Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Info Covid-19 Sumatera Barat

Update Selasa, 14 September 2021 20:00 WIB


Positif Dirawat Sembuh Meninggal
88.400 2.552 83.778 2.070
sumber: corona.sumbarprov.go.id

WALHI: Ilegal Logging, Galian C dan Tambang Batubara Penyebab Banjir di Rahul

Selasa, 30 Maret 2021 | 12:39 WIB Last Updated 2021-03-30T05:39:00Z
Banjir merendam rumah warga di Rahul dan Tapan, Pesisir Selatan.


Painan, Rakyatterkini.com - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat menyoroti alih fungsi hutan, sebab tambang batubara juga menjadi pemicu tingginya banjir di Ranah Ampek Hulu (Rahul) dan Basa Ampek Balai (BAB) Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan.


Kalau dilihat dari kondisi kekinian, bukan hanya illegal logging saja yang menjadi faktornya. Tapi, juga andil tambang batubara yang beroperasi di sana, ujar Kepala Advokasi dan Kampanye WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam pada Rakyatterkini.com.


Berdasarkan data Walhi Sumbar, DAS Batang Tapan merupakan bagian kecil dari 200 ribu hektare DAS Inderapura. Sebagai sub DAS, saat ini hutan di hulu DAS telah dialih fungsi untuk areal usaha penambangan batu bara dan memicu lajunya erosi.


Bahkan selain batu bara aktivitas penambangan galian C juga memicu terjadi erosi. Setidak khusus tambang batubara. Walhi mencatat ada sebanyak 2 tambang batubara dengan luas lahan dari 100 sampai 200 hektare di DAS hulu Tapan dengan beroperasi sejak 2018 lalu.


Selain alih fungsi hutan, tambang galian C juga memicu terjadi erosi. Sebab, aktivitas galian C di Tapan terpantau banyak yang beroperasi di dekat sekitar hulu DAS dan mengakibatkan pendangkalan.


"Itu yang sebenarnya luput dari pemerintah. Karena kebiasaan kita sering menyebutkan hujan penyebab faktor banjir. Karena kita tidak serius melihat penyebabnya," terangnya.


Menurut Tommy Adam, mengatasi persoalan banjir di daerah itu Pemkab harus kembali mengkaji seluruh aspek untuk melakukan penanganan. Tidak soal pencegahan deforestasi saja, namun juga ahli fungsi hutan karena tambang.


Meski sudah memiliki izin resmi. Namun, tetap ada pengawasan dari pemerintah. Sebab, pemerintah punya hak untuk mengawasinya, hingga menangguhkan izinnya dan mencabut jika melanggar.


Berdasarkan data diterima Rakyatterkini.com, banjir melanda Kecamatan Rahul Tapan, Minggu 28 Maret 2021 malam dengan ketinggian air mencapai 80 cm hingga 1,5 meter. Selain Rahul, banjir juga terjadi Kecamatan Basa Ampek Balai (BAB) Tapan.


Berdasarkan data BPBD Pessel, banjir terparah terjadi di Rahul Tapan. Tercatat di Rahul Tapan merendam sebanyak empat nagari dan 901 rumah dengan total 3789 jiwa dan merendam 60 hektar lahan pertanian serta 44 lahan perkebunan warga. Sedangkan, di Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, tercatat sebanyak enam nagari dengan total 230 kepala keluarga (KK) tanpa catatan lain.


Penyebab bencana ini kuat dugaan akibat adanya aktivitas penebangan liar (illegal logging), terutama di Hutan TNKS yang sampai saat ini masih saya terima banyak terjadi,ungkap Marwan Anas, anggota DPRD Pessel periode (2014-2019).


Menurutnya, saat ini untuk penanganan penebangan hutan harus dengan ketegasan. Sebab, illegal logging umumnya dilakukan oleh oknum pemilik modal yang hanya memperkaya diri sendiri.


Jadi harus ada ketegasan. Jangan, hanya tutup mata. Karena ini harus dicegah. (baron)




×
Berita Terbaru Update