Padang, Rakyatterkini.com – Sungai sering menjadi sasaran tuduhan ketika bencana hidrometeorologi melanda. Banjir bandang yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu, misalnya, kerap dikaitkan dengan “kegagalan” sungai menampung air.
Saat curah hujan ekstrem meningkatkan debit air secara drastis, sungai-sungai besar seperti Batang Anai dan Batang Kuranji di Sumatera Barat, Batang Toru di Sumatera Utara, hingga Krueng Meureudu di Aceh dianggap tidak mampu menahan aliran air. Luapan air pun disalahkan sebagai penyebab utama kerusakan infrastruktur dan permukiman.
Namun, pandangan yang menyudutkan sungai ini mendapat bantahan dari para akademisi. Prof. Dian Fiantis, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Andalas (UNAND), mengingatkan masyarakat untuk melihat persoalan ini lebih luas.
Menurutnya, sungai bukanlah sumber utama bencana. Banjir bandang muncul akibat kerusakan bentang alam yang berlangsung lama, diperburuk oleh intervensi manusia yang mengabaikan prinsip ekologi.
"Saat hujan deras, sungai hanya menjadi jalur terakhir bagi air. Masalah muncul ketika daerah tangkapan air di hulu rusak, sungai menyempit, dan alur alaminya terganggu," ujar Prof. Dian, Rabu (21/1/2026), dilansir dari situs UNAND.
Ia mencontohkan longsor di Lembah Anai yang memutus jalan nasional penghubung Kota Padang–Padang Panjang dan menggeser alur Batang Anai. Peristiwa ini mencerminkan ketidakseimbangan ekosistem: sungai kehilangan ruang alaminya untuk menyalurkan air dan sedimen, sehingga banjir tidak terhindarkan.
Dari perspektif geologi, sungai adalah fitur bentang alam tertua di Bumi. Sebelum manusia hadir, sungai telah mengalir, mengikis batuan, dan membentuk daratan. Proses ini berlangsung selama miliaran tahun, beradaptasi dengan perubahan iklim, aktivitas tektonik, vulkanis, dan kehidupan di sekitarnya.
"Sungai baru terbentuk saat kerak benua stabil dan daratan mapan. Sejak itu, sungai membentuk lanskap dan menjadi fondasi ekosistem darat," jelas Prof. Dian.
Masuk era modern, sungai menghadapi tekanan besar. Penebangan hutan hulu, alih fungsi lahan menjadi kawasan komersial, sedimentasi, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan mengurangi kapasitas alaminya. Kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai, terutama plastik dan limbah berbahaya, memperparah kondisi.
"Sungai bukan tempat sampah. Ia adalah nadi kehidupan. Merawat sungai berarti melindungi lingkungan dan masa depan generasi mendatang," tegas Prof. Dian.
Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir. Kesadaran menjaga sungai harus dibangun sejak dini, mencontoh budaya negara maju yang menempatkan sungai sebagai ruang hidup dan beranda peradaban, bukan saluran pembuangan.
Di era Antroposen ini, ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan utama yang memengaruhi geologi dan ekosistem Bumi, tanggung jawab besar ada pada manusia. Sungai akan terus berubah secara alami, tetapi kerusakan akibat perilaku manusia saat ini akan menjadi catatan kelam sejarah bagi generasi mendatang.
"Kita harus berhenti menyalahkan sungai. Bukan sungainya yang gagal, tapi cara kita memperlakukannya yang keliru," pungkas Prof. Dian Fiantis.(da*)


