Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Senin 7 November 2022 20:00 WIB


Positif Aktif Sembuh Meninggal
104.644 209 102.063 2.372
sumber: corona.sumbarprov.go.id

Perjuangan Sylvia Plath dengan Penyakit Mentalnya

Selasa, 11 Oktober 2022 | 17:45 WIB Last Updated 2022-10-11T10:45:34Z

Sylvia Plath | Penrodas Collection.

Oleh: Ayu Mardiana


RAKYATTERKINI.COM - Depresi berat, percobaan bunuh diri dan berakhir dengan mengakhiri hidupnya sendiri merupakan jalan kehidupan penyair muda terkenal bernama Sylvia Plath. 


Dia merupakan seorang penyair muda berbakat asal Amerika kelahiran 27 Oktober 1932. Meskipun dikenal sebagai orang yang berbakat, ternyata selama hidupnya Plath mengalami depresi berat sejak kuliah, bahkan sampai ia menikah, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Plath dikenal dengan keunggulannya secara akademik dan bahkan dia mulai bekerja sebagai editor tamu di majalah Mademoiselle di New York pada tahun 1953. Pada tahun yang sama, Plath ditolak izin penerimaannya dalam sebuah seminar kepenulisan dari Universitas Harvard. 


Penolakan inilah yang menyebabkannya pulang ke rumah dan mengalami kekalutan mental, hingga melakukan upaya bunuh diri dengan meminum empat puluh pil tidur milik ibunya.

 

Setelah melakukan percobaan bunuh diri, Plath dirawat di rumah sakit, dan menjalani terapi elektrokonvulsif. Setelah penyembuhan, ia menyelesaikan gelarnya dan mendapat beasiswa dari Fullbright Fellowship untuk belajar di Universitas Cambridge Inggris. Pada Februari 1956, Plath bertemu dengan suamianya yang juga merupakan seorang penyair, Ted Hughes. 

 

Pernikahan mereka ternyata tidak berakhir dengan bahagia. Tahun 1962 dan 1963 merupakan tahun terberat bagi Plath. Dia ditinggalkan dengan dua anak sendirian, dan sang suami menceraikannya karena memilih seseorang yang lain. 


Plath menganggap kesetiaan butanya sendiri adalah kebodohan, dalam Jurnal Sylvi Plath, ia mengatakan, “betapa bodohnya mencintai dengan tulus. Bukan untuk menipu. Untuk dua kali” (2000, p.391). Plath juga menegaskan dan mengaku bahwa dia membenci semua pria dengan mengatakan, "saya membenci pria karena mereka tidak setia dan tidak mencintai saya seperti seorang ayah." (2000, p. 431).


Depresi terberatnya dimulai enam bulan sebelum kematiannya. Dia merasakan kecemasan yang berlebihan, pikiran untuk bunuh diri terus muncul, bahkan dia merasa tidak bisa melakukan tugas yang sederhana sekalipun. 


Dia mengungkapkan kesulitannya dalam menulis pada jurnal yang ia buat, "ketika saya mengambil pena saya, tangan saya membuat huruf-huruf besar dan tersentak seperti anak-anak, dan garis-garisnya menuruni halaman dari kiri untuk menulis secara diagonal, seolah-olah itu adalah lingkaran tali yang tergeletak di atas kertas, dan seseorang datang dan meniupnya miring." (2000, p.130)


Saat Plath ingin menulis, dia kesulitan berkonsentrasi. Dia menjelaskan kurangnya penjurnalan dengan mengatakan "Saya belum memiliki satu pemikiran koheren yang layak untuk diletakkan." (2000, 33). Depresi berat itu membuat Plath putus asa bahkan memohon pada dirinya sendiri, "tolong, pikirkan - hentikan ini."  (2000, p. 187). 


Lalu pada 11 Februari 1963, saat usianya 30 tahun, Plath ditemukan tewas setelah menghirup gas dari oven di rumahnya. Kehidupan yang dialami Plath terlalu berat dan ia merasa tidak sanggup, sehingga memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Setelah meninggal, mantan suaminya membaca karya yang dibuat oleh Plath dan Hughes menjadi editor lalu membantu untuk menerbitkan karya dari mantan istrinya itu. 


Antologi puisi Plath yang berjudul The Colossus and Other Poems dan Ariel memenangkan penghargaan Pulitzer untuk puisi pada tahun 1982 secara anumerta, dan menjadikan dia orang pertama yang memenangkan penghargaan ini secara anumerta. (penulis mahasiswi Sastra Inggris, Universitas Andalas)



IKLAN



×
Berita Terbaru Update