Notification

×

Iklan

Duka Olahraga Sumbar, Dua Tokoh Meninggal Bersamaan

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:06 WIB Last Updated 2026-05-12T16:06:00Z

Ketua KONI Sumbar Hamdanus melepas kepergian H Munandar Muska usai disalatkan di Masjid Raya Ganting. 

Padang, Rakyatterkini.com – Dunia olahraga Sumatera Barat tengah berduka setelah dua figur penting, Ustadz Munandar Maska dan legenda angkat berat Thio Hok Seng, meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ketua KONI Sumbar, Hamdanus, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian kedua tokoh tersebut. Ia menegaskan bahwa Sumatera Barat kehilangan sosok panutan yang selama ini banyak berjasa dalam perkembangan olahraga daerah.

“Sumatera Barat benar-benar kehilangan dua tokoh olahraga yang sangat kami hormati. Satu adalah wasit sekaligus pelatih karate yang penuh dedikasi, berpengalaman, dan dikenal sebagai pribadi yang menyejukkan serta menjadi teladan,” ujar Hamdanus, Selasa (12/5/2026).

“Yang satu lagi adalah legenda angkat berat Sumbar yang sudah mendunia. Keduanya merupakan sosok panutan di dunia olahraga,” tambahnya.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Hamdanus bersama jajaran KONI Sumbar, termasuk Wakil Ketua Umum Binpres KONI Sumbar sekaligus Ketua SC Porprov Sumbar 2026 Septri, tim pembinaan prestasi Hendy Luthan, serta tim Humas Agusmanto, mendatangi rumah duka kedua almarhum.

Rangkaian takziah diawali dengan mengikuti prosesi salat jenazah di Masjid Raya Ganting untuk almarhum H. Munandar Maska, kemudian dilanjutkan ke rumah duka di kawasan Himpunan Tjinta Teman (HTT), Pondok.

Wafat Saat Bertugas di Kejurnas Karate

Munandar Maska dilaporkan wafat ketika sedang menjalankan tugas sebagai wasit pada Kejuaraan Nasional Karate di Bandung, Jawa Barat. Ia sempat tidak sadarkan diri di area pertandingan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 17.05 WIB.

Lahir di Padang pada 30 Agustus 1962, almarhum dikenal aktif di dunia olahraga sekaligus kegiatan dakwah. Ia merupakan alumni UIN Imam Bonjol Padang angkatan 1991 serta pernah mengabdi sebagai pengurus Masjid Raya Ganting.

Sosoknya dikenal ramah, mudah bergaul, dan dekat dengan berbagai kalangan. Jenazahnya kemudian diberangkatkan dari Bandung menuju Padang pada Selasa pagi (12/5/2026). Sebelum dimakamkan, almarhum disemayamkan dan disalatkan di Masjid Raya Ganting, tempat yang juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan seorang cucu.

Kepergian Legenda Angkat Berat Sumbar

Sementara itu, Thio Hok Seng atau yang akrab disapa Hok Seng juga meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai salah satu atlet angkat berat terbaik yang pernah dimiliki Ranah Minang.

Hok Seng berhasil mengharumkan nama Indonesia di level internasional dengan raihan tiga medali emas dunia. Ia mulai menekuni olahraga angkat berat sejak usia muda dan hanya membutuhkan waktu singkat untuk menembus ajang Pra-PON 1984.

Pada PON XI tahun 1985 di Jakarta, ia berhasil meraih medali emas untuk Sumatera Barat. Karier internasionalnya berlanjut setelah lolos seleksi nasional di Surabaya.

Prestasi puncaknya terjadi pada 1987 di Lima, Peru, saat ia meraih medali emas dunia. Keberhasilan itu kembali diulang pada 1988 di Luksemburg. Di Jerman, ia juga mencatat rekor deadlift seberat 226 kilogram yang semakin mengukuhkan namanya di dunia angkat berat.

Di tingkat nasional, Hok Seng kembali menyumbangkan emas untuk Sumbar pada ajang PON berikutnya. Namun, cedera pada bahu kiri membuatnya harus absen di PON XV tahun 2000.

Setelah pensiun, kehidupannya jauh dari sorotan publik. Ia sempat menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari membantu pengurusan surat kendaraan di Samsat hingga menjadi pelatih angkat berat.

Selain itu, ia juga aktif dalam organisasi sosial Himpunan Tjinta Teman (HTT) dan kerap terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk membantu proses kremasi jenazah.

Sejak 2010, Hok Seng fokus menjadi pelatih angkat berat dengan penghasilan sederhana. Meski tidak lagi berada di masa kejayaan, ia tetap bangga karena anaknya, Pretty Meri, mengikuti jejaknya sebagai atlet wushu tingkat usia.

Hamdanus berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. “Semoga almarhum H. Munandar Maska diterima segala amal ibadahnya di sisi Allah SWT dan keluarga diberi kekuatan. Untuk Hok Seng, semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,” tutupnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update