Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Di usia 65 tahun, ketika banyak orang mulai menenangkan langkah hidup, Basril justru harus memacu roda kehidupannya lebih kencang.
Warga Korong Sipisang Sipinang, Nagari Anduriang ini terpaksa beralih profesi menjadi tukang ojek pangkalan, sebuah pekerjaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya. Pilihan ini muncul karena sawah dan ladangnya hancur akibat bencana alam.
Bencana hidrometeorologi yang menerjang Kabupaten Padang Pariaman pada November 2025 lalu bukan hanya menghancurkan lahan Basril, tetapi juga menjadi titik balik dalam kehidupannya. Sawah yang selama puluhan tahun menopang hidup keluarga kini terkubur material banjir bandang dan longsor.
“Sejak kecil, lahan ini adalah sumber hidup saya. Sekarang semuanya hilang. Kalau saya diam saja, bagaimana bisa menghidupi keluarga?” ungkap Basril beberapa hari lalu.
Dulu, setiap musim panen, Basril bisa membawa pulang sekitar 15 karung gabah—cukup untuk memastikan perut istri dan kedua anaknya aman hingga musim panen berikutnya. Selain itu, ia kerap bekerja sebagai buruh tani untuk menambah penghasilan. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan bagi Basril dan warga sekitarnya.
Lahan produktif yang dulu menjadi andalan hidup dan masa depan anak-anaknya kini tertimbun tanah longsor, ditumbuhi semak liar, bahkan sebagian berubah permanen menjadi aliran sungai baru.
“Sekitar 95% warga di kampung ini menggantungkan hidup dari pertanian. Sekarang hampir semuanya hilang,” ujar Basril.
Menjadi tukang ojek merupakan jalan paling cepat untuk tetap bertahan. Meskipun penghasilan dari ojek jauh lebih kecil dibanding hasil panen atau bekerja di lahan warga lain, Basril tak punya pilihan lain. Ia harus memenuhi kebutuhan dapur dan melunasi biaya pendidikan anak-anaknya.
“Apapun akan kami lakukan. Apalagi bulan puasa dan menjelang Lebaran, kebutuhan meningkat. Hasil ojek memang tak banyak, tapi setidaknya ada uang masuk setiap hari untuk menghidupi keluarga,” katanya.
Basril hanyalah satu dari ratusan warga Nagari Anduriang yang terpaksa memutar otak demi bertahan hidup. Untuk memastikan masa depan anak-anak mereka tidak ikut terkubur bersama sawah, banyak yang memilih mencari pekerjaan baru atau merantau ke daerah lain demi meneruskan kehidupan keluarga.(da*)


