Notification

×

Iklan

Mahasiswa UNAND Dorong Pemulihan Ekonomi Batu Busuk Pascabencana

Senin, 23 Februari 2026 | 05:14 WIB Last Updated 2026-02-22T22:14:00Z

Unand Dorong Kemandirian Ekonomi Batu Busuk

Padang, Rakyatterkini.com  – Masyarakat Desa Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan produktivitas dan pendapatan setelah bencana hidrometeorologi dan banjir merusak sebagian lahan pertanian. Ketergantungan pada pertanian berbasis tanah menjadi kendala karena kondisi lahan belum sepenuhnya pulih.

Untuk menjawab tantangan ini, Program Mahasiswa Berdampak 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menghadirkan pendekatan alternatif berbasis inovasi dan potensi lokal. 

Tim yang terdiri dari 54 mahasiswa Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEKTA) Fakultas Pertanian Universitas Andalas, bersama dosen pendamping, menghadirkan solusi praktis bagi masyarakat. 

Program ini dipimpin oleh Ferdhinal Asful, S.P., M.Si., bersama Dr. Yenny Oktavia, S.Pi., M.Si., dan Dr. Afrianingsih Putri, S.P., M.Si., dengan kolaborasi dari GMIT FP UNAND dan UKM Penalaran UNAND melalui tim Lapiak Nagari.

Koordinasi dan Legalitas Usaha

Program dimulai dengan audiensi resmi pada 29 Januari 2026 di Kantor Camat Pauh, menghadirkan pertemuan dengan Defriandi, S.Sos., Lurah Lambung Bukit, untuk memastikan dukungan kelembagaan. Dua mitra utama, yakni KUPS Etnobotani dan KUPS Ekowisata Padang Janiah, dilibatkan dalam implementasi program yang dibagi ke empat RT dengan masing-masing lima anggota aktif, sehingga 20 warga ikut langsung.

Selain penguatan produksi, masyarakat mitra juga difasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk memberikan legalitas usaha dan membuka peluang pengembangan pasar.

Hidroponik: Solusi Pertanian Adaptif

Sebagai alternatif untuk lahan yang rusak, tim memperkenalkan sistem hidroponik tanpa bergantung pada tanah. Setiap instalasi memiliki 53 lubang tanam. Komoditas seperti pakcoy dapat dipasarkan dengan harga Rp10.000 per tiga lubang, dengan masa tanam hingga panen sekitar 35 hari.

Pendampingan meliputi pembibitan, perawatan, panen, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Biaya produksi per lubang yang relatif rendah membuat sistem ini menjadi peluang usaha berkelanjutan. Dukungan perangkat hidroponik disediakan ParagonCorp sebagai bagian dari kolaborasi swasta dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Jengkol: Transformasi Komoditas Lokal menjadi Produk Bernilai Tambah

Potensi lokal jengkol di KUPS Ekowisata Padang Janiah diolah menjadi keripik dan kerupuk jengkol tradisional. Mahasiswa mendampingi seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku, teknik pengeringan dan penggepreakan, hingga pengemasan dan pemasaran. Langkah ini mengubah jengkol dari komoditas mentah menjadi produk agroindustri yang lebih kompetitif.

Sistem Terintegrasi Produksi hingga Pemasaran

Program ini menyiapkan jalur usaha dari hulu ke hilir. Produk hidroponik dan olahan jengkol dipasarkan melalui kanal offline maupun online, didukung media promosi dan sistem pemesanan digital. Monitoring dilakukan sejak sosialisasi awal pada 10 Februari 2026 hingga tahap implementasi berjalan untuk memastikan adaptasi efektif.

Membangun Ketahanan Ekonomi Desa

Program Mahasiswa Berdampak HIMASEKTA FP UNAND membuktikan bahwa pemulihan ekonomi pascabencana tidak hanya memerlukan bantuan material, tetapi juga sistem, pendampingan, dan kolaborasi multipihak. Dari lahan yang terdampak banjir, masyarakat Batu Busuk kini mulai membangun alternatif ekonomi melalui hidroponik dan agroindustri jengkol. Sinergi antara perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, pemerintah kelurahan, kelompok usaha masyarakat, dan sektor swasta menjadi fondasi kemandirian ekonomi desa.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update