Notification

×

Iklan

Rumah Warga Padang Pariaman Tertimbun Longsor, Bantuan Tak Kunjung Datang

Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:07 WIB Last Updated 2026-02-28T14:34:48Z

Longsor di Anduriang Padang Pariaman

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com  –  Jasmawati (46), warga Korong Sipisang Sipinang, Nagari Anduriang, Kecamatan 2X11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, hanya bisa menatap lesu tumpukan tanah setinggi lebih dari dua meter yang menelan rumah dan seluruh isinya. 

Meski berusaha ikhlas menghadapi musibah, rasa sedih dan pilu tetap menghantui hari-harinya.

Harapan untuk mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah Padang Pariaman agar tumpukan tanah dapat dibersihkan dan menyelamatkan sebagian harta benda yang tersisa nyatanya tidak pernah terwujud. Sekali pun sempat muncul harapan ketika alat berat tiba di dekat lokasi, semuanya berakhir sia-sia.

“Belum sempat dibersihkan, alat beratnya sudah dibawa pergi. Operatornya bilang waktu pengerjaan habis dan harus dipindahkan ke lokasi lain,” ujar Rengga, tokoh pemuda setempat, menceritakan pengalaman pahit Jasmawati.

Upaya warga untuk meminta agar alat berat membersihkan tanah yang menimbun rumah Jasmawati dan dua kerabatnya tidak dihiraukan. Bahkan ketika Jasmawati memohon bantuan alat berat kembali ke pemerintah daerah, suaranya tetap tidak terdengar.

Hingga kini, tumpukan tanah berwarna cokelat itu masih menggunung, menjadi semacam “kuburan” bagi rumah dan kenangan Jasmawati. Rumah yang menyimpan harapan seorang janda beranak tiga kini hanya tersisa dalam ingatan dan pandangan sanak keluarga.

Kesedihan Jasmawati juga dirasakan Pik Adang (66), kakak yang kini menampungnya. Meski rumahnya masih berdiri, lahan sawah dan ladang yang menjadi tumpuan hidup keluarganya ikut tersapu banjir bandang dan tertimbun material tanah serta kayu besar.

“Rumah kami yang sederhana kini semakin sesak, menampung empat keluarga dengan 15 jiwa. Semua sudah kehilangan penghasilan,” ungkap Pik Adang. Stok pangan dari bantuan bencana pun hampir habis. “Sekarang hanya tersisa beras sekitar 15 liter. Kalau ini habis, kami tidak tahu dari mana lagi,” tambahnya dengan nada getir.

Renawati (56), tetangga Pik Adang, juga merasakan kesulitan yang sama. Rumahnya bersebelahan, dan ia belum menemukan solusi untuk menghidupi empat anaknya yang masih sekolah. Sawah yang dulunya bisa menghasilkan lebih dari 30 karung setiap musim kini hilang tersapu aliran sungai.

Rengga, staf kantor Nagari Anduriang, menyebutkan, lebih dari seratus hektare sawah di Korong Sipisang Sipinang rusak akibat banjir bandang November tahun lalu. Dari 265 KK yang tinggal di wilayah itu, lebih dari 90 persen hidup dari pertanian yang kini porak poranda.

“Kami memahami penderitaan warga, tapi sebagai pekerja di pemerintahan terendah, kami tidak memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah ini. Semua data dan keluhan telah kami sampaikan ke pemerintah daerah, dan kini hanya bisa menunggu,” jelas Rengga.

Kisah Jasmawati dan warga Korong Sipisang Sipinang menjadi cermin pahitnya dampak bencana yang belum sepenuhnya tertangani, sementara keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan terus berjuang untuk bertahan hidup. (da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update