Notification

×

Iklan

Rupiah Dekati Rp17.000, Tak Sepenuhnya Cerminkan Ekonomi RI

Jumat, 13 Maret 2026 | 17:47 WIB Last Updated 2026-03-13T10:47:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pergerakan tersebut lebih dipicu oleh reaksi pasar terhadap meningkatnya gejolak global.

Menurutnya, dalam situasi ketidakpastian global, rupiah kerap mengalami fenomena overshooting, yaitu pelemahan yang bergerak melampaui nilai keseimbangannya sebelum akhirnya kembali stabil.

“Dalam situasi guncangan global seperti saat ini—dipengaruhi ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, serta penguatan dolar AS—pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat dibandingkan fundamental ekonomi. Akibatnya, rupiah sering terlihat melemah lebih dulu,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Ia menegaskan, tekanan terhadap rupiah tidak serta-merta menandakan adanya perubahan besar pada fondasi ekonomi nasional.

Sejumlah indikator makro dinilai masih menunjukkan kondisi yang relatif solid, seperti pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, serta stabilitas sektor keuangan yang masih baik.

“Jika dilihat dari indikator dasar ekonomi, fondasi Indonesia masih cukup kuat. Karena itu Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa pergerakan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental domestik,” kata Fakhrul.

Ia menambahkan, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa rupiah kerap mampu kembali menguat setelah mengalami tekanan tajam, terutama ketika faktor eksternal mulai mereda.

“Pasar keuangan sering bergerak terlalu jauh ke satu arah. Dalam beberapa episode sebelumnya, rupiah memang melemah lebih dulu, namun ketika sentimen global mulai stabil dan aliran dolar kembali masuk, penguatannya bisa berlangsung cukup cepat,” jelasnya.

Dalam situasi seperti sekarang, Fakhrul bahkan melihat adanya peluang bagi pelaku pasar untuk memanfaatkan momentum tersebut.

“Jika rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, itu sudah termasuk level yang cukup tinggi secara historis. Dalam kondisi seperti itu, sebagian investor justru bisa mempertimbangkan untuk melepas dolar,” ujarnya.

Selain faktor global, ia menilai langkah pemerintah memperkuat pasokan valuta asing melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Kebijakan tersebut dinilai dapat memperdalam pasar valuta asing domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek.

“Kebijakan DHE penting karena dapat meningkatkan likuiditas valas di dalam negeri. Selama ini tekanan terhadap rupiah sering terjadi ketika pasokan dolar domestik terbatas dan ketergantungan pada arus modal portofolio masih tinggi,” katanya.

Meski begitu, Fakhrul mengingatkan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada satu kebijakan saja. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian—termasuk dinamika kebijakan Amerika Serikat serta potensi eskalasi geopolitik di Timur Tengah—koordinasi kebijakan ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.

“Stabilitas rupiah bukan hanya soal intervensi bank sentral. Hal ini juga berkaitan dengan kredibilitas keseluruhan kerangka kebijakan ekonomi, mulai dari pengelolaan nilai tukar, pengendalian inflasi, hingga disiplin fiskal yang berjalan seimbang,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan adanya potensi risiko tambahan jika tekanan global berlangsung lama dan mulai memengaruhi ekspektasi inflasi domestik maupun stabilitas pasar obligasi.

Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap rupiah bisa menjadi lebih berkepanjangan sehingga memerlukan respons kebijakan yang terkoordinasi.

Meski demikian, Fakhrul menilai selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga dan koordinasi kebijakan berjalan baik, pelemahan rupiah saat ini lebih merupakan fase penyesuaian pasar terhadap dinamika global.

“Secara historis, rupiah memang sering tertekan lebih dulu ketika kondisi global bergejolak. Namun ketika tekanan eksternal mereda dan pasar kembali menilai fundamental ekonomi secara lebih objektif, rupiah biasanya mampu pulih lebih cepat dari yang diperkirakan,” ujarnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update