Notification

×

Iklan

Sumur Kuno Berusia 1.000 Tahun Ditemukan di Jombang

Kamis, 05 November 2026 | 12:49 WIB Last Updated 2026-11-05T05:49:00Z

Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur meneliti sumur kuno 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Sebuah sumur kuno yang diperkirakan telah berusia sekitar 1.000 tahun ditemukan di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 

Temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mengungkap kehidupan masyarakat pada masa kerajaan di Nusantara.

Para arkeolog memperkirakan sumur tersebut memiliki keterkaitan dengan kawasan permukiman kalangan elite pada masa Kerajaan Medang yang berkembang sekitar abad ke-10 Masehi.

Penemuan benda bersejarah ini bermula ketika seorang pekerja melakukan penggalian tanah untuk pembangunan septic tank di depan sebuah rumah yang tengah dibangun. Saat menggali hingga kedalaman kurang lebih 1,5 meter, pekerja tersebut menemukan benda yang semula diduga sebagai pecahan gerabah peninggalan masa lalu.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, benda itu ternyata merupakan bagian dari struktur yang dikenal dengan istilah jobong. Material tersebut berupa tanah liat yang dibakar dan dimanfaatkan sebagai penyusun dinding atau tepian sumur pada zaman dahulu.

Menindaklanjuti penemuan tersebut, tim arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan upaya penyelamatan. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat empat susunan jobong yang saling bertumpuk dari bagian atas hingga dasar sumur.

Arkeolog BPK Jawa Timur, Indra Eka Widyajaya, menerangkan bahwa jobong merupakan salah satu artefak yang lazim ditemukan pada struktur sumur kuno. Istilah tersebut juga dikenal dengan sebutan perigi, meskipun masyarakat di Jawa Timur lebih umum menyebutnya jobong.

"Penemuan ini merupakan sebuah artefak, disebut juga Jobong mungkin ada juga yang menyebutnya dengan perigi tapi umumnya di Jawa Timur itu disebut Jobong, yaitu dinding sumur," ungkap Indra, Selasa (3/11/2026).

Upaya mengangkat struktur kuno tersebut menghadapi sejumlah kendala lantaran kondisinya sudah rapuh akibat usia. Dua bagian teratas mengalami keretakan dan pecah saat tanah di sekelilingnya dibuka. Kerusakan juga terjadi pada lapisan ketiga, tetapi beberapa pecahan berukuran besar masih dapat diselamatkan untuk bahan penelitian.

Adapun bagian keempat yang terletak paling bawah belum dievakuasi. Tim memutuskan mempertahankannya di tempat semula karena kondisi material dikhawatirkan semakin rusak apabila dipaksakan untuk diangkat.

Dalam proses pemeriksaan, petugas juga menemukan sejumlah pecahan bata merah kuno di bagian dalam sumur. Material tersebut memiliki ukuran yang hampir serupa dengan bata yang digunakan dalam pembangunan Candi Pandegong, yang lokasinya diperkirakan berjarak sekitar satu kilometer dari titik penemuan.

Kemiripan bahan bangunan tersebut menjadi salah satu dasar bagi para arkeolog untuk mengkaji kemungkinan hubungan antara sumur kuno dengan kawasan Candi Pandegong. 

Dugaan sementara mengarah pada keberadaan kompleks permukiman kalangan elite yang berkembang pada periode Kerajaan Medang, tepatnya pada masa pemerintahan Mpu Sindok.

Meski demikian, dugaan mengenai usia sumur maupun fungsinya sebagai bagian dari kawasan permukiman elite masih harus dibuktikan melalui penelitian arkeologi lebih mendalam. Sejumlah pecahan jobong yang berhasil diselamatkan kini disiapkan sebagai sampel untuk kepentingan kajian dan pelestarian.

Keberadaan sumur kuno ini menambah daftar bukti sejarah mengenai aktivitas kehidupan masyarakat pada masa lampau di wilayah Mojowarno, Kabupaten Jombang. 

Melalui penelitian lanjutan, diharapkan asal-usul, fungsi, serta hubungan struktur tersebut dengan perkembangan permukiman pada era Kerajaan Medang dapat terungkap secara lebih jelas.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update