Notification

×

Iklan

Anak Mulai Menjauh? Orang Tua Perlu Waspada

Rabu, 23 Juli 2025 | 20:44 WIB Last Updated 2025-07-23T13:44:00Z

Guru menyampaikan materi pembelajaran menggunakan smart board 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang dapat menjadi sinyal awal keterlibatan dalam tindak kriminal. Salah satu indikasi yang patut diwaspadai adalah ketika anak mulai menjauh dari lingkungan keluarga dan lebih sering bergaul dengan kelompok yang berpotensi memberi pengaruh negatif.

“Biasanya yang paling terlihat adalah berkurangnya waktu kebersamaan dan komunikasi yang hangat antara anak dan orang tua,” ujar Novi saat ditemui di Jakarta, Selasa (22/7).

Novi menjelaskan bahwa anak-anak yang rentan terlibat dalam perilaku menyimpang umumnya kesulitan membangun aktivitas positif secara konsisten. Hal ini kerap dipicu oleh peningkatan kadar hormon stres atau kortisol, yang dapat mengganggu kerja prefrontal cortex—bagian otak yang bertanggung jawab atas kemampuan berpikir logis dan mengambil keputusan.

Lebih lanjut, Novi mengungkapkan bahwa kecenderungan untuk bertindak agresif biasanya berasal dari aktifnya bagian otak yang disebut otak reptil, khususnya amigdala. Ketika menghadapi tekanan atau situasi mengancam, anak bisa bereaksi secara impulsif dengan melawan, diam membeku, atau melarikan diri.

“Dalam kondisi emosional tinggi atau saat berada di bawah tekanan, anak-anak seringkali bertindak berdasarkan dorongan naluriah, bukan dengan pertimbangan rasional,” jelasnya.

Ia mencontohkan fenomena tawuran pelajar, di mana sebagian besar remaja sebenarnya menyadari bahwa tindakan tersebut salah, namun karena kemampuan menalar mereka sedang terganggu, mereka gagal mempertimbangkan risiko dan akibat dari perbuatan mereka.

Untuk membantu anak keluar dari perilaku menyimpang, Novi menyarankan agar mereka dilibatkan dalam kegiatan fisik yang teratur, seperti olahraga. Aktivitas fisik dapat menjadi sarana pelepasan stres dan tekanan emosional.

“Dengan melibatkan anak dalam kegiatan fisik maupun sosial yang positif, kemudian diimbangi dengan komunikasi yang terbuka bersama keluarga, mereka dapat belajar menyalurkan emosinya secara lebih sehat,” ungkapnya.

Menurut Novi, komunikasi yang rutin dan penuh empati di dalam keluarga memiliki peran penting dalam membentuk ketahanan emosi anak. Upaya ini dapat memperkuat kemampuan anak dalam menghadapi tekanan dengan logika, bukan sekadar reaksi emosional.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update