Notification

×

Iklan

Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG Aman di Aceh

Sabtu, 20 Desember 2025 | 11:33 WIB Last Updated 2025-12-20T04:33:00Z

Pertamina mengoptimalkan distribusi BBM dan LPG 

Jakarta, Rakyatterkini.com — PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di Provinsi Aceh pada prinsipnya berada dalam kondisi aman. 

Meski distribusi energi sempat terdampak banjir dan longsor di sejumlah daerah, berbagai hambatan di lapangan terus ditangani melalui kerja sama tim terpadu.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi AS, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten/kota terdampak, BNPB, BPBD, TNI–Polri, aparat penegak hukum, tenaga kesehatan, relawan, komunitas, insan pers, serta masyarakat yang bahu-membahu dalam penanganan bencana.

Ia juga memberikan penghormatan kepada para petugas yang tetap menjalankan tugas di tengah keterbatasan akses dan cuaca ekstrem. Menurutnya, bencana yang terjadi bukan sekadar catatan angka, melainkan menyangkut kehidupan, keluarga, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga keselamatan menjadi prioritas utama.

“Keselamatan adalah hal yang paling utama bagi kami. Kami menaruh hormat setinggi-tingginya kepada seluruh petugas di lapangan yang bekerja dalam kondisi sulit,” ujar Fahrougi saat konferensi pers di Pusat Informasi dan Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI di Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).

Fahrougi menjelaskan, banjir dan longsor berdampak pada jalur distribusi energi di 16 kabupaten/kota di Aceh. Tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah keterbatasan stok, melainkan terputusnya akses distribusi akibat kerusakan jalan dan jembatan.

Dari total 156 SPBU yang beroperasi di Aceh, sebanyak 15 SPBU atau sekitar 10 persen mengalami gangguan. Selain itu, 13 dari 133 agen LPG turut terdampak. Kendati demikian, seluruh Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) tetap beroperasi normal sehingga suplai dasar LPG tetap terjaga.

Saat ini, ketersediaan energi di Aceh tercatat sekitar 844 kiloliter (KL) gasoline, 633 KL gasoil atau solar, serta 319 metrik ton (MT) LPG. Pertamina melakukan pemantauan intensif, menyiapkan suplai alternatif, serta mengatur prioritas distribusi ke wilayah terdampak.

Untuk menjaga kelancaran pasokan, Pertamina mengoptimalkan berbagai moda transportasi. Melalui jalur udara, penyaluran BBM ke daerah terisolasi seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah dilakukan menggunakan Air Tractor sejak 13 Desember 2025, dengan total distribusi mencapai 22.000 liter yang terdiri dari 14.000 liter Biosolar dan 8.000 liter Pertalite.

Selain itu, bersama pemerintah daerah, Pertamina menggelar operasi pasar LPG 3 kilogram di puluhan titik di Banda Aceh dan Aceh Besar selama periode 6–18 Desember 2025. Sebanyak sekitar 20.720 tabung LPG disalurkan guna menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menstabilkan harga di tingkat masyarakat.

Dari jalur laut, Pertamina juga mengalihkan distribusi LPG menggunakan kapal Ro-Ro dan armada logistik yang mengangkut 25 skid tank dengan total kapasitas sekitar 375 ton LPG. Langkah ini dilakukan untuk menjamin pasokan di Banda Aceh dan sekitarnya setelah jalur darat Lhokseumawe–Banda Aceh terputus.

Sementara itu, distribusi melalui jalur darat mulai berangsur normal setelah Jembatan Teupin Mane di Kabupaten Bireuen kembali dapat dilalui. Mobil tangki kembali melayani rute Bireuen–Bener Meriah–Takengon, didukung penguatan armada, awak mobil tangki, serta pengamanan di titik-titik layanan prioritas.

“Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB dan BPBD, serta TNI–Polri guna memastikan pengamanan SPBU, kelancaran operasi pasar, dan distribusi energi yang aman serta tertib,” tambah Fahrougi.

Dari sisi kemanusiaan, Pertamina Peduli juga terlibat langsung sebagai relawan dan menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, sejalan dengan arahan Kementerian ESDM serta sinergi bersama berbagai pemangku kepentingan.

Pertamina pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. “Permasalahan utama terletak pada akses distribusi, bukan pada ketersediaan stok. Penyaluran energi terus berjalan dan diperkuat secara bertahap agar pasokan dapat merata,” tutup Fahrougi. (da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update