli Belanda kepada para pejuang. Bahkan, sebuah pintu darurat di bagian belakang kedai disiapkan sebagai jalur evakuasi jika terjadi penggerebekan.
Tak hanya menjadi tempat aman untuk berdiskusi, Martabak Kaka juga pernah menjadi ruang bertemunya tokoh penting bangsa, termasuk Sjafruddin Prawiranegara yang kelak dikenal sebagai Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Selain itu, kedai ini juga tercatat menjadi saksi momen bersejarah di masa awal kemerdekaan, ketika sejumlah pemuda setempat berani menurunkan bendera Jepang dan mengibarkan Sang Merah Putih pada sekitar tahun 1945.
Menjaga Keaslian di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah tren modernisasi kuliner Bukittinggi yang terus berkembang, Martabak Kaka tetap bertahan dengan wajah lamanya. Interior bangunan tidak banyak berubah, mempertahankan suasana klasik yang membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu.
Pilihan untuk tetap menjaga keaslian ini juga mendapat dukungan dari para pelanggan setia, termasuk mereka yang kini telah merantau hingga ke luar negeri. Salah satu di antaranya adalah mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, yang sudah mengenal tempat ini sejak masa kecilnya.
Bagi keluarga penerus, mempertahankan bentuk asli kedai adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Mereka memilih untuk tidak mengikuti arus modernisasi yang berlebihan, dan tetap menjaga identitas Martabak Kaka sebagaimana yang diwariskan sejak awal berdiri.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Kini, menikmati martabak di Martabak Kaka bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman menyelami sejarah panjang sebuah tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa.
Di balik setiap sajian, tersimpan kisah perjuangan, keberanian, dan warisan budaya yang membuat kedai ini tetap hidup hingga hari ini—sebagai pengingat bahwa kuliner pun bisa menjadi saksi bisu sejarah yang tak ternilai.(da*)


